{"id":172129,"date":"2026-08-27T20:53:42","date_gmt":"2026-08-27T13:53:42","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=172129"},"modified":"2026-08-27T20:53:42","modified_gmt":"2026-08-27T13:53:42","slug":"manuskrip-al-quran-teungku-chik-lampaloh-berusia-180-tahun-diselamatkan-lewat-digitalisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/08\/27\/manuskrip-al-quran-teungku-chik-lampaloh-berusia-180-tahun-diselamatkan-lewat-digitalisasi\/","title":{"rendered":"Manuskrip Al-Qur\u2019an Teungku Chik Lampaloh Berusia 180 Tahun Diselamatkan Lewat Digitalisasi"},"content":{"rendered":"<p><strong>MALAYSIA, Infoaceh.net \u2013<\/strong> Sebuah manuskrip Al-Qur\u2019an asal Aceh yang diperkirakan telah berusia sekitar 180 tahun mulai didigitalisasi sebagai bagian dari upaya menyelamatkan warisan intelektual Islam dan pengetahuan keagamaan yang tersimpan di dalamnya.<\/p>\n<p>Manuskrip tersebut merupakan peninggalan Teungku Chik Lampaloh, ulama Aceh yang dikenal dengan nama Syekh Abdurrahman Lampaloh. Naskah tulisan tangan itu tidak hanya memuat teks Al-Qur\u2019an, tetapi juga menyimpan berbagai catatan yang merekam tradisi keilmuan Islam dan pengetahuan masyarakat Aceh pada masa lalu.<\/p>\n<p>Upaya pelestarian manuskrip tersebut menjadi bagian dari penelitian Nurrahmi, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.<\/p>\n<p>Penelitian bertajuk From Manuscript to Digital Heritage: Preserving Nusantara Islamic Knowledge through the Digitalization of the Teungku Chik Lampaloh Manuscript (The Descendants Effort in Safeguarding Ancestor Master Piece) itu dipresentasikan dalam 10th International Library and Information Science Society Conference (I-LISS) 2026 yang berlangsung di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, 26-28 Agustus 2026.<\/p>\n<p>Penelitian tersebut dikerjakan secara kolaboratif bersama Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., Prof. Syamsul Rijal, M.Ag., Dr. Zubaidah, M.Ed., dan Fathin Zhafira Fauzi, S.T.<\/p>\n<p>Nurrahmi menjelaskan, digitalisasi dilakukan karena kondisi fisik manuskrip mulai mengalami kerusakan. Sejumlah halaman telah rapuh, sementara tulisan di beberapa bagian mulai memudar sehingga semakin sulit dibaca.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga manuskrip agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.<\/p>\n<p>\u201cDigitalisasi bukan hanya mengubah manuskrip menjadi bentuk digital, tetapi juga menjadi upaya menjaga pengetahuan yang terkandung di dalamnya agar tetap dapat dipelajari dan diwariskan,\u201d kata Nurrahmi dalam pemaparannya.<\/p>\n<p>Menurutnya, kondisi material manuskrip merupakan salah satu persoalan utama dalam upaya pelestarian naskah kuno. Penggunaan tinta berbasis besi yang lazim digunakan pada masa lalu, misalnya, dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan efek korosif terhadap kertas.<\/p>\n<p>Kerusakan tersebut dapat berlangsung secara perlahan dan pada akhirnya mengancam keberadaan teks maupun catatan yang terdapat di dalam manuskrip.<\/p>\n<p>Karena itu, digitalisasi dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk mengurangi frekuensi penanganan langsung terhadap naskah asli.<\/p>\n<p>Dengan tersedianya salinan digital berkualitas tinggi, peneliti, akademisi, mahasiswa maupun masyarakat dapat mempelajari isi manuskrip tanpa harus berulang kali membuka, memegang atau memindahkan dokumen aslinya.<\/p>\n<p>Dalam penelitian tersebut, proses digitalisasi dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui tiga tahapan utama, yakni pra-digitalisasi, digitalisasi dan pasca-digitalisasi.<\/p>\n<p>Pada tahap pra-digitalisasi, peneliti terlebih dahulu melakukan pemilihan manuskrip, verifikasi hak cipta dan kepemilikan, pencatatan data bibliografi serta mempersiapkan berbagai peralatan yang diperlukan.<\/p>\n<p>Tahap tersebut penting untuk memastikan bahwa proses digitalisasi dilakukan secara terukur sekaligus memperhatikan aspek kepemilikan dan keberlanjutan pengelolaan koleksi.<\/p>\n<p>Selanjutnya, pada tahap digitalisasi dilakukan pengambilan gambar setiap bagian manuskrip. Citra yang dihasilkan kemudian diperiksa kualitasnya untuk memastikan informasi dalam halaman naskah dapat direkam secara optimal.