{"id":16500,"date":"2021-02-14T05:04:30","date_gmt":"2021-02-13T22:04:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=16500"},"modified":"2021-05-29T21:07:01","modified_gmt":"2021-05-29T14:07:01","slug":"cinta-dalam-secangkir-sanger-antologi-cerpen-berlatar-konflik-aceh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2021\/02\/14\/cinta-dalam-secangkir-sanger-antologi-cerpen-berlatar-konflik-aceh\/","title":{"rendered":"\u2018Cinta Dalam Secangkir Sanger\u2019 Antologi Cerpen Berlatar Konflik Aceh"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh<\/strong> \u2013 Penulis sekaligus wartawan Aceh Ayi Jufridar, menerbitkan buku kumpulan cerita pendek (Cerpen) berjudul \u201cCinta Dalam Secangkir Sanger\u201d yang berisi 25 Cerpen berlatar konflik Aceh.<\/p>\n<p>Ayi Jufridar dalam keterangannya, Sabtu, 13 Februari 2021, mengatakan \u201cCinta Dalam Secangkir Sanger\u201d merupakan judul salah satu Cerpen dalam buku tersebut.<\/p>\n<p>Cerpen itu berkisah tentang perjuangan seorang pemuda eks gerilyawan kembali mengangkat senjata untuk melawan mantan kawan seperjuangan yang menjadi penguasa korup.<\/p>\n<p>Perjalanan hidup pemuda tersebut, termasuk kehidupan asmaranya dengan seorang perempuan, diibaratkan seperti rasa sanger yang manis dengan sedikit pahit di ujungnya.<\/p>\n<p>Rasa sanger seolah mewakili perjalanan hidup pasangan itu yang bisa saja berakhir duka atau bahagia.<\/p>\n<p>Kisah-kisah lain dalam buku ini juga sangat dekat dengan kondisi di Aceh selama atau pasca-konflik bersenjata, baik menyangkut isu politik, ekonomi, sosial, budaya, dan perasaan terdalam anak manusia.<\/p>\n<p>Meski menemukan relevansi konflik tersebut dengan kejadian di Aceh, hampir tidak ada sebutan Aceh di dalam buku fiksi ini.<\/p>\n<p>\u201cKonflik di Aceh bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Saya tidak mengangkat sisi geografisnya, tetapi lebih menekankan aspek kemanusiaan yang relevan dengan negara mana pun di belahan bumi ini,\u201d kata Ayi Jufridar yang juga seorang dosen non-PNS di Univesitas Malikussaleh.<\/p>\n<p>Antologi Cerpen \u201cCinta Dalam Secangkir Sanger\u201d diterbitkan Prabu Dua Satu, Kota Wisata Batu, Malang. Cerpen-Cerpen dalam antologi ini, ada yang sudah pernah diterbitkan media cetak dan elektronik di Aceh dan nasional, serta beberapa verpen lainnya belum pernah terbit di mana pun.<\/p>\n<p>Bagi Ayi Jufridar, ini buku fiksi kelimanya setelah Alon Buluek (Grasindo, 2005), Kabut Perang (Universal Nikko, 2010), Putroe Neng (Grasindo, 2011), dan 693 Km Jejak Gerilya Sudirman (Noura Publishing, 2015).<\/p>\n<p>Sastrawan Kurnia Effendi menyebut buku ini menyodorkan konflik tanpa adegan fisik di depan mata. Karakter dalam buku tersebut dinilai Kurnia Effendi, \u201cbangkit dalam alur progresif dan drama yang memeras perasaan bukan dengan cara provokatif.\u201d<\/p>\n<p>Rektor Universitas Malikussaleh, Dr. Herman Fithra menilai Aceh merupakan samudra inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk sastra.<\/p>\n<p>\u201cBahkan dalam secangkir sanger pun mengandung banyak kisah manis dan pahit yang bisa terjadi di mana saja di belahan bumi ini,\u201d kata Herman dalam endorsement buku tersebut. (IA)<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/16500?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh \u2013 Penulis sekaligus wartawan Aceh Ayi Jufridar, menerbitkan buku kumpulan cerita pendek (Cerpen) berjudul \u201cCinta Dalam Secangkir Sanger\u201d yang berisi 25 Cerpen berlatar konflik Aceh. Ayi Jufridar dalam keterangannya, Sabtu, 13 Februari 2021, mengatakan \u201cCinta Dalam Secangkir Sanger\u201d merupakan judul salah satu Cerpen dalam buku tersebut. Cerpen itu berkisah tentang perjuangan seorang pemuda [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":16501,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-16500","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2021\/02\/IMG-20210214-WA0000.jpg?fit=711%2C431&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/16500","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=16500"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/16500\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/16501"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=16500"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=16500"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=16500"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}