{"id":3171,"date":"2020-04-22T22:08:51","date_gmt":"2020-04-22T15:08:51","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=3171"},"modified":"2020-04-22T22:08:51","modified_gmt":"2020-04-22T15:08:51","slug":"keramaian-saat-hari-meugang-di-tengah-pandemi-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2020\/04\/22\/keramaian-saat-hari-meugang-di-tengah-pandemi-covid-19\/","title":{"rendered":"Keramaian Saat Hari Meugang di Tengah Pandemi Covid-19"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Keramaian masyarakat Aceh di pasar daging meugang menyambut bulan suci Ramadan 1441 Hijriah di tengah kondisi pandemi Covid-19, Rabu (22\/4).<\/strong><\/h6>\n<strong>Banda Aceh<\/strong> &#8212; Meskipun di tengah kondisi pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) saat ini, namun antusiasme warga Aceