{"id":18023,"date":"2021-03-09T18:31:07","date_gmt":"2021-03-09T11:31:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=18023"},"modified":"2021-03-09T18:31:07","modified_gmt":"2021-03-09T11:31:07","slug":"fadhil-rahmi-kritik-penghilangan-frasa-agama-dari-peta-jalan-pendidikan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2021\/03\/09\/fadhil-rahmi-kritik-penghilangan-frasa-agama-dari-peta-jalan-pendidikan-nasional\/","title":{"rendered":"Fadhil Rahmi Kritik Penghilangan Frasa Agama dari Peta Jalan Pendidikan Nasional"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh<\/strong> \u2013 Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menyoroti hilangnya frasa \u2018agama\u2019 dalam rancangan Peta Jalan Pendidikan Nasional (PJPN) 2020-2035.<\/p>\n<p>Menurut Anggota Komite III DPD RI asal Aceh HM Fadhil Rahmi Lc penghilangan frasa \u2018agama\u2019 pada rancangan PJPN itu menuai kontroversi dan telah mendapatkan sorotan dari berbagai ormas Islam, antara lain Muhammadiyah, NU dan MUI.<\/p>\n<p>Karenanya, dikatakan Senator asal Aceh itu, pihaknya mengkritisi rancangan PJPN 2020-2035 itu. Ia pun meminta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengkaji ulang rancangan PJPN 202-2035 tersebut.<\/p>\n<p>\u201cJika frasa agama tersebut nantinya benar-benar dihilangkan dari PJPN, maka ini bisa diartikan bahwa Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud RI telah melanggar konstitusi kita, yakni UUD Negara Republik Indonesia (NRI) Tahun 1945 Bab XIII pasal 31 tentang Pendidikan dan Kebudayaan,\u201d ujar Fadil Rahmi dalam keterangannya, Selasa (9\/3\/2021).<\/p>\n<p>\u201cOleh sebab itu, Mendikbud perlu mengkaji ulang. Karena setiap aturan turunan tidak boleh melanggar peraturan di atasnya. Apalagi, penghilangan frasa \u2018agama\u2019 menunjukkan sekularisasi pendidikan nasional yang memiliki nilai dasar moral yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Fadhil mengingatkan agar para pejabat pemerintahan, apalagi yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan anak-anak bangsa, agar selalu melihat kembali kesepakatan-kesepakatan dalam bernegara kita ketika NKRI dibentuk.<\/p>\n<p>Dengan begitu, dalam menetapkan kebijakan pemerintahan tidak menggunakan paradigma negara sekuler yang tidak menempatkan agama sebagai faktor dalam pengambilan kebijakan dan keputusan.<\/p>\n<p>\u201cIni akan menjauhkan generasi muda kita para pembelajar dari kultur yang dibangun selama ini. Pendidikan model sekuler tidak cocok diterapkan di Indonesia,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>\u201cOleh sebab itu, kami Komite III DPD RI meminta kepada Kemendikbud agar tidak lupa seperti apa landasan dan bangunan serta ideologi pendidikan nasional kita,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Seperti diketahui, Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menuai polemik.<\/p>\n<p>Pasalnya, dalam draf sementara Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035, frasa &#8216;agama&#8217; dihapus kemudian digantikan dengan akhlak dan budaya. (IA)<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/18023?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh \u2013 Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menyoroti hilangnya frasa \u2018agama\u2019 dalam rancangan Peta Jalan Pendidikan Nasional (PJPN) 2020-2035. Menurut Anggota Komite III DPD RI asal Aceh HM Fadhil Rahmi Lc penghilangan frasa \u2018agama\u2019 pada rancangan PJPN itu menuai kontroversi dan telah mendapatkan sorotan dari berbagai ormas Islam, antara lain [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":18024,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-18023","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2021\/03\/IMG-20210309-WA0046.jpg?fit=204%2C300&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/18023","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=18023"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/18023\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/18024"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=18023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=18023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=18023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}