{"id":172535,"date":"2026-09-04T22:54:16","date_gmt":"2026-09-04T15:54:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=172535"},"modified":"2026-09-04T22:54:16","modified_gmt":"2026-09-04T15:54:16","slug":"akankah-toke-sendal-jadi-korban-berikutnya-bos-besar-kacamata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/09\/04\/akankah-toke-sendal-jadi-korban-berikutnya-bos-besar-kacamata\/","title":{"rendered":"Akankah Toke Sendal Jadi Korban Berikutnya Bos Besar Kacamata?"},"content":{"rendered":"<p><strong>Reportase Investigasi Fiksi dari Pulau Wisata Konoha<\/strong><\/p>\n<p>Menjelang pesta demokrasi pemilihan pucuk pimpinan di pulau wisata Konoha, suasana politik mendadak berubah seperti pasar malam yang kehilangan penjaga.<\/p>\n<p>Baliho mulai bermunculan, senyum para calon mengembang di mana-mana, sementara di balik panggung politik, konon mulai terjadi perburuan bekal untuk menghadapi pertarungan.<\/p>\n<p>Semua bicara tentang demokrasi, semua mengaku bersih, dan hampir semua sepakat bahwa politik uang adalah penyakit. Hanya saja, penyakit itu entah mengapa selalu muncul ketika malam mulai turun dan pintu-pintu rumah mulai tertutup.<\/p>\n<p>Di antara para calon yang paling menonjol dalam kisah fiksi ini adalah sosok yang disebut Bos Besar Kacamata Bulat. Di setiap kesempatan kampanye, ia begitu rajin mengumandangkan perang terhadap politik uang. Politik bersih menjadi lagu wajibnya.<\/p>\n<p>Rakyat diajak memilih dengan hati nurani, bukan dengan uang. Ia tampil seolah-olah menjadi penjaga moral demokrasi, lengkap dengan kacamata bulat yang seakan mampu melihat segala sesuatu dengan jernih.<\/p>\n<p>Namun politik kadang memiliki wajah yang berbeda antara panggung dan ruang belakang. Ketika suara rakyat belum cukup untuk mengantarkan seseorang menuju kursi kekuasaan, idealisme membutuhkan teman bernama logistik.<\/p>\n<p>Maka Bos Besar Kacamata Bulat pun mulai &#8220;bergentayangan&#8221;. Bukan hantu dalam arti sebenarnya, tentu saja, melainkan bergerak dari satu sumber ke sumber lainnya, mencari orang-orang yang bersedia menjadi bahan bakar bagi kendaraan politiknya.<\/p>\n<p>Satu per satu sumber mulai disebut dalam kisah ini. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada pula yang jumlahnya cukup membuat kalkulator politik kepanasan.<\/p>\n<p>Dari sekian nama, muncul seorang tokoh yang disebut paling besar memberikan dukungan.<\/p>\n<p>Namanya Amsiong, tetapi masyarakat Pulau Wisata Konoha lebih mengenalnya sebagai Toke Sendal.<\/p>\n<p>Amsiong bukan orang yang baru mengenal Pulau Wisata Konoha. Ia lahir dan tumbuh di pulau tersebut. Sebagai warga keturunan, ia memiliki kecintaan terhadap tanah kelahirannya. Baginya, Pulau Wisata Konoha bukan sekadar tempat mencari rezeki, melainkan rumah yang membesarkannya.<\/p>\n<p>Karena itulah, ketika datang sebuah kesempatan untuk ikut membantu perubahan melalui jalur politik, ia membuka pintu dan membuka dompet.<\/p>\n<p>Dalam kisah ini, Amsiong disebut bersedia membekali Bos Besar Kacamata Bulat sebesar Rp3 miliar. Sebanyak Rp1 miliar diberikan cuma-cuma sebagai dukungan, sedangkan Rp2 miliar lainnya dianggap sebagai pinjaman atau utang yang harus dikembalikan. Angka itu bukan angka kecil.<\/p>\n<p>Bahkan bagi orang yang setiap hari menghitung uang, tiga miliar tetaplah tiga miliar.<\/p>\n<p>Namun satu miliar yang diberikan cuma-cuma itu ternyata tidak benar-benar tanpa harapan. Ada sebuah komitmen yang menjadi bagian dari kisah tersebut.