<\/p>\n<p>Peneliti juga membuat file master, melakukan pengeditan metadata serta melakukan konversi file sesuai kebutuhan pengelolaan koleksi digital.<\/p>\n<p>Sementara itu, tahap pasca-digitalisasi mencakup pengemasan dan pendokumentasian hasil digitalisasi sehingga koleksi tersebut dapat dikelola dan dimanfaatkan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan, tahapan tersebut dapat membantu mengurangi risiko kerusakan terhadap bagian-bagian paratekstual manuskrip.<\/p>\n<p>Proses digitalisasi juga menghasilkan surrogate digital berkualitas tinggi yang dapat digunakan untuk mempertahankan informasi yang terkandung dalam manuskrip dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>Lebih jauh, penelitian tersebut menawarkan kerangka kerja yang menggabungkan tiga aspek penting, yakni pelestarian, pengelolaan metadata dan penyebaran pengetahuan.<\/p>\n<p>Kerangka tersebut dinilai memiliki potensi untuk diterapkan tidak hanya pada manuskrip koleksi pribadi, tetapi juga oleh perpustakaan, arsip, museum serta lembaga lain yang bergerak dalam pengelolaan warisan budaya dan intelektual.<\/p>\n<p>Manuskrip Teungku Chik Lampaloh sebelumnya juga menjadi objek kajian tim peneliti UIN Ar-Raniry bersama Al-Azhar University.<\/p>\n<p>Kajian tersebut tidak hanya melihat teks utama Al-Qur\u2019an, tetapi juga menelusuri berbagai bagian parateks manuskrip, seperti catatan pinggir, kolofon, anotasi dan keterangan lain yang terdapat dalam naskah.<\/p>\n<p>Bagian-bagian tersebut memiliki nilai penting karena dapat menjadi sumber informasi mengenai bagaimana pengetahuan Islam dipelajari, ditransmisikan dan diwariskan pada masa lalu.<\/p>\n<p>Catatan yang terdapat pada manuskrip juga berpotensi memberikan gambaran mengenai jaringan ulama, praktik keilmuan serta kondisi sosial-keagamaan masyarakat ketika manuskrip tersebut ditulis.<\/p>\n<p>Dengan demikian, manuskrip tersebut tidak hanya dipandang sebagai dokumen keagamaan, tetapi juga sebagai sumber sejarah yang dapat membantu mengungkap perkembangan intelektual Islam di Aceh.<\/p>\n<p>Dalam konferensi I-LISS 2026, Nurrahmi turut menampilkan kondisi dan isi manuskrip melalui sebuah video.<\/p>\n<p>Dokumentasi tersebut memuat penjelasan Masykur, S.Hum., Direktur Pedir Museum Aceh, serta Abdullah Maulani, M.Hum., dari DREAMSEA.<\/p>\n<p>Presentasi juga memperlihatkan prototipe rumah digital yang dirancang sebagai ruang penyimpanan lembaran manuskrip yang telah didigitalisasi.<\/p>\n<p>Masykur diketahui terlibat dalam dokumentasi serta pengenalan manuskrip kepada publik melalui Pedir Museum. Sementara Abdullah Maulani memberikan perspektif berdasarkan pengalamannya dalam dokumentasi manuskrip melalui DREAMSEA.<\/p>\n<p>Sekretaris Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Dr. Zubaidah, M.Ed., turut mendampingi Nurrahmi selama mengikuti konferensi internasional tersebut.<\/p>\n<p>Presentasi penelitian itu mendapat apresiasi dari President I-LISS, Prof. Namtip Wipawin, serta menarik perhatian peserta konferensi.<\/p>\n<p>Konferensi I-LISS 2026 menjadi momentum penting bagi UIN Ar-Raniry untuk memperkenalkan hasil penelitian dari Aceh kepada komunitas akademik internasional.<\/p>\n<p>Forum tersebut diselenggarakan Faculty of Information Science, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Selangor Branch, Puncak Perdana Campus, bekerja sama dengan Jabatan Perpustakaan UiTM dan International Library and Information Science Society.<\/p>\n<p>Mengusung tema Thriving Through Transformation: Innovative, Digital, and AI-Driven Futures for Librarianship, konferensi tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pustakawan, pendidik dan profesional bidang ilmu perpustakaan serta informasi dari berbagai negara.<\/p>\n<p>Selain Nurrahmi, dua peneliti UIN Ar-Raniry, yakni Nazaruddin, MLIS, PhD., dan Mukhtaruddin, MLIS, juga tampil sebagai presenter.<\/p>\n<p>Nazaruddin mempresentasikan penelitian berjudul From HI to AI: Repositioning Libraries in the Evolution of Human and Artificial Intelligence.<\/p>\n<p>Penelitian tersebut membahas perkembangan sistem temu kembali informasi atau information retrieval dari era yang bertumpu pada kecerdasan manusia (Human Intelligence\/HI) menuju era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence\/AI).