{"id":21337,"date":"2021-05-19T21:12:45","date_gmt":"2021-05-19T14:12:45","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=21337"},"modified":"2021-05-19T21:12:45","modified_gmt":"2021-05-19T14:12:45","slug":"palestina-terus-digempur-israel-di-mana-negara-negara-arab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2021\/05\/19\/palestina-terus-digempur-israel-di-mana-negara-negara-arab\/","title":{"rendered":"Palestina Terus Digempur Israel: Di Mana Negara-negara Arab?"},"content":{"rendered":"<p><b>JAKARTA<\/b> &#8212; Di tengah gempuran Israel, Palestina berseru meminta bantuan. Di hadapan anggota Organisasi Kerja Sama Islam, Palestina mempertanyakan komitmen negara-negara Arab, terutama yang baru saja menormalisasi hubungan dengan Israel.<\/p>\n<p>&#8220;Normalisasi dan masuk ke dalam sistem kolonial Israel sebelum mencapai perdamaian dan penghentian okupasi Israel atas tanah Arab dan Palestina berarti mendukung rezim apartheid dan berpartisipasi dalam kejahatan mereka,&#8221; ujar Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki.<\/p>\n<p>Ia kemudian berkata, &#8220;Okupasi kolonial ini harus dilawan, dihancurkan, diakhiri, dan dilarang. Percepatan normalisasi belakangan ini tak akan berdampak pada sentimen terhadap dunia Arab.&#8221;<\/p>\n<p>Pengamat hubungan internasional dari The Habibie Center, Ibrahim Almuttaqi, menilai normalisasi ini memang hanya menguntungkan Israel.<\/p>\n<p>&#8220;Perjanjian ini akan lebih menguntungkan Israel daripada negara-negara Arab. Israel telah memenangkan status tertinggi (atas) pengakuan internasional oleh (negara) tetangga Arab-nya,&#8221; kata Ibrahim kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Sejumlah pengamat pun menganggap pernyataan Maliki tersebut sebagai cerminan rasa frustrasi Palestina yang seolah &#8220;ditinggal&#8221; negara-negara Arab kala Jalur Gaza terus dibombardir oleh Israel hingga lebih dari 200 nyawa melayang.<\/p>\n<p>Mesir dan Yordania sebagai negara Arab yang sudah sejak lama menormalisasi hubungan dengan Israel, memang menyatakan bahwa mereka akan membantu proses negosiasi, tapi belum ada bentuk konkritnya hingga kini.<\/p>\n<p>Sementara itu, sejumlah negara Arab lainnya &#8220;irit&#8221; bicara, terutama mereka yang baru saja menormalisasi hubungan dengan Israel, yaitu Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan.<\/p>\n<p>Seorang ahli politik dari UEA, Abdulkhaleq Abdulla, mengatakan bahwa Israel memang membuat negara-negara yang baru saja menormalisasi hubungan terjerumus dalam posisi canggung.<\/p>\n<p>&#8220;Israel sekarang ini membuat teman dan rekan-rekannya, termasuk UAE, di posisi sulit; posisi canggung. Saya rasa posisi ini akan membuat kami kembali ke titik nol,&#8221; ujar Abdulla kepada The Wall Street Journal.<\/p>\n<p>Posisi canggung ini mengimpit keempat negara tersebut dalam perpecahan di dalam negerinya sendiri. Di Bahrain, warga menggelar aksi simpati untuk Palestina.<\/p>\n<p>Sementara itu di Uni Emirat Arab, masyarakat terbelah dua. Sebagian warga masih menyuarakan dukungan terhadap Palestina, tapi ada pula yang membela pemerintahnya untuk mendukung Israel karena menganggap Hamas sebagai penghancur.<\/p>\n<p>&#8220;Hamas meluncurkan roket dari kawasan warga sipil dan ketika balasan datang, Hamas bertanya, &#8216;Di mana negara Arab dan Muslim?&#8217; Kalian yang membuat Gaza menjadi kuburan massal bagi warga tak bersalah dan anak-anak,&#8221; ujar seorang tokoh Muslim di UEA, Waseem Yousef, melalui Twitter.<\/p>\n<p>Direktur Council for Arab-British Understanding (CAABU), Chris Doyle, menganggap bahwa UEA sebenarnya bisa saja membuat pernyataan membela Palestina tanpa terdengar mendukung Hamas, tapi mereka tak melakukannya.<\/p>\n<p>&#8220;Ini memberikan sinyal bahwa pemimpin UEA tak akan mengubah aliansinya dengan Israel, yang dianggap akan berharga bagi rencana mereka ke depan; termasuk melawan Iran, Turki, dan Muslim Brotherhood,&#8221; tutur Doyle kepada The Guardian.<\/p>\n<p>Belum lagi, UEA dan sejumlah negara Arab lainnya kini sedang menjajaki kerja sama investasi dengan Israel yang mencakup sektor pariwisata, energi, hingga teknologi.<\/p>\n<p>Melihat sikap pemerintah ini, tanda pagar #PalestineIsNotMyCause semakin menggema di jagat maya sejumlah negara-negara Teluk.