<\/p>\n<p>Amsiong mempunyai keinginan besar untuk mewujudkan rumah duka bagi masyarakat keturunan yang mirip warga Tionghoa di Pulau Wisata Konoha.<\/p>\n<p>Sebuah tempat yang diharapkan dapat digunakan masyarakat ketika menghadapi suasana duka, tanpa harus kebingungan mencari tempat yang layak.<\/p>\n<p>Di usia yang semakin senja, Amsiong memilih berkorban untuk sesuatu yang menurutnya dapat menjadi warisan bagi tanah kelahirannya.<\/p>\n<p>Ia tidak sedang membangun istana untuk dirinya sendiri. Ia hanya ingin ada sebuah bangunan yang kelak bisa digunakan masyarakat. Tetapi niat yang sederhana itu, dalam cerita ini, justru masuk ke lorong politik yang penuh tikungan.<\/p>\n<p>Di Pulau Wisata Konoha terdapat sebuah bangunan milik pemerintah yang dalam cerita fiksi ini disebut sebagai aset hasil sitaan pada era revolusi Komunis.<\/p>\n<p>Bangunan tersebut berada bersebelahan dengan rumah ibadah masyarakat keturunan mirip warga Tionghoa. Selama bertahun-tahun, bangunan itu digunakan sebagai kantor perkumpulan kuli tinta berdasarkan status pinjam pakai dengan pemerintah Pulau Wisata Konoha.<\/p>\n<p>Bagi orang biasa, bangunan itu mungkin hanya terlihat sebagai bangunan tua. Tetapi bagi para kuli tinta, tempat tersebut memiliki arti lebih besar. Di sanalah mereka berkumpul, berdiskusi, menerima informasi, menyusun berita, dan membicarakan berbagai persoalan masyarakat.<\/p>\n<p>Karena itu, ketika muncul wacana agar bangunan tersebut dikosongkan, alarm kewaspadaan para kuli tinta mulai berbunyi.<\/p>\n<p>Setelah Bos Besar Kacamata Bulat berhasil menduduki pucuk pimpinan, muncul pembicaraan mengenai bangunan tersebut. Namun gaya yang digunakan Bos Besar dalam cerita ini terbilang halus.<\/p>\n<p>Tidak ada meja yang dipukul. Tidak ada suara yang ditinggikan. Tidak ada kalimat yang secara terang-terangan memerintahkan pengosongan.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau seandainya kalian serahkan dan diberikan tempat lain bagaimana?&#8221; demikian kira-kira kalimat negosiasi Bos Besar Kacamata Bulat ketika berkumpul perdana dengan pengurus perkumpulan kuli tinta setelah dirinya dilantik.<\/p>\n<p>Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan terdengar santun. Tetapi dalam politik, sebuah kalimat tidak selalu dinilai dari bunyinya. Kadang yang lebih penting adalah arah yang dituju.<\/p>\n<p>Jika tujuan akhirnya adalah agar penghuni lama meninggalkan bangunan tersebut, maka bahasa halus tetap dapat menjadi kendaraan menuju tujuan yang sama.<\/p>\n<p>Sementara Bos Besar disebut menggunakan pendekatan lembut, Amsiong dalam cerita ini justru memilih jalan berbeda.<\/p>\n<p>Toke Sendal bahkan disebut sempat menggunakan sosok bernama Bos Baju Besi untuk menyampaikan tekanan kepada para kuli tinta.<\/p>\n<p>Setelah menghadiri sebuah acara di kantor Pemerintah Pulau Wisata Konoha, Bos Baju Besi melontarkan pernyataan yang membuat suasana semakin panas.<\/p>\n<p>&#8220;Yang kalian tempati itu aset orang, bukan aset pemerintah. Itu ada sertifikatnya,&#8221; demikian ucapan Bos Baju Besi sebagaimana dikisahkan dalam cerita fiksi ini.<\/p>\n<p>Kalimat tersebut ibarat korek api yang dilemparkan ke tumpukan jerami kering. Reaksi pun muncul. Para kuli tinta tidak tinggal diam. Mereka mulai mempertanyakan dasar persoalan, status bangunan, serta siapa sebenarnya yang memiliki kepentingan di balik keinginan pengosongan tersebut.<\/p>\n<p>Melihat reaksi yang mulai membesar dan berpotensi menimbulkan eskalasi lebih jauh, Amsiong akhirnya memilih cooling down. Ia tidak lagi memaksakan kehendak dengan cara terbuka.