{"id":173811,"date":"2026-09-26T17:50:28","date_gmt":"2026-09-26T10:50:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=173811"},"modified":"2026-09-26T17:50:28","modified_gmt":"2026-09-26T10:50:28","slug":"gaya-hidup-mewah-sebabkan-kerusakan-alam-ustaz-amri-fatmi-ajak-reset-akhlak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/09\/26\/gaya-hidup-mewah-sebabkan-kerusakan-alam-ustaz-amri-fatmi-ajak-reset-akhlak\/","title":{"rendered":"Gaya Hidup Mewah Sebabkan Kerusakan Alam, Ustaz Amri Fatmi Ajak Reset Akhlak"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH, Infoaceh.net<\/strong> \u2014 Gaya hidup bermewah-mewahan dan konsumtif tidak hanya dipandang tercela dalam ajaran agama, tetapi juga dapat memberikan dampak serius terhadap kelestarian lingkungan.<\/p>\n<p>Umat Islam diajak melakukan penataan kembali akhlak atau #ResetAkhlak dengan membangun pola hidup sederhana, tidak berlebihan, serta menggunakan nikmat Allah SWT secara bertanggung jawab.<\/p>\n<p>Pesan tersebut disampaikan da&#8217;i kondang Aceh, Ustaz Dr Amri Fatmi Anzis Lc MA, dalam Kajian Ba&#8217;da Maghrib bertajuk \u201cBersahaja dan Kelestarian Alam\u201d di Masjid Oman Al-Makmur, Lampriet, Banda Aceh, Jumat malam (25\/9\/2026).<\/p>\n<p>Di hadapan ratusan jamaah, Ustaz Amri menjelaskan bahwa ajaran Islam memiliki perhatian yang kuat terhadap hubungan manusia dengan lingkungan.<\/p>\n<p>Manusia tidak hanya diperintahkan untuk memanfaatkan bumi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan, menjaga dan memperbaiki kerusakan yang terjadi.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan konsep isti&#8217;mar, yakni tugas manusia untuk memakmurkan bumi sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p>Menurutnya, memakmurkan bumi setidaknya mencakup dua tanggung jawab penting. Pertama, mempertahankan dan menjaga kelestarian ekosistem yang telah Allah ciptakan. Kedua, memperbaiki berbagai kerusakan yang muncul akibat tindakan manusia.<\/p>\n<p>\u201cMenjaga alam sekitar ini bukan sekadar urusan kelompok pelestari lingkungan atau isu ekologi modern semata. Ini adalah bagian integral dari ajaran syariat dan tanggung jawab keimanan kita sebagai hamba Allah,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p><strong>Gaya Hidup Berlebihan dan Peringatan Al-Qur&#8217;an<\/strong><\/p>\n<p>Dalam kajiannya, Ustaz Amri juga mengingatkan jamaah mengenai bahaya tan&#8217;am, yakni kecenderungan manusia untuk terus-menerus mengejar kenyamanan dan kenikmatan hidup.<\/p>\n<p>Ia mengutip pesan Rasulullah SAW ketika mengutus sahabat Mu&#8217;az bin Jabal RA ke Yaman. Dalam pesan tersebut, umat Islam diperingatkan agar tidak larut dalam kehidupan yang berlebihan dan mengejar kenikmatan dunia tanpa batas.<\/p>\n<p>Menurut Ustaz Amri, seorang hamba Allah tidak semestinya menjadikan kemewahan dan kenyamanan sebagai ukuran utama kehidupan.<\/p>\n<p>\u201cHamba Allah itu bukan orang yang mutana&#8217;im. Kehidupan yang berbelanja besar hanya demi mengejar gengsi dan kenyamanan tingkat tinggi sangat dicela dalam agama. Menuntut semua kenikmatan dunia agar terasa enak bukanlah tren gaya hidup orang mukmin,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ia kemudian mengingatkan jamaah terhadap firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahqaf ayat 20.<\/p>\n<p>Ayat tersebut menggambarkan orang-orang yang ketika berada di akhirat diingatkan bahwa mereka telah menghabiskan berbagai kenikmatan yang diperoleh selama hidup di dunia.<\/p>\n<p>Kenikmatan tersebut digunakan untuk bersenang-senang, sementara di sisi lain mereka bersikap sombong dan menyimpang dari kebenaran.<\/p>\n<p>Ustaz Amri menjadikan ayat tersebut sebagai bahan renungan agar umat Islam tidak terjebak pada orientasi kehidupan yang hanya mengejar kesenangan dunia.<\/p>\n<p>Dalam perspektif syariat, kata dia, terdapat sejumlah ketentuan yang mengatur penggunaan harta dan kemewahan.<\/p>\n<p>Salah satunya adalah larangan penggunaan perabot dari emas dan perak serta larangan mengenakan pakaian sutera bagi laki-laki.<\/p>\n<p>Menurut Ustaz Amri, ketentuan tersebut tidak hanya dapat dilihat dari aspek hukum fikih, tetapi juga dapat direnungkan dari sisi pembentukan karakter manusia agar tidak terjebak dalam budaya konsumtif dan kerakusan terhadap simbol-simbol kemewahan.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan emas sebagai salah satu barang yang memiliki nilai tinggi tetapi bukan merupakan kebutuhan utama untuk mempertahankan kehidupan.<\/p>\n<p>\u201cEmas itu bukan barang untuk bertahan hidup, melainkan sekadar barang kemewahan. Sunnatullah menetapkan bahwa semakin penting suatu sumber kehidupan bagi manusia, harganya semakin murah dan melimpah\u2014seperti air dan udara. Namun kerakusan manusialah yang merusak alam demi mengejar hal-hal yang tidak esensial,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Karena itu, manusia perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.<\/p>\n<p>Menurutnya, kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi semestinya tidak membuat manusia semakin boros dalam menggunakan sumber daya alam.