{"id":165279,"date":"2026-05-11T16:01:02","date_gmt":"2026-05-11T09:01:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=165279"},"modified":"2026-05-11T16:01:02","modified_gmt":"2026-05-11T09:01:02","slug":"hendri-sukses-sulap-lahan-tidur-jadi-kebun-buah-naga-produktif-di-sabang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/05\/11\/hendri-sukses-sulap-lahan-tidur-jadi-kebun-buah-naga-produktif-di-sabang\/","title":{"rendered":"Hendri Sukses Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Buah Naga Produktif di Sabang"},"content":{"rendered":"<p><strong>Sabang, Infoaceh.net \u2013<\/strong> Di tengah terbatasnya lahan produktif dan tantangan ekonomi masyarakat, kisah Hendri (60), warga Gampong Ie Meulee, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas dan ketekunan mampu mengubah lahan kosong menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.<\/p>\n<p>Bersama sang istri, Lisa Umami (50), Hendri berhasil menyulap lahan tidur di samping rumah mereka menjadi kebun buah naga yang kini mulai dikenal masyarakat Sabang.<\/p>\n<p>Tidak hanya menjadi sumber ekonomi keluarga, kebun itu bahkan menarik perhatian Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Usman atau akrab disapa Kak Na.<\/p>\n<p>Kunjungan Kak Na ke kebun buah naga tersebut berlangsung pada Ahad (10\/5\/2026).<\/p>\n<p>Dalam kesempatan itu, istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem tersebut ikut memanen langsung buah naga bersama Ketua TP PKK Kota Sabang, Nuri Zulkifli.<\/p>\n<p>Di bawah terik matahari Sabang, Kak Na tampak antusias menyusuri kebun yang dipenuhi deretan tanaman buah naga. Sesekali ia berbincang dengan pemilik kebun tentang proses budidaya hingga tantangan yang dihadapi.<\/p>\n<p>Begitu mencicipi buah naga segar hasil petikan langsung dari pohon, Kak Na spontan melontarkan komentar khas Aceh yang mengundang senyum warga sekitar.<\/p>\n<p>\u201cBuah Naga Sabang, meucrop barang!\u201d ucap Kak Na usai menikmati gigitan pertama buah naga yang baru saja dipanen.<\/p>\n<p>Ungkapan meucrop dalam bahasa prokem Aceh kerap digunakan untuk menggambarkan rasa makanan yang sangat nikmat atau memuaskan. Meski tidak memiliki arti harfiah, istilah tersebut populer di tengah masyarakat sebagai ekspresi spontan atas sesuatu yang dianggap sangat enak.<\/p>\n<p>Bagi Hendri dan keluarganya, pujian itu menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab, kebun buah naga yang kini ramai diperbincangkan itu lahir dari perjuangan panjang memanfaatkan lahan kosong yang sebelumnya tidak produktif.<\/p>\n<p>Menurut Hendri, awalnya lahan seluas lebih dari 5.000 meter persegi di samping rumahnya hanya menjadi area yang terbengkalai.<\/p>\n<p>Namun, dorongan untuk mencari peluang ekonomi membuat dirinya bersama sang istri mulai mencoba budidaya buah naga.<\/p>\n<p>\u201cAwalnya kami lihat potensi tanah di sini bagus. Kami coba tanam sedikit demi sedikit sampai akhirnya berkembang seperti sekarang,\u201d ujar Hendri.<\/p>\n<p>Kerja keras pasangan ini perlahan membuahkan hasil. Saat ini, mereka telah menanam sekitar 700 batang buah naga di kebun tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 300 batang sudah menghasilkan panen, sementara sekitar 400 batang lainnya mulai memasuki fase berbunga.<\/p>\n<p>Meski belum seluruh tanaman berproduksi, hasil panen saat ini sudah mampu memenuhi sebagian kebutuhan pasar lokal di Sabang.<\/p>\n<p>\u201cSekali panen biasanya sekitar 200 sampai 300 kilogram,\u201d kata Hendri.<\/p>\n<p>Namun, tingginya minat masyarakat terhadap buah naga lokal membuat produksi tersebut masih belum mencukupi. Bahkan, Hendri mengaku belum mampu memenuhi permintaan dari luar Kota Sabang.<\/p>\n<p>\u201cBelum bisa dikirim keluar, Bu. Untuk memenuhi kebutuhan Sabang saja masih kewalahan,\u201d ungkap ayah lima anak itu saat berbincang dengan Kak Na.<\/p>\n<p>Buah naga hasil kebun Hendri dijual dengan harga relatif terjangkau, yakni sekitar Rp25 ribu per kilogram. Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan buah impor atau pasokan dari luar daerah yang dijual di toko maupun pasar modern.<\/p>\n<p>Tak heran, buah naga lokal miliknya cukup diminati warga maupun wisatawan yang datang ke Sabang. Apalagi pengunjung juga bisa menikmati sensasi memetik langsung buah dari kebun.<\/p>\n<p>Melihat potensi itu, Kak Na mendorong agar kebun buah naga milik Hendri bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat lain untuk memanfaatkan lahan kosong menjadi sesuatu yang produktif.