<\/p>\n<p>Dalam paparannya, Nazaruddin membandingkan karakteristik perpustakaan pada era Dewey Decimal Classification (DDC) dengan perkembangan perpustakaan di era AI.<\/p>\n<p>Pada era DDC, pengelolaan dan temu kembali informasi banyak mengandalkan sistem klasifikasi, penomoran manual, katalog kartu fisik, pencarian koleksi secara langsung di rak serta interaksi tatap muka antara pengguna dan pustakawan.<\/p>\n<p>Sementara itu, pada era AI, perpustakaan berkembang menuju ekosistem informasi yang semakin terintegrasi melalui katalog digital atau Online Public Access Catalog (OPAC), jejaring global, rekomendasi berbasis AI, pencarian semantik, analisis data pengguna serta integrasi dan anotasi digital katalog.<\/p>\n<p>Menurut Nazaruddin, transformasi menuju AI tidak terjadi secara tiba-tiba.<\/p>\n<p>Jauh sebelum teknologi kecerdasan artifisial berkembang seperti sekarang, perpustakaan telah mengembangkan sistem pengorganisasian pengetahuan dan mekanisme temu kembali informasi yang kemudian menjadi salah satu fondasi bagi perkembangan sistem informasi cerdas.<\/p>\n<p>Penelitian tersebut juga menyoroti adanya kesenjangan dalam kajian sebelumnya.<\/p>\n<p>Perpustakaan kerap ditempatkan sebagai institusi yang mengadopsi teknologi AI, sementara sejarah dan kontribusinya sebagai salah satu fondasi awal pengembangan sistem temu kembali informasi yang semakin cerdas belum banyak mendapatkan perhatian.<\/p>\n<p>Nazaruddin menilai keikutsertaannya dalam konferensi internasional tersebut bukan sekadar kesempatan mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga ruang untuk membangun jejaring akademik dan bertukar gagasan dengan peneliti dari berbagai negara.<\/p>\n<p>\u201cKonferensi internasional bukan hanya ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga kesempatan untuk membangun jejaring, bertukar gagasan, dan membawa perspektif lokal Aceh ke dalam diskursus global bidang perpustakaan dan ilmu informasi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Keikutsertaan tiga peneliti UIN Ar-Raniry dalam I-LISS 2026 sekaligus menunjukkan bahwa kajian mengenai warisan intelektual Aceh, perpustakaan, digitalisasi manuskrip hingga perkembangan kecerdasan artifisial memiliki ruang yang semakin luas dalam diskursus akademik internasional.<\/p>\n<p>Bagi Aceh, digitalisasi manuskrip Teungku Chik Lampaloh memiliki arti lebih dari sekadar penyelamatan dokumen lama. Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga jejak intelektual ulama dan tradisi keilmuan Islam Aceh agar tidak hilang dimakan usia.<\/p>\n<p>Ketika naskah asli menghadapi ancaman kerusakan fisik, salinan digital dapat menjadi jembatan yang memungkinkan pengetahuan di dalamnya tetap hidup, diteliti dan diwariskan kepada generasi mendatang.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172129?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MALAYSIA, Infoaceh.net \u2013 Sebuah manuskrip Al-Qur\u2019an asal Aceh yang diperkirakan telah berusia sekitar 180 tahun mulai didigitalisasi sebagai bagian dari upaya menyelamatkan warisan intelektual Islam dan pengetahuan keagamaan yang tersimpan di dalamnya. Manuskrip tersebut merupakan peninggalan Teungku Chik Lampaloh, ulama Aceh yang dikenal dengan nama Syekh Abdurrahman Lampaloh. Naskah tulisan tangan itu tidak hanya memuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":400005,"featured_media":172130,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[62079],"tags":[64173,1359,7106,1322,64171,64172],"class_list":["post-172129","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-komunitas","tag-berusia-180-tahun","tag-digitalisasi","tag-diselamatkan","tag-malaysia","tag-manuskrip-al-quran","tag-teungku-chik-lampaloh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/08\/IMG-20260827-WA0244.jpg?fit=1141%2C748&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172129","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/400005"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=172129"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172129\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/172130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=172129"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=172129"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=172129"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}