{"id":172382,"date":"2026-09-01T23:02:41","date_gmt":"2026-09-01T16:02:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=172382"},"modified":"2026-09-01T23:02:41","modified_gmt":"2026-09-01T16:02:41","slug":"jejak-uang-tanah-bukit-semangka-menuju-kursi-kekuasaan-di-pulau-wisata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/09\/01\/jejak-uang-tanah-bukit-semangka-menuju-kursi-kekuasaan-di-pulau-wisata\/","title":{"rendered":"Jejak Uang Tanah Bukit Semangka Menuju Kursi Kekuasaan di Pulau Wisata\u00a0"},"content":{"rendered":"<p>Di sebuah pulau wisata bernama Konoha, matahari tetap terbit dari ufuk timur, nelayan tetap melaut, pedagang tetap membuka lapak, dan rakyat tetap sibuk menghitung uang belanja yang semakin hari semakin pandai menghilang.<\/p>\n<p>Namun, di balik riuh kehidupan masyarakat, ada jenis hitungan lain yang konon jauh lebih menarik: hitungan tentang kekuasaan. Di negeri kecil yang lautnya luas dan gunungnya menjulang itu, demokrasi kadang-kadang bukan hanya perkara siapa yang dipilih, tetapi juga tentang siapa yang mempunyai modal untuk memastikan dirinya dipilih.<\/p>\n<p>Kisah ini bermula dari sebuah tempat yang dalam cerita disebut Bukit Semangka. Namanya terdengar manis, seperti buah yang matang di bawah matahari tropis. Tetapi dalam cerita Konoha, yang disebut manis bukanlah semangkanya.<\/p>\n<p>Melainkan sesuatu yang konon tersimpan di balik tanahnya: uang. Tanah yang semestinya hanya menjadi sebidang tanah, tiba-tiba memiliki peran dalam sebuah cerita besar tentang kelompok masyarakat, dana sosial, politik dan sebuah pesta demokrasi yang kebetulan harus digelar ulang.<\/p>\n<p>Konon, di salah satu gampong berdirilah sebuah kelompok yang dalam cerita ini diberi nama Bancaan Semua Infaq, atau disingkat BSI. Namanya terdengar religius, bahkan menyejukkan.<\/p>\n<p>Ada kata infaq di dalamnya, sebuah kata yang biasanya mengingatkan orang kepada kotak amal, masjid, anak yatim dan tangan-tangan yang ikhlas memberi.<\/p>\n<p>Namun, di Konoha, sebuah nama rupanya tidak selalu berjalan lurus dengan maknanya. Ada nama yang terdengar suci, tetapi kisah di belakangnya bisa membuat kalkulator bekerja lebih keras.<\/p>\n<p>Dalam cerita ini, dana yang bersumber dari zakat, infak, sedekah dan wakaf\u2014atau yang biasa disebut Ziswaf\u2014kemudian disebut-sebut bersinggungan dengan kepentingan yang jauh lebih besar.<\/p>\n<p>Uang yang seharusnya mengalir kepada mereka yang membutuhkan, dalam kisah ini justru digambarkan seperti air yang menemukan saluran lain.<\/p>\n<p>Mengalir melalui tanah, kelompok dan kepentingan, lalu perlahan mendekati sebuah arena bernama pemilihan ulang.<\/p>\n<p>Di tengah kisah itu muncul seorang tokoh bernama Khing, yang dalam dunia Konoha konon memiliki kedekatan dengan seorang tokoh yang disebut Bos Besar Berkacamata.<\/p>\n<p>Khing dikisahkan ikut berada di balik pembentukan BSI. Di sinilah cerita mulai terasa seperti kopi yang terlalu lama diseduh: semakin lama dibiarkan, semakin pekat rasanya.<\/p>\n<p>Sebab muncul pertanyaan nakal, apakah sebuah kelompok benar-benar dibentuk semata-mata untuk kepentingan sosial, atau sejak awal telah memiliki agenda lain yang disimpan rapi di balik nama yang terdengar mulia?<\/p>\n<p>Dalam cerita tersebut, Khing bahkan digambarkan memiliki apa yang dalam bahasa hukum dikenal sebagai mens rea\u2014niat batin yang berada di balik sebuah tindakan. Tentu saja ini bukan kesimpulan hukum, apalagi vonis terhadap siapa pun. Ini hanyalah bumbu cerita.<\/p>\n<p>Tetapi justru di situlah satire bekerja: mengajak pembaca bertanya, apakah yang tampak sebagai gerakan sosial memang selalu murni sosial, atau terkadang ada kalkulator kecil yang ikut bersembunyi di balik kotak amal?<\/p>\n<p>Kemudian muncullah Bukit Semangka sebagai bagian penting dari alur cerita. Tanah di kawasan itu disebut-sebut berkaitan dengan angka sekitar Rp500 juta.<\/p>\n<p>Lima ratus juta bagi sebagian rakyat Konoha bukanlah angka kecil. Dengan uang sebanyak itu, orang bisa membangun rumah, menyekolahkan anak, membuka usaha, atau membeli banyak kebutuhan hidup. Namun dalam cerita politik Konoha, angka sebesar itu memiliki kemungkinan lain: menjadi bahan bakar untuk menyalakan mesin kemenangan.