<\/p>\n<p>Mungkin ia menyadari bahwa berhadapan dengan kuli tinta bukan perkara sederhana. Wartawan memiliki pena, kamera, mikrofon, dan satu senjata yang paling ditakuti kekuasaan: pertanyaan.<\/p>\n<p>Maka Amsiong menunggu. Ia menunggu sambil berharap komitmen yang pernah dibicarakan bersama Bos Besar Kacamata Bulat akan menemukan bentuknya. Tetapi waktu rupanya memiliki kebiasaan buruk: ia terus berjalan tanpa peduli siapa yang sedang menunggu.<\/p>\n<p>Hari berganti pekan. Pekan berubah menjadi bulan. Bulan berubah menjadi tahun. Rumah duka yang menjadi salah satu harapan Amsiong tidak kunjung berdiri. Sementara dua miliar yang dianggap sebagai utang juga belum menemukan jalan pulang menuju kantong pemiliknya.<\/p>\n<p>Pada titik itulah hubungan yang sebelumnya terlihat begitu dekat mulai retak. Amsiong mulai menagih. Ia bertanya tentang komitmen.<\/p>\n<p>Ia meminta kejelasan. Ia juga disebut mulai mendesak Bos Besar Kacamata Bulat agar segera mengembalikan uang Rp2 miliar yang dianggap sebagai utang.<\/p>\n<p>Politik kemudian menunjukkan wajahnya yang paling dingin. Orang-orang yang dahulu mungkin duduk satu meja, tertawa bersama dan berbicara tentang masa depan, perlahan berubah menjadi dua pihak yang saling memandang dari seberang jurang. Hubungan Amsiong dan Bos Besar Kacamata Bulat pun dikisahkan retak.<\/p>\n<p>Tidak ada yang benar-benar tahu apa penyebab utamanya. Apakah retaknya hubungan tersebut terjadi karena Amsiong mulai menagih uang?<\/p>\n<p>Apakah karena komitmen rumah duka tidak kunjung terwujud? Ataukah karena setelah kekuasaan berada di tangan Bos Besar, hubungan lama tidak lagi memiliki nilai yang sama?<\/p>\n<p>Yang jelas, dalam kisah fiksi ini, Rp1 miliar yang diberikan cuma-cuma telah menguap bersama waktu, sementara rumah duka yang menjadi harapan Amsiong belum juga menjadi kenyataan. Dua miliar lainnya masih menjadi angka yang menggantung, menunggu kepastian.<\/p>\n<p>Kini Amsiong dan orang-orang di sekelilingnya dikisahkan berada dalam posisi berseberangan dengan Bos Besar Kacamata Bulat.<\/p>\n<p>Toke Sendal disebut murka bukan kepalang. Tetapi usia yang semakin senja membuat kemarahannya tidak meledak-ledak. Ia tidak perlu berteriak seperti anak muda yang kehilangan mainan.<\/p>\n<p>Barangkali pengalaman hidup telah mengajarinya bahwa terkadang diam jauh lebih tajam daripada suara keras.<\/p>\n<p>Dan di titik inilah sebuah pertanyaan mulai mengambang di udara Pulau Wisata Konoha: akankah Toke Sendal menjadi korban berikutnya?<\/p>\n<p>Pertanyaan itu membawa ingatan kepada sosok lain dalam kisah fiksi ini, yakni Mas Totok. Konon, Mas Totok telah menyetor Rp1,5 miliar dengan harapan memperoleh sebuah kursi sekretaris.<\/p>\n<p>Kursi yang bukan sekadar tempat duduk, melainkan tiket menuju lingkaran kekuasaan.<\/p>\n<p>Namun ketika pertunjukan politik selesai dan panggung telah dikuasai pemenang, janji tentang kursi itu dalam kisah ini justru menjadi cerita yang tidak pernah menemukan akhir bahagia.<\/p>\n<p>Mas Totok kemudian dikenang sebagai salah satu loyalis yang disebut telah mengeluarkan uang besar untuk sebuah janji yang pada akhirnya tidak sesuai harapan.<\/p>\n<p>Kini bayang-bayang cerita Mas Totok kembali menghampiri Amsiong. Bedanya, kali ini jumlahnya lebih besar. Bukan Rp1,5 miliar, tetapi tiga miliar dengan skema satu miliar dukungan dan dua miliar utang. Satu miliar dikaitkan dengan harapan rumah duka, sementara dua miliar menunggu pengembalian.<\/p>\n<p>Pertanyaannya sederhana tetapi menusuk: apakah Amsiong akan bernasib sama?