{"id":170136,"date":"2026-07-28T11:34:56","date_gmt":"2026-07-28T04:34:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=170136"},"modified":"2026-07-28T11:55:14","modified_gmt":"2026-07-28T04:55:14","slug":"mengantar-ayah-menjemput-maut-potret-buruk-pelayanan-dan-hilangnya-empati-di-rsudza","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/07\/28\/mengantar-ayah-menjemput-maut-potret-buruk-pelayanan-dan-hilangnya-empati-di-rsudza\/","title":{"rendered":"Mengantar Ayah Menjemput Maut: Potret Buruk Pelayanan dan Hilangnya Empati di RSUDZA"},"content":{"rendered":"<p><em>Keselamatan pasien (patient safety) dan komunikasi yang transparan merupakan dua pilar utama pelayanan medis. Namun, kedua hal itu runtuh ketika berhadapan dengan pelayanan di RSUDZA Banda Aceh.<\/em><\/p>\n<p><strong>Oleh: Teuku Alfin Aulia*<\/strong><\/p>\n<p>Kehilangan orang tua adalah patah hati terbesar dalam hidup. Namun, menyaksikan orang tua yang kita cintai perlahan meregang nyawa di tengah sistem pelayanan kesehatan yang, menurut pengalaman kami, gagal memberikan perlindungan dan empati, meninggalkan luka batin yang mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.<\/p>\n<p>Sebagai mahasiswa kedokteran yang sedang menempuh pendidikan di Mesir, saya diajarkan bahwa keselamatan pasien (patient safety) dan komunikasi yang transparan merupakan dua pilar utama pelayanan medis.<\/p>\n<p>Namun, nilai-nilai yang saya pelajari seolah runtuh ketika keluarga saya berhadapan dengan pengalaman di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Tempat yang seharusnya menjadi ruang penyembuhan, bagi keluarga kami justru menjadi saksi rangkaian peristiwa yang berujung pada wafatnya ayah saya.<\/p>\n<p><strong>Harapan Besar, Kepatuhan dan Minimnya Informasi<\/strong><\/p>\n<p>Perjalanan ini bermula dari Lhokseumawe. Ayah saya berangkat menuju Banda Aceh dalam kondisi masih mampu beraktivitas secara mandiri. Tujuan awal kami adalah mendapatkan penanganan lanjutan berupa pemasangan ring jantung di RSUDZA.<\/p>\n<p>Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, kami mendapat penjelasan bahwa prosedur pemasangan ring tidak dapat dilakukan. Sebagai alternatif, dokter menyarankan operasi bypass jantung.<\/p>\n<p>Dengan harapan besar untuk sembuh, ayah menyetujui rencana operasi tersebut. Sambil menunggu jadwal tindakan, beliau dipulangkan dengan membawa obat pengencer darah yang harus dikonsumsi secara rutin.<\/p>\n<p>Sebagai pasien yang patuh dan menaruh kepercayaan penuh kepada tenaga medis, ayah menjalankan seluruh anjuran tersebut dengan disiplin.<\/p>\n<p>Namun, menurut pengalaman keluarga kami, di sinilah persoalan komunikasi mulai muncul.<\/p>\n<p>Penjelasan mengenai efek samping obat hanya disampaikan kepada ayah secara lisan, tanpa edukasi yang memadai kepada keluarga yang nantinya mendampingi beliau di rumah.<\/p>\n<p>Kami pulang dengan pemahaman yang sangat terbatas mengenai risiko obat yang dikonsumsi.<\/p>\n<p>Karena merasa khawatir, kami akhirnya mencari informasi sendiri mengenai potensi efek samping obat pengencer darah melalui berbagai sumber.<\/p>\n<p><strong>Isyarat Bahaya yang Kurang Mendapat Perhatian<\/strong><\/p>\n<p>Kekhawatiran kami semakin besar ketika kondisi ayah menurun drastis setelah rutin mengonsumsi obat tersebut. Beliau mengeluhkan tubuh yang sangat lemah, sesuatu yang belum pernah dialaminya sebelumnya.<\/p>\n<p>Kami kembali membawa beliau ke RSUDZA. Selama menjalani perawatan, kakak saya beberapa kali menyampaikan kepada tenaga medis mengenai adanya luka di bagian bawah wajah yang sesekali tampak jelas. Sebagai mahasiswa kedokteran, saya memahami bahwa kelemahan ekstrem yang disertai tanda-tanda perdarahan pada pasien yang mengonsumsi antikoagulan atau antiplatelet merupakan kondisi yang perlu mendapat perhatian serius.<\/p>\n<p>Keluarga juga menyampaikan kekhawatiran tersebut berdasarkan informasi yang kami pelajari. Namun, menurut penilaian kami, kekhawatiran itu tidak memperoleh respons yang memadai. Kami merasa laporan keluarga tidak menjadi bagian penting dalam proses evaluasi kondisi pasien.<\/p>\n<p><strong>Pulang dari Mesir Menuju Ruang ICU<\/strong><\/p>\n<p>Dua malam setelah menjalani perawatan, ayah mendadak mengalami stroke perdarahan saat masih berada di ruang rawat inap. Perdarahan di otak menyebabkan beliau kehilangan kesadaran dan masuk ke dalam kondisi koma.<\/p>\n<p>Begitu mendengar kabar tersebut, saya segera terbang dari Mesir menuju Aceh.<\/p>\n<p>Sebagai mahasiswa kedokteran, saya memahami arti klinis dari perdarahan otak. Namun, tidak ada satu pun buku kedokteran yang mampu mempersiapkan seseorang menghadapi kenyataan melihat ayahnya sendiri terbaring tak sadarkan diri.