<\/p>\n<p>Cerita kemudian membawa pembaca ke pemilihan ulang. Jumlah pemilih di Konoha memang tidak sebanyak kota-kota besar. Tetapi justru karena jumlahnya kecil, setiap suara konon menjadi sangat berharga. Beredar pula kisah mengenai suara yang dihargai antara Rp2 juta hingga Rp5 juta.<\/p>\n<p>Demokrasi Konoha rupanya memiliki daftar harga yang tidak pernah dicetak di toko, tidak pernah dipasang di baliho dan tidak pernah diumumkan di podium.<\/p>\n<p>Harganya beredar dari bisikan ke bisikan, dari tangan ke tangan, seperti rahasia yang diketahui banyak orang tetapi selalu kehilangan pemilik ketika ditanya siapa yang pertama mengatakannya.<\/p>\n<p>Pesta demokrasi pun berlangsung. Spanduk berkibar, senyum ditebar, janji diucapkan, tangan dijabat dan suara dihitung. Dalam cerita ini, Bos Besar Berkacamata akhirnya menang telak. Ia kemudian dilantik menjadi pucuk pimpinan di Pulau Konoha.<\/p>\n<p>Tepuk tangan terdengar, kamera berkilat dan wajah-wajah kemenangan menghiasi panggung. Namun jauh dari sorotan, cerita tentang modal dan dukungan politik belum tentu ikut selesai.<\/p>\n<p>Sebab ada satu hukum tidak tertulis yang konon berlaku di banyak tempat: utang politik tidak pernah datang membawa kuitansi, tetapi selalu ingat alamat.<\/p>\n<p>Dalam kisah Konoha, modal yang dikeluarkan sebelum pemilihan kemudian disebut memiliki konsekuensi setelah kemenangan. BSI dikisahkan mendapatkan ruang yang lebih luas dalam menjalankan berbagai kegiatan atau program, meskipun dalam cerita tersebut muncul pula pertanyaan mengenai izin.<\/p>\n<p>Di sinilah satire mulai menemukan tempat duduk paling nyaman. Sebab jika sebuah kelompok telah ikut membantu seseorang menuju kursi kekuasaan, mungkinkah setelah orang itu duduk, kursi tersebut mendadak menjadi lebih empuk bagi mereka yang dahulu berdiri di belakangnya?<\/p>\n<p>Tidak ada yang tahu. Setidaknya dalam cerita ini, semuanya masih berupa dugaan dan pertanyaan. Sebab politik selalu memiliki tirai. Yang terlihat dari depan adalah panggung. Yang tidak terlihat adalah tangan-tangan yang bekerja di balik layar.<\/p>\n<p>Lalu cerita kembali membawa kita ke Bukit Semangka. Lerengnya disebut rawan, tanahnya miring, dan alam mempunyai hukumnya sendiri. Ketika hujan datang, tanah tidak mengenal jabatan.<\/p>\n<p>Ia tidak peduli siapa yang menang dalam pemilihan, siapa yang memiliki banyak uang, siapa yang memakai jas dan siapa yang berkacamata. Jika tanah memang bergerak, ia akan bergerak. Jika lereng memang longsor, ia tidak akan meminta izin kepada siapa pun.<\/p>\n<p>Tetapi di Konoha, pemerintah mempunyai mata. Sayangnya, pemerintah juga mempunyai kacamata. Dan kacamata Bos Besar dalam cerita ini terkenal sangat tebal. Saking tebalnya, muncul satire bahwa mungkin bukan pemerintah yang tidak melihat, melainkan lensanya memang memiliki teknologi khusus: mampu memperbesar kepentingan, tetapi mengecilkan pelanggaran; mampu melihat program, tetapi lupa melihat izin; mampu melihat kelompok masyarakat, tetapi kesulitan melihat siapa yang berada di belakang kelompok tersebut.<\/p>\n<p>Tentu saja, itu hanya satire. Kacamata tetaplah kacamata. Yang menjadi persoalan bukan ketebalan lensanya, melainkan ketajaman mata kekuasaan dalam melihat sesuatu yang terjadi di depan hidungnya sendiri.<\/p>\n<p>Jika kisah ini dibaca seperti sebuah laporan investigasi, maka ada banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Dari mana sebenarnya uang Rp500 juta itu berasal? Siapa yang membayar? Siapa yang menerima? Bagaimana status tanah Bukit Semangka? Apa hubungan BSI dengan tanah tersebut? Siapa yang membentuk BSI? Apa peran Khing? Dari mana dana Ziswaf berasal? Apakah benar ada kaitannya dengan kepentingan politik? Dan jika benar terdapat uang yang beredar dalam pemilihan ulang, siapa yang mengedarkannya?<\/p>\n<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu tidak boleh dijawab hanya dengan gosip. Ia membutuhkan dokumen, catatan transaksi, keterangan saksi dan bukti yang dapat diverifikasi. Sebab antara cerita dan fakta terdapat jurang yang tidak boleh diseberangi hanya dengan keberanian menuduh.<\/p>\n<p>Namun justru di situlah kekuatan sebuah satire. Ia tidak harus memberikan vonis. Kadang cukup meletakkan sebuah pertanyaan di atas meja, kemudian membiarkan pembaca memandangnya sendiri.