{"id":163028,"date":"2026-04-05T20:04:18","date_gmt":"2026-04-05T13:04:18","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=163028"},"modified":"2026-04-05T20:04:18","modified_gmt":"2026-04-05T13:04:18","slug":"hujan-es-sebesar-kelereng-landa-aceh-tengah-kebun-kopi-warga-rusak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/04\/05\/hujan-es-sebesar-kelereng-landa-aceh-tengah-kebun-kopi-warga-rusak\/","title":{"rendered":"Hujan Es Sebesar Kelereng Landa Aceh Tengah, Kebun Kopi Warga Rusak"},"content":{"rendered":"<p><strong>ACEH TENGAH, Infoaceh.net \u2014<\/strong> Fenomena cuaca ekstrem kembali melanda wilayah dataran tinggi Aceh Tengah. Hujan es disertai angin kencang dilaporkan mengguyur sejumlah kampung pada Sabtu (4\/4\/2026) sore, menyebabkan kerusakan serius terutama pada sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.<\/p>\n<p>Sejumlah kampung terdampak tersebar di beberapa kecamatan, dengan kerusakan terparah dilaporkan terjadi di Kampung Bukit Sari, Kecamatan Jagong Jeget, serta Kampung Merah Muyang di Kecamatan Atu Lintang.<\/p>\n<p>Camat Atu Lintang, Malikussaleh, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut hujan es melanda beberapa kampung sekaligus dalam waktu singkat.<\/p>\n<p>\u201cBenar, sore ini hujan es turun. Berdasarkan laporan dari reje kampung, hujan es melanda Kampung Gayo Murni, Merah Muyang, Damar Mulyo, Kepala Akal, dan Kampung Atu Lintang,\u201d ujarnya, Ahad (5\/4).<\/p>\n<p>Menurutnya, hujan es tidak hanya turun dengan intensitas tinggi, tetapi juga disertai angin kencang yang memperparah dampak kerusakan.<\/p>\n<p>Tanaman pertanian, khususnya kopi dan hortikultura, menjadi sektor paling terdampak.<\/p>\n<p>\u201cSelain tanaman, ada juga laporan rumah warga yang mengalami kerusakan, namun data detailnya masih dalam proses pendataan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Pihak kecamatan, kata Malikussaleh, akan segera berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk langkah penanganan lebih lanjut.<\/p>\n<p>Sementara warga Kampung Merah Muyang, Didi Tata, mengungkapkan bahwa hujan es yang turun memiliki ukuran tidak biasa.<\/p>\n<p>\u201cYang paling parah di kampung kami dan Bukit Sari. Butiran esnya besar-besar, bahkan ada yang seukuran kelereng,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, sebelum kejadian, kondisi cuaca terlihat tidak normal. Langit mendung pekat, disertai kilatan petir dan tiupan angin kencang, sebelum akhirnya hujan es turun sekitar pukul 17.00 WIB.<\/p>\n<p>Dampak terbesar dirasakan oleh petani kopi. Didi menyebut, hujan es menyebabkan kerusakan serius pada tanaman, mulai dari daun, bunga, hingga buah kopi yang masih muda.<\/p>\n<p>\u201cBunga yang hampir mekar rontok, begitu juga buah-buah kecil hasil pembungaan sebelumnya. Banyak yang jatuh akibat hantaman es,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi petani, mengingat sebagian besar warga di wilayah tersebut menggantungkan hidup pada hasil pertanian, khususnya kopi.<\/p>\n<p>\u201cHujan es ini seperti momok bagi kami. Bukan hanya kopi, tanaman palawija juga bisa rusak. Kalau tanaman stres, hasil panen pasti menurun,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Warga pun berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan solusi, mengingat potensi kerugian ekonomi yang cukup besar akibat kejadian ini.<\/p>\n<p>\u201cSemoga ke depan tidak terulang lagi, supaya hasil pertanian kami tetap terjaga, baik kualitas maupun jumlahnya,\u201d tutup Didi.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/163028?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fenomena cuaca ekstrem kembali melanda wilayah dataran tinggi Aceh Tengah dengan hantaman hujan es<\/p>\n","protected":false},"author":400002,"featured_media":163029,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[6204,58297,58295,58296,58298,3146],"class_list":["post-163028","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh","tag-aceh-tengah","tag-atu-lintang","tag-fenomena-cuaca-ekstrem","tag-hujan-es","tag-kebun-kopi-warga-rusak","tag-utama"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/04\/20260405_195826.jpg?fit=1704%2C734&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/163028","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/400002"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=163028"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/163028\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/163029"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=163028"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=163028"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=163028"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}