<\/p>\n<p>Tagar ini sebenarnya sudah muncul sejak akhir April lalu. Saat itu, sejumlah analis politik Palestina menduga Arab Saudi menjadi dalang di balik penyebaran tagar tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Tak diragukan lagi, beberapa orang dari Arab Saudi ada di balik kampanye ini. Jelas mereka menerima bantuan dari aktivis Israel,&#8221; ujar seorang analis politik Palestina di Ramallah kepada The Jerusalem Post.<\/p>\n<p>Belakangan, Saudi juga dilaporkan bakal mengikuti jejak UEA untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Dugaan ini kian kuat setelah Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, secara diam-diam bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akhir tahun lalu.<\/p>\n<p>Di Mana Arab Saudi?<\/p>\n<p>Meski demikian, sejumlah pengamat menganggap Saudi masih menjaga jarak aman dengan Israel, terutama karena warganya yang konservatif.<br \/>\n&#8220;Arab Saudi tetap merupakan (negara dengan) masyarakat yang sangat konservatif dan legitimasi pemerintah terletak pada statusnya sebagai pembela Islam, termasuk perjuangan Palestina,&#8221; ujar Ibrahim.<\/p>\n<p>Ibrahim kemudian berkata, &#8220;Jika Arab Saudi meninggalkan Palestina, kita mungkin melihat Iran menjadi lebih berpengaruh dalam masalah ini, dan ini adalah sesuatu yang ingin dihindari oleh Arab Saudi.&#8221;<\/p>\n<p>Dalam pertemuan OKI pada Minggu (16\/5) pun Saudi mengecam sikap Israel, meski tak menyebut langsung serangan udara di Jalur Gaza.<\/p>\n<p>Peneliti dari badan think tank Inggris, Chatham House, Neil Quilliam, menganggap situasi sekarang ini dapat menjadi momen bagi Saudi untuk memikirkan ulang rencana normalisasi hubungan tersebut.<\/p>\n<p>Quilliam mengatakan kepada Reuters bahwa Saudi setidaknya bisa menunda proses tersebut hingga beberapa tahun ke depan.<\/p>\n<p>Seorang warga Saudi, Abdulrahman al-Towajry, mengatakan kepada Reuters bahwa ia berharap pemerintahnya benar-benar memikirkan ulang rencana normalisasi hubungan dengan Israel.<\/p>\n<p>Ia pun mengkritik UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko yang menyatakan bahwa normalisasi itu dapat membuat mereka lebih leluasa berdiskusi dengan Israel dan pada akhirnya berujung ke kemerdekaan Palestina. Namun menurut al-Towajry, Israel sangat tak bisa dipercaya.<\/p>\n<p>&#8220;Ada kekuatan dalam persatuan, maka jika negara-negara Arab dan Muslim bersatu, konflik ini akan berakhir. Sebenarnya semua ini sudah bisa berakhir sejak dulu jika mereka bersatu,&#8221; tutur al-Towajry.<\/p>\n<p>Senada dengan al-Towajry, profesor ilmu politik Teluk dari Universitas Waterloo, Bessma Momani, juga menganggap negara-negara Arab jelas tak dapat menahan Israel dengan menormalisasi hubungan.<\/p>\n<p>&#8220;Ini merupakan momen memalukan bagi negara-negara Teluk. Mereka jelas tak dapat mencegah Israel menyerang Gaza. Saya rasa mereka tak punya pengaruh apapun terhadap politik Israel sekarang ini,&#8221; ucap Momani kepada NPR.<\/p>\n<p>Ia kemudian berkata, &#8220;Menurut saya, ini membuat mereka terlihat lemah di hadapan publik. Sudah pasti, mereka memberikan kesepakatan normalisasi untuk Israel, tapi tak mendapatkan apapun untuk warga Palestina.&#8221; (IA)<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/21337?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8212; Di tengah gempuran Israel, Palestina berseru meminta bantuan. Di hadapan anggota Organisasi Kerja Sama Islam, Palestina mempertanyakan komitmen negara-negara Arab, terutama yang baru saja menormalisasi hubungan dengan Israel. &#8220;Normalisasi dan masuk ke dalam sistem kolonial Israel sebelum mencapai perdamaian dan penghentian okupasi Israel atas tanah Arab dan Palestina berarti mendukung rezim apartheid dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":21339,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-21337","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2021\/05\/IMG-20210519-WA0037.jpg?fit=704%2C435&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/21337","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=21337"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/21337\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/21339"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=21337"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=21337"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=21337"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}