{"id":169973,"date":"2026-07-24T22:39:26","date_gmt":"2026-07-24T15:39:26","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=169973"},"modified":"2026-07-24T22:39:26","modified_gmt":"2026-07-24T15:39:26","slug":"prabowo-sebut-wartawan-pengamat-dan-lsm-londo-ireng-yang-mengabdi-pada-negara-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/07\/24\/prabowo-sebut-wartawan-pengamat-dan-lsm-londo-ireng-yang-mengabdi-pada-negara-lain\/","title":{"rendered":"Prabowo Sebut Wartawan, Pengamat dan LSM Londo Ireng yang Mengabdi pada Negara Lain"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, Infoaceh.net \u2014<\/strong> Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran keras terhadap sebagian wartawan, pengamat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan menyebut mereka sebagai &#8220;Londo Ireng&#8221; masa kini.<\/p>\n<p>Istilah historis yang berarti &#8220;Belanda Hitam&#8221; ini digunakan Prabowo untuk menggambarkan pihak-mana saja yang dinilai lebih membela kepentingan asing dibanding bangsa sendiri.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan pidato dalam acara puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, pada Kamis malam (23\/7\/2026).<\/p>\n<p><strong>Mengungkit Sejarah &#8220;Londo Ireng&#8221; dan Mengkritik Media<\/strong><\/p>\n<p>Dalam pidatonya, Prabowo mengungkit memori kolektif masa penjajahan Belanda. Dahulu, sebutan Londo Ireng disematkan kepada warga pribumi yang direkrut menjadi tentara atau antek kolonial untuk menindas bangsa sendiri.<\/p>\n<p>Menurut Prabowo, mentalitas tersebut masih hidup hari ini, namun berganti rupa menjadi profesi modern.<\/p>\n<p>&#8220;Dulu ada namanya Londo Ireng, Belanda Hitam. Kulitnya sawo matang seperti kita, tapi hatinya kompeni,&#8221; ujar Prabowo di hadapan para kader PKB.<\/p>\n<p>&#8220;Sekarang pun masih ada Londo Ireng. Pakaiannya macam-macam. Ada yang pakai pakaian jurnalis, ada yang pakai pakaian pengamat, ada yang pakai pakaian LSM.&#8221;<\/p>\n<p>Prabowo juga mengkritik cara kerja media massa yang dinilai kerap mencari-cari kesalahan pemerintah dan abai terhadap pencapaian makro. Ia mencontohkan pemberitaan mengenai fasilitas pendidikan.<\/p>\n<p>&#8220;Pemerintah sudah memperbaiki 67 ribu sekolah, yang masuk halaman pertama (berita) adalah satu sekolah yang belum diperbaiki,&#8221; cetus Prabowo.<\/p>\n<p>Ia kemudian mempertanyakan nasionalisme serta sumber pendanaan dari pihak-pihak kritis tersebut dengan melempar pertanyaan retoris, &#8220;Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?&#8221;<\/p>\n<p><strong>Gelombang Protes dari Komunitas Pers dan Sipil<\/strong><\/p>\n<p>Pernyataan kepala negara tersebut langsung memicu reaksi keras dari berbagai organisasi profesi dan pegiat hak asasi manusia karena dinilai dapat mengancam kebebasan berpendapat dan kemerdekaan pers.<\/p>\n<p>Aliansi Jurnalis Independen (AJI): AJI mendesak Presiden Prabowo untuk menarik ucapannya dan meminta maaf secara terbuka. AJI menilai pelabelan &#8220;Londo Ireng&#8221; dan tuduhan antek asing sangat berbahaya karena dapat mendelegitimasi kerja jurnalistik, memicu persekusi terhadap wartawan di lapangan, serta membungkam fungsi kontrol sosial media terhadap kekuasaan.<\/p>\n<p>Kritik Parpol Oposisi: Ketua DPP PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, mengkritik keras narasi tersebut.<\/p>\n<p>Menurutnya, retorika ini merupakan bentuk populisme berbahaya yang membelah masyarakat. Guntur Romli menilai narasi ini seolah memposisikan penguasa sebagai satu-satunya pihak yang paling nasionalis, sementara pihak yang melempar kritik langsung dicap sebagai pengkhianat bangsa.<\/p>\n<p>Pegiat HAM dan LSM: Sejumlah LSM mengingatkan bahwa penggunaan stigma &#8220;antek asing&#8221; rentan memicu disinformasi terkoordinasi dan berujung pada represi digital maupun fisik terhadap para pengkritik kebijakan pemerintah.<\/p>\n<p>Pidato bernada tinggi ini disampaikan Prabowo di tengah konsolidasi politik pemerintahannya bersama partai-partai koalisi, termasuk PKB.<\/p>\n<p>Hingga saat ini, pihak Istana Kepresidenan belum memberikan penjelasan tambahan atau klarifikasi lebih lanjut mengenai komitmen perlindungan kebebasan pers pasca-pidato kontroversial tersebut.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/169973?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, Infoaceh.net \u2014 Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran keras terhadap sebagian wartawan, pengamat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan menyebut mereka sebagai &#8220;Londo Ireng&#8221; masa kini. Istilah historis yang berarti &#8220;Belanda Hitam&#8221; ini digunakan Prabowo untuk menggambarkan pihak-mana saja yang dinilai lebih membela kepentingan asing dibanding bangsa sendiri. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan pidato [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":169974,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6],"tags":[62765,62766,62763,62764,11147,12714,3146,981],"class_list":["post-169973","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-harlah-pkb","tag-kritik-media","tag-londo-ireng","tag-lsm","tag-pengamat","tag-presiden-prabowo","tag-utama","tag-wartawan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/07\/images-2026-07-24T222711136.jpeg?fit=679%2C452&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/169973","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=169973"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/169973\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/169974"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=169973"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=169973"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=169973"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}