<\/p>\n<p>Sebaliknya, kemajuan tersebut harus diiringi dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan.<\/p>\n<p><strong>Rumah Mewah hingga Kendaraan Boros<\/strong><\/p>\n<p>Ustaz Amri juga mengingatkan agar pembangunan dan penggunaan harta tidak dilakukan sekadar untuk menunjukkan status sosial.<\/p>\n<p>Ia menyinggung pembangunan rumah berukuran besar dan mewah yang tidak dimanfaatkan secara optimal.<\/p>\n<p>Menurutnya, pembangunan fisik yang berlebihan tidak otomatis menjadi amal apabila tidak memberikan manfaat yang sepadan.<\/p>\n<p>Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan penggunaan kendaraan yang boros bahan bakar. Konsumsi berlebihan pada akhirnya berhubungan dengan penggunaan sumber daya alam dan tekanan terhadap lingkungan.<\/p>\n<p>Karena itu, prinsip kesederhanaan tidak berarti menolak kemajuan ataupun melarang seseorang menikmati karunia Allah.<\/p>\n<p>Kesederhanaan, menurutnya, lebih kepada kemampuan menempatkan harta dan kenikmatan dunia secara proporsional serta tidak menjadikannya sebagai tujuan utama kehidupan.<\/p>\n<p>Ustaz Amri mengingatkan bahwa setiap nikmat yang diterima manusia pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.<\/p>\n<p>Harta, rumah, kendaraan, makanan, pakaian hingga berbagai fasilitas kehidupan merupakan amanah yang harus digunakan secara bijak.<\/p>\n<p>\u201cSemua nikmat yang diberikan Allah akan ditanyakan. Karena itu, jangan sampai nikmat yang seharusnya menjadi sarana ibadah justru menjadi sebab pertanggungjawaban yang berat di akhirat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia mengajak jamaah membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari tanggung jawab seorang muslim.<\/p>\n<p>Kerusakan lingkungan tidak selalu bermula dari tindakan besar. Kebiasaan sehari-hari yang boros, konsumtif dan tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan juga dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut. Karena itu, perubahan menurutnya harus dimulai dari diri sendiri.<\/p>\n<p>Di penghujung kajian, Ustaz Amri mengajak jamaah menjadikan #ResetAkhlak bukan sekadar slogan, melainkan perubahan nyata dalam perilaku.<\/p>\n<p>Pola hidup bersahaja, menggunakan harta sesuai kebutuhan, menghindari pemborosan, serta menjaga lingkungan merupakan bagian dari upaya menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.<\/p>\n<p>Ia menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan agar dunia tidak menguasai hati dan perilaku manusia.<\/p>\n<p>Kekayaan dapat dinikmati, pembangunan dapat dilakukan, dan teknologi dapat dimanfaatkan. Namun semuanya harus berada dalam batas yang tidak melahirkan keserakahan, pemborosan maupun kerusakan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, kesederhanaan bukan berarti hidup tanpa kemajuan, melainkan kemampuan untuk menempatkan setiap kenikmatan sesuai kebutuhan dan tanggung jawab.<\/p>\n<p>Pesan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya persoalan lingkungan, ketika eksploitasi sumber daya alam dan pola konsumsi manusia memberikan tekanan terhadap keseimbangan ekosistem.<\/p>\n<p>Melalui kehidupan yang lebih bersahaja, umat Islam diharapkan tidak hanya menjaga diri dari perilaku berlebihan, tetapi juga ikut menjaga bumi sebagai amanah Allah SWT.<\/p>\n<p>Sebab, setiap nikmat yang digunakan di dunia pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/173811?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH, Infoaceh.net \u2014 Gaya hidup bermewah-mewahan dan konsumtif tidak hanya dipandang tercela dalam ajaran agama, tetapi juga dapat memberikan dampak serius terhadap kelestarian lingkungan. Umat Islam diajak melakukan penataan kembali akhlak atau #ResetAkhlak dengan membangun pola hidup sederhana, tidak berlebihan, serta menggunakan nikmat Allah SWT secara bertanggung jawab. Pesan tersebut disampaikan da&#8217;i kondang Aceh, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":173812,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[28],"tags":[34686,57901,65335,65334,65333],"class_list":["post-173811","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-syariah","tag-gaya-hidup-mewah","tag-masjid-oman-al-makmur-lampriet-banda-aceh","tag-reset-akhlak","tag-sebabkan-kerusakan-alam","tag-ustaz-amri-fatmi-anzis-lc-ma"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/09\/1790419227902.jpg?fit=1050%2C746&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/173811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=173811"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/173811\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":173813,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/173811\/revisions\/173813"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/173812"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=173811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=173811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=173811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}