{"id":171432,"date":"2026-08-15T15:50:39","date_gmt":"2026-08-15T08:50:39","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=171432"},"modified":"2026-08-15T15:50:39","modified_gmt":"2026-08-15T08:50:39","slug":"wagub-manfaat-damai-aceh-bukan-hanya-tak-ada-konflik-tapi-keadilan-dan-rakyat-sejahtera","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/08\/15\/wagub-manfaat-damai-aceh-bukan-hanya-tak-ada-konflik-tapi-keadilan-dan-rakyat-sejahtera\/","title":{"rendered":"Wagub: Manfaat Damai Aceh Bukan Hanya Tak Ada Konflik, Tapi Keadilan dan Rakyat Sejahtera\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH, Infoaceh.net \u2014<\/strong> Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Fadhlullah menegaskan bahwa ukuran keberhasilan perdamaian Aceh setelah 21 tahun tidak cukup hanya dilihat dari berakhirnya konflik bersenjata.<\/p>\n<p>Perdamaian harus mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, serta harapan bagi generasi mendatang.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Fadhlullah atau akrab disapa Dek Fad saat memberikan sambutan pada peringatan 21 tahun perdamaian Aceh yang digelar Pemerintah Aceh di Gedung Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, Sabtu (15\/8\/2026).<\/p>\n<p>Turut hadir Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan, Kajati Aceh Teuku Rahmatsyah SH MH MKn, Kapok Sahli Pangdam Iskandar Muda Brigjen TNI Mahesa Fitriadi dan Kepala BIN Daerah Aceh Brigjen TNI Andrie Pitriko Mulia.<\/p>\n<p>Menurut Fadhlullah, setelah lebih dari dua dekade sejak penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, Aceh telah memasuki fase baru.<\/p>\n<p>Tantangan yang dihadapi masyarakat bukan lagi bagaimana menghentikan konflik, melainkan bagaimana memastikan hasil perdamaian benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cTantangan kita hari ini bukan lagi mengakhiri konflik, tetapi memastikan setiap anak Aceh merasakan manfaat perdamaian melalui lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi masyarakat,\u201d kata Fadhlullah.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, perdamaian tidak boleh hanya dipahami sebagai kondisi ketika tidak ada lagi perang atau konflik bersenjata. Perdamaian harus memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cUkuran keberhasilan perdamaian bukan hanya berakhirnya konflik, tetapi tegaknya keadilan, meningkatnya kesejahteraan, dan tumbuhnya harapan bagi generasi mendatang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Fadhlullah mengingatkan, 15 Agustus 2005 merupakan momentum bersejarah bagi Aceh. Pada tanggal tersebut, Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani MoU Helsinki sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan yang telah menimbulkan penderitaan dan korban bagi masyarakat Aceh.<\/p>\n<p>Kesepakatan tersebut menjadi titik balik perjalanan Aceh. Konflik bersenjata berakhir dan masyarakat memperoleh ruang yang lebih luas untuk membangun kehidupan dalam suasana damai.<\/p>\n<p>Menurut Fadhlullah, perdamaian yang telah dicapai merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak pihak.<\/p>\n<p>Karena itu, momentum 21 tahun perdamaian Aceh harus menjadi kesempatan untuk mengenang para syuhada serta seluruh masyarakat yang menjadi korban konflik.<\/p>\n<p>Ia juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada para tokoh perdamaian, mediator dan tim perunding di Helsinki, Pemerintah Republik Indonesia, negara-negara sahabat, ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses perdamaian Aceh.<\/p>\n<p>\u201cPerdamaian yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari perjalanan panjang dan kontribusi banyak pihak,\u201d kata Fadhlullah.<\/p>\n<p>Dalam rangkaian peringatan 21 tahun perdamaian Aceh tersebut, Pemerintah Aceh juga memberikan perhatian terhadap upaya meningkatkan kesejahteraan kelompok yang berkaitan langsung dengan sejarah konflik.<\/p>\n<p>Fadhlullah menyerahkan santunan kepada anak yatim dan sertifikat penghargaan kepada sejumlah pemangku kebijakan yang dinilai ikut berperan dalam menjaga serta merawat perdamaian Aceh.<\/p>\n<p>Pada kesempatan yang sama, Fadhlullah menerima sertifikat tanah seluas 600 hektare yang tersebar di sejumlah kabupaten\/kota di Aceh dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang\/Badan Pertanahan Nasional.<\/p>\n<p>Lahan tersebut nantinya diarahkan untuk mendukung pengembangan ekonomi eks kombatan GAM dan korban konflik Aceh sesuai dengan amanat MoU Helsinki.