<\/p>\n<p>Apakah ia akan menjadi orang berikutnya yang belajar bahwa dalam politik, janji bisa lebih cepat menguap daripada keringat seorang pemilih di bawah terik matahari?<\/p>\n<p>Apakah rumah duka itu akan benar-benar berdiri? Apakah dua miliar tersebut akan kembali? Ataukah semua akan berhenti sebagai kenangan mahal dari sebuah pesta demokrasi?<\/p>\n<p>Pulau Wisata Konoha mungkin tidak membutuhkan cenayang untuk menjawabnya. Ia hanya membutuhkan waktu.<\/p>\n<p>Sebab waktu adalah saksi paling jujur. Ia tidak bisa disuap, tidak bisa diajak kampanye dan tidak bisa diminta menghapus jejak. Cepat atau lambat, setiap janji akan mencari tagihannya sendiri.<\/p>\n<p>Dan jika suatu hari rumah duka benar-benar berdiri, mungkin Amsiong akan tersenyum karena perjuangannya berhasil.<\/p>\n<p>Tetapi jika bangunan itu tak pernah ada, sementara uang dan janji hanya tinggal cerita, maka pertanyaan yang sama akan kembali terdengar dari sudut-sudut Pulau Konoha:<\/p>\n<p>&#8220;Siapa korban berikutnya?&#8221;<\/p>\n<p>Untuk saat ini, jawabannya belum ada. Hanya waktu yang mampu menjawab ini.<\/p>\n<p><strong>Catatan Penulis:<\/strong> Tulisan ini sepenuhnya merupakan karya fiksi, lahir dari imajinasi dan dibuat sebagai karya tulis satire serta refleksi sosial semata. Tidak ada maksud untuk menyerang, menuduh, merugikan, mencemarkan nama baik, atau mendiskreditkan personal, lembaga, organisasi maupun pihak mana pun. Seluruh tokoh, nama, tempat, kelompok, jabatan, peristiwa, angka dan rangkaian kejadian dalam tulisan ini merupakan bagian dari dunia rekaan.<\/p>\n<p>Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, lembaga, kelompok, jabatan, karakter maupun peristiwa dengan kehidupan nyata, hal tersebut bukanlah sesuatu yang disengaja dan merupakan kebetulan semata. Jika cerita ini terasa seperti pernah dilihat atau didengar, anggap saja kehidupan nyata sedang kebetulan menulis cerita yang mirip.<\/p>\n<p><em>Penulis Riandi Armi, merupakan anggota aktif PWI Kota Sabang sebagai Penasihat<\/em><\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172535?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Reportase Investigasi Fiksi dari Pulau Wisata Konoha Menjelang pesta demokrasi pemilihan pucuk pimpinan di pulau wisata Konoha, suasana politik mendadak berubah seperti pasar malam yang kehilangan penjaga. Baliho mulai bermunculan, senyum para calon mengembang di mana-mana, sementara di balik panggung politik, konon mulai terjadi perburuan bekal untuk menghadapi pertarungan. Semua bicara tentang demokrasi, semua mengaku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":172536,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[29],"tags":[64443,64444,64445,64378,64442],"class_list":["post-172535","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-amsiong","tag-bos-besar-kacamata","tag-korban-berikutnya","tag-pulau-wisata-konoha","tag-toke-sendal"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/09\/IMG-20260903-WA0411.jpg?fit=1536%2C1024&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172535","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=172535"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/172535\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/172536"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=172535"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=172535"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=172535"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}