<\/p>\n<p>Bukit Semangka akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebidang tanah dalam cerita ini. Ia menjadi simbol tentang bagaimana tanah, uang, kelompok sosial dan kekuasaan dapat bertemu di satu titik.<\/p>\n<p>Ziswaf yang seharusnya menjadi amanah, politik yang seharusnya menjadi jalan pengabdian, dan pemerintahan yang seharusnya menjadi tempat rakyat mencari perlindungan, semuanya bertemu dalam sebuah cerita yang sengaja dibuat penuh kebetulan.<\/p>\n<p>Dan seperti biasa, setelah pesta demokrasi selesai, rakyat kembali kepada kehidupannya. Nelayan kembali ke laut. Pedagang kembali menghitung dagangan. Orang tua kembali menghitung biaya sekolah anak.<\/p>\n<p>Sementara mereka yang berada di lingkar kekuasaan mungkin menghitung sesuatu yang lain: siapa membantu siapa, siapa mendapatkan apa, dan siapa yang masih harus diingat.<\/p>\n<p>Sebab di Pulau Konoha, ada satu hal yang konon lebih panjang daripada jalan menuju puncak kekuasaan: ingatan mereka yang merasa pernah menanam modal.<\/p>\n<p>Bukit Semangka tetap berdiri. Gunung tetap menjadi gunung. Laut tetap asin. Matahari tetap terbit dari timur. Hanya cerita manusia yang berubah-ubah. Hari ini seseorang menjadi rakyat, besok menjadi kandidat, lusa menjadi pemenang, dan setelah itu menjadi penguasa. Mereka yang dahulu berada di belakangnya mungkin suatu hari berdiri di depan pintu sambil membawa senyum, berkas, atau sekadar sebuah kalimat pendek: \u201cBos, jangan lupa.\u201d<\/p>\n<p>Namun sekali lagi, semua ini hanyalah cerita. Hanya fiksi. Hanya permainan kata yang dirajut menjadi satire. Nama-nama hanyalah tokoh, tempat hanyalah panggung dan peristiwa hanyalah bagian dari imajinasi. Jika kebetulan ada yang merasa kisah ini terlalu mirip dengan keadaan sebenarnya, mungkin itu hanyalah kebetulan yang terlalu pandai memainkan peran.<\/p>\n<p>Sebab di Konoha, bahkan kebetulan pun kadang-kadang terlihat seperti sebuah skenario.<\/p>\n<p>Catatan Penulis:\u00a0Tulisan ini sepenuhnya merupakan karya fiksi, lahir dari imajinasi dan dibuat sebagai karya tulis satire serta refleksi sosial semata. Tidak ada maksud untuk menyerang, menuduh, merugikan, mencemarkan nama baik, atau mendiskreditkan personal, lembaga, organisasi maupun pihak mana pun.<\/p>\n<p>Seluruh tokoh, nama, tempat, kelompok, jabatan, peristiwa, angka dan rangkaian kejadian dalam tulisan ini merupakan bagian dari dunia rekaan. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, lembaga, kelompok, jabatan, karakter maupun peristiwa dengan kehidupan nyata, hal tersebut bukanlah sesuatu yang disengaja dan merupakan kebetulan semata.<\/p>\n<p>Jika cerita ini terasa seperti pernah dilihat atau didengar, anggap saja kehidupan nyata sedang kebetulan menulis cerita yang mirip.<\/p>\n<p><em>Penulis Riandi Armi, merupakan anggota aktif PWI Kota Sabang dengan jabatan Penasihat<\/em><\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172382?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di sebuah pulau wisata bernama Konoha, matahari tetap terbit dari ufuk timur, nelayan tetap melaut, pedagang tetap membuka lapak, dan rakyat tetap sibuk menghitung uang belanja yang semakin hari semakin pandai menghilang. Namun, di balik riuh kehidupan masyarakat, ada jenis hitungan lain yang konon jauh lebih menarik: hitungan tentang kekuasaan. Di negeri kecil yang lautnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":172384,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[29],"tags":[64349,64347,64348,64346,60288,32248],"class_list":["post-172382","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-bancaan-semua-infaq","tag-bukit-semangka","tag-jalan-menuju-kursi-kekuasaan","tag-jejak-uang-tanah","tag-opini-infoaceh-net","tag-riandi-armi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/09\/IMG-20260831-WA0442-1.jpg?fit=1536%2C1024&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172382","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=172382"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172382\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/172384"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=172382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=172382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=172382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}