<\/p>\n<p>Saya pulang bukan untuk mendampingi proses pemulihan setelah operasi, melainkan menemani ayah yang berada dalam kondisi koma selama hampir tiga hari hingga akhirnya beliau mengembuskan napas terakhir.<\/p>\n<p>Sebagai anak, saya tidak dapat menghilangkan pertanyaan yang terus menghantui: apakah ada peluang yang bisa diupayakan lebih cepat apabila gejala-gejala awal mendapat perhatian lebih serius?<\/p>\n<p><strong>Ketika Empati Seolah Ikut Menghilang<\/strong><\/p>\n<p>Duka kami tidak berhenti setelah ayah meninggal dunia. Saat proses pemulasaraan jenazah berlangsung, salah seorang anggota keluarga bertanya dengan sopan mengenai alasan medis mengapa bagian tertentu dari tubuh almarhum harus disumbat menggunakan kain kasa sebelum dimandikan.<\/p>\n<p>Alih-alih memperoleh penjelasan yang menenangkan, menurut pengalaman kami, pertanyaan tersebut justru direspons dengan nada yang tidak bersahabat. Bahkan keluarga merasa mendapat ancaman bahwa jenazah akan ditinggalkan apabila terlalu banyak bertanya.<\/p>\n<p>Bagi keluarga yang sedang berada dalam titik terendah kehidupan, jawaban sederhana dengan penuh empati tentu jauh lebih berarti daripada respons yang melukai.<\/p>\n<p><strong>Perjalanan Terakhir yang Menyisakan Luka<\/strong><\/p>\n<p>Kekecewaan kami berlanjut ketika proses pemulangan jenazah menuju Lhokseumawe.<\/p>\n<p>Awalnya, keluarga hampir diberikan ambulans tanpa pendingin udara (AC) untuk perjalanan jauh.<\/p>\n<p>Setelah persoalan itu selesai, muncul situasi lain yang menurut kami sangat tidak sensitif.<\/p>\n<p>Sebelum berangkat, sopir ambulans meminta izin agar nantinya berhenti di Sigli untuk makan pagi.<\/p>\n<p>Dalam suasana duka yang begitu berat, keluarga akhirnya memilih membelikan makanan bagi kru ambulans sebelum keberangkatan agar perjalanan jenazah tidak tertunda.<\/p>\n<p>Namun sepanjang perjalanan, menurut pengamatan keluarga, sopir beberapa kali merokok dan bercanda di dalam kendaraan. Tepat di balik sekat tipis kendaraan itu terbujur jenazah ayah kami.<\/p>\n<p>Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah perjalanan biasa. Bagi kami, itu adalah perjalanan terakhir seorang ayah menuju rumahnya.<\/p>\n<p><strong>Catatan untuk Dunia Pelayanan Kesehatan<\/strong><\/p>\n<p>Saya menulis pengalaman ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan sebagai refleksi bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari kecanggihan alat, keahlian dokter, atau keberhasilan tindakan medis.<\/p>\n<p>Komunikasi yang baik, kesediaan mendengarkan keluarga pasien, edukasi mengenai pengobatan, serta empati kepada pasien dan keluarganya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan yang bermartabat.<\/p>\n<p>Kami menerima kepergian ayah sebagai takdir Allah SWT.<\/p>\n<p>Namun, sebagai calon dokter, saya akan membawa pengalaman ini sepanjang hidup sebagai pengingat bahwa ilmu setinggi apa pun tidak akan berarti apabila kehilangan ketelitian, kerendahan hati dan rasa kemanusiaan.<\/p>\n<p>Saya berharap pengalaman keluarga kami dapat menjadi bahan evaluasi bagi RSUDZA untuk terus meningkatkan mutu pelayanan, baik dalam aspek medis maupun pelayanan kepada keluarga pasien dan pemulasaraan jenazah.<\/p>\n<p>Semoga tidak ada lagi keluarga lain di Aceh yang harus merasakan kepedihan yang sama seperti yang kami alami.<\/p>\n<p>* <em>Penulis adalah Mahasiswa Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir<\/em><\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/170136?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya berharap pengalaman keluarga kami dapat menjadi bahan evaluasi bagi RSUDZA untuk terus meningkatkan mutu pelayanan, baik dalam aspek medis maupun pelayanan kepada keluarga pasien dan pemulasaraan jenazah.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":170137,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[29],"tags":[295,62872,62870,60288,62871],"class_list":["post-170136","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-banda-aceh","tag-hilangnya-empati-di-rsudza","tag-mengantar-ayah-menjemput-maut","tag-opini-infoaceh-net","tag-potret-buruk-pelayanan-kesehatan-di-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/07\/IMG-20260728-WA0141-e1785214485407.jpg?fit=1000%2C667&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/170136","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=170136"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/170136\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/170137"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=170136"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=170136"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=170136"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}