<\/p>\n<p>\u201cLuar biasa Pak Hendri. Kreativitas dan keuletannya bersama sang istri telah berhasil mengubah lahan kosong menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ini bagus dan patut dicontoh,\u201d ujar Kak Na.<\/p>\n<p>Ia menilai, pemanfaatan lahan pekarangan maupun tanah kosong menjadi area produktif dapat membantu memperkuat ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.<\/p>\n<p>Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu menanam buah naga, tetapi bisa menyesuaikan dengan jenis tanaman yang cocok berdasarkan kondisi tanah dan peluang pasar di wilayah masing-masing.<\/p>\n<p>\u201cTidak harus buah naga. Bisa tanaman buah lain atau komoditas lain yang sesuai dengan jenis tanah di daerah masing-masing dan punya nilai ekonomi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Selain mengapresiasi upaya Hendri, Kak Na juga ikut mempromosikan kebun buah naga tersebut sebagai salah satu potensi wisata agro di Kota Sabang.<\/p>\n<p>Ia mengajak masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Sabang untuk datang langsung ke kebun dan menikmati pengalaman memanen sendiri buah naga segar.<\/p>\n<p>\u201cKalau ke Sabang, datang ke kebun Pak Hendri. Bisa panen sendiri dan langsung menikmati di kebun. Rasanya segar, nikmat, dan harganya murah meriah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Di balik keberhasilan kebunnya, Hendri mengaku masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah kebutuhan pupuk dan sistem pencahayaan tambahan untuk meningkatkan produksi tanaman.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, tanaman buah naga membutuhkan paparan cahaya minimal 14 jam per hari agar dapat berbuah secara optimal. Sementara di wilayah Indonesia, termasuk Sabang, rata-rata sinar matahari hanya berlangsung sekitar 12 jam.<\/p>\n<p>Karena itu, dibutuhkan rekayasa cahaya menggunakan lampu penerangan di setiap tanaman untuk membantu proses pertumbuhan dan pembungaan.<\/p>\n<p>\u201cKami butuh lampu untuk setiap pohon. Ini penting untuk menambah waktu cahaya karena buah naga memerlukan sekitar 14 jam paparan cahaya sehari,\u201d jelas Hendri.<\/p>\n<p>Menurutnya, pencahayaan tambahan tersebut membantu memperlancar proses fotosintesis sehingga hasil produksi dapat meningkat.<\/p>\n<p>\u201cKalau cahaya cukup, produksi buah bisa jauh lebih banyak,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Kisah Hendri dan istrinya menjadi bukti bahwa lahan kosong bukan sekadar ruang yang dibiarkan terbengkalai. Dengan kreativitas, keberanian mencoba, serta kerja keras, lahan tidur dapat berubah menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.<\/p>\n<p>Di kota wisata seperti Sabang, langkah kecil seperti yang dilakukan Hendri tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga membuka peluang wisata berbasis pertanian yang mampu menarik minat masyarakat maupun wisatawan.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/165279?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabang, Infoaceh.net \u2013 Di tengah terbatasnya lahan produktif dan tantangan ekonomi masyarakat, kisah Hendri (60), warga Gampong Ie Meulee, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas dan ketekunan mampu mengubah lahan kosong menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Bersama sang istri, Lisa Umami (50), Hendri berhasil menyulap lahan tidur di samping rumah mereka menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":400001,"featured_media":165284,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[27],"tags":[8119,59645,59644,59646],"class_list":["post-165279","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-hendri","tag-ie-meulee-sabang","tag-kebun-buah-naga","tag-ubah-lahan-tidur-jadi-ladang-cuan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/05\/1778486721574.jpg?fit=648%2C432&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/165279","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/400001"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=165279"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/165279\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/165284"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=165279"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=165279"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=165279"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}