{"id":158275,"date":"2026-01-26T00:06:18","date_gmt":"2026-01-25T17:06:18","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=158275"},"modified":"2026-01-26T00:06:18","modified_gmt":"2026-01-25T17:06:18","slug":"dinilai-tak-punya-empati-di-tengah-bencana-publik-desak-ketua-bra-dicopot","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/01\/26\/dinilai-tak-punya-empati-di-tengah-bencana-publik-desak-ketua-bra-dicopot\/","title":{"rendered":"Dinilai Tak Punya Empati di Tengah Bencana, Publik Desak Ketua BRA Dicopot"},"content":{"rendered":"<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\"><strong>Banda Aceh, Infoaceh.net \u2014<\/strong> Gelombang kritik terhadap Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Jamaluddin kian menguat. Publik dan kelompok masyarakat sipil mendesak agar Jamaluddin dicopot dari jabatannya menyusul pengalokasian anggaran Rp20 miliar untuk rencana pengadaan mobil dinas di tengah kondisi Aceh pascabencana banjir bandang dan longsor di sejumlah daerah.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Kebijakan tersebut dinilai tidak memiliki empati serta mencederai rasa keadilan publik, terutama ketika ribuan warga Aceh masih hidup dalam kondisi darurat, kehilangan tempat tinggal, kesulitan akses air bersih, layanan kesehatan dan menghadapi trauma pascabencana.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Koordinator Aceh Policy &amp; Integrity Center (APIC), Laksamana, menegaskan rencana pengadaan mobil dinas bernilai fantastis itu menunjukkan kegagalan kepemimpinan di tubuh BRA, sebuah lembaga yang seharusnya mengemban mandat sosial dan kemanusiaan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cDi saat masyarakat Aceh masih berjuang memulihkan diri dari bencana dan tekanan ekonomi, BRA justru memprioritaskan anggaran Rp20 miliar untuk mobil dinas. Ini bukan sekadar kebijakan yang keliru, tetapi mencerminkan absennya empati dan kepekaan sosial pimpinan lembaga,\u201d kata Laksamana, Ahad (25\/1\/2026).<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">APIC secara terbuka menyatakan bahwa tanggung jawab atas kebijakan tersebut berada di tangan Ketua BRA.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Menurut mereka, Jamaluddin tidak layak memimpin lembaga yang lahir dari semangat perdamaian dan reintegrasi sosial apabila orientasi kebijakannya tidak berpihak kepada rakyat.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cAnggaran sebesar itu seharusnya dialihkan untuk program pemulihan korban konflik, bantuan masyarakat terdampak bencana, serta penguatan ekonomi warga. Jika tidak, maka kepemimpinan Ketua BRA patut dievaluasi dan dicopot,\u201d tegasnya.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Selain mendesak pencopotan Ketua BRA, APIC juga meminta aparat penegak hukum untuk menelusuri proses penganggaran dan rencana pengadaan mobil dinas tersebut.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Penelusuran dinilai penting untuk memastikan tidak adanya penyalahgunaan wewenang, pelanggaran administrasi, maupun potensi pemborosan keuangan publik.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cKebijakan ini harus diuji secara terbuka, baik secara administratif, etik, maupun hukum. Anggaran publik tidak boleh digunakan tanpa pertanggungjawaban yang jelas kepada masyarakat,\u201d lanjut Laksamana.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Kritik serupa juga datang dari Perhimpunan Rakyat Merdeka (PRM). Organisasi ini menilai rencana pengadaan mobil dinas BRA sebagai simbol krisis empati birokrasi di tengah krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Aceh.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Juru Bicara PRM, Rifqi Maulana, yang juga Presiden Mahasiswa Universitas Iskandar Muda, menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk distorsi prioritas anggaran dan kegagalan negara membaca kebutuhan paling mendesak rakyatnya.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cNegara seharusnya hadir sebagai tangan yang memulihkan, bukan sebagai simbol kenyamanan elit. Setiap rupiah yang digunakan untuk mobil dinas di tengah bencana adalah rupiah yang seharusnya bisa menyelamatkan korban bencana,\u201d ujar Rifqi, Sabtu (24\/1\/2026).<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Menurut PRM, pengadaan mobil dinas bukan sekadar persoalan administratif, melainkan cerminan cara pandang birokrasi yang semakin menjauh dari realitas sosial masyarakat.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Dalam situasi darurat ekologis dan kemanusiaan, belanja negara semestinya tunduk pada kebutuhan paling mendesak, bukan pada rutinitas anggaran yang bersifat simbolik dan elitis.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">BRA sebagai lembaga yang lahir dari proses panjang perdamaian Aceh, dinilai seharusnya berada di garda terdepan dalam membela kepentingan rakyat dan menjaga kepercayaan publik.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Namun, rencana pengadaan mobil dinas tersebut justru dinilai berpotensi merusak legitimasi moral lembaga di mata masyarakat.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">PRM mendesak agar rencana pengadaan mobil dinas BRA segera dibatalkan dan seluruh dokumen anggaran dibuka secara transparan kepada publik.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Audit terbuka terhadap prioritas belanja BRA juga dinilai penting untuk memastikan lembaga tersebut tetap berjalan sesuai mandat sosialnya.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cBencana bukan hanya soal alam, tetapi juga soal tata kelola. Ketika negara lebih memilih mobil dinas ketimbang pemulihan korban, yang runtuh bukan hanya rumah dan jalan, tetapi juga kepercayaan publik,\u201d pungkas Rifqi.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Baik APIC maupun PRM menegaskan akan terus mengawal kebijakan anggaran lembaga-lembaga pemerintah di Aceh agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat, khususnya dalam situasi krisis yang menuntut empati, keberanian moral, dan kepekaan sosial dari para pengambil kebijakan.<\/span>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/158275?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh, Infoaceh.net \u2014 Gelombang kritik terhadap Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Jamaluddin kian menguat. Publik dan kelompok masyarakat sipil mendesak agar Jamaluddin dicopot dari jabatannya menyusul pengalokasian anggaran Rp20 miliar untuk rencana pengadaan mobil dinas di tengah kondisi Aceh pascabencana banjir bandang dan longsor di sejumlah daerah. Kebijakan tersebut dinilai tidak memiliki empati serta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":158276,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-158275","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/01\/1769359749270.png?fit=537%2C285&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/158275","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=158275"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/158275\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/158276"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=158275"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=158275"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=158275"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}