<\/p>\n<p>Penyerahan sertifikat tanah tersebut menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian peringatan perdamaian karena menyentuh aspek ekonomi masyarakat yang menjadi bagian dari proses panjang perdamaian Aceh.<\/p>\n<p>Pemanfaatan lahan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pengembangan usaha dan menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kemandirian ekonomi penerima manfaat.<\/p>\n<p>Perdamaian Harus Berbuah Manfaat<\/p>\n<p>Fadhlullah mengatakan, perdamaian harus diterjemahkan menjadi program dan kebijakan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Menurutnya, masyarakat Aceh harus dapat merasakan bahwa kondisi damai telah membuka lebih banyak peluang untuk memperbaiki kehidupan.<\/p>\n<p>Lapangan kerja, pendidikan, kesehatan dan penguatan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan perdamaian tidak berhenti sebagai catatan sejarah.<\/p>\n<p>Terlebih bagi generasi muda Aceh yang lahir setelah konflik berakhir, perdamaian harus menjadi fondasi untuk membangun masa depan.<\/p>\n<p>Generasi muda harus mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang baik, pekerjaan yang layak dan ruang untuk mengembangkan potensi ekonomi di daerahnya sendiri.<\/p>\n<p>Karena itu, menurut Fadhlullah, menjaga perdamaian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.<\/p>\n<p>Memasuki 21 tahun perdamaian, Fadhlullah mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk terus menjaga stabilitas dan memperkuat rasa saling percaya.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan perdamaian harus dirawat melalui kerja nyata, sikap saling menghormati serta semangat membangun Aceh secara bersama-sama.<\/p>\n<p>\u201cUntuk itu, mari kita rawat perdamaian dengan kerja nyata, saling menghormati, dan saling mempercayai. Mari kita jadikan Aceh sebagai daerah yang damai, maju, islami, dan bermartabat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa perjalanan perdamaian Aceh belum selesai. Berakhirnya konflik merupakan awal dari pekerjaan besar untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.<\/p>\n<p>Dua puluh satu tahun setelah MoU Helsinki, tantangan Aceh kini bergeser dari menjaga agar konflik tidak kembali terjadi menjadi memastikan perdamaian memberikan hasil yang konkret.<\/p>\n<p>Perdamaian harus mampu menciptakan ruang ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat pelayanan publik dan membuka masa depan yang lebih baik bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Dengan demikian, makna 21 tahun perdamaian Aceh bukan hanya tentang mengenang berakhirnya konflik, tetapi juga tentang memastikan setiap generasi dapat menikmati buah perdamaian.<\/p>\n<p>Bagi Pemerintah Aceh, menjaga perdamaian berarti menjaga kepercayaan, memperkuat persaudaraan dan terus bekerja agar Aceh tumbuh menjadi daerah yang damai, maju, islami dan bermartabat.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/171432?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH, Infoaceh.net \u2014 Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Fadhlullah menegaskan bahwa ukuran keberhasilan perdamaian Aceh setelah 21 tahun tidak cukup hanya dilihat dari berakhirnya konflik bersenjata. Perdamaian harus mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, serta harapan bagi generasi mendatang. Hal itu disampaikan Fadhlullah atau akrab disapa Dek Fad saat memberikan sambutan pada peringatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":171433,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[19993,12226,63700,63699,14132],"class_list":["post-171432","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh","tag-damai-aceh","tag-fadhlullah","tag-kesejahteraan-rakyat","tag-tak-ada-konflik","tag-wakil-gubernur-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/08\/IMG-20260815-WA0420.jpg?fit=1599%2C1066&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/171432","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=171432"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/171432\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/171433"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=171432"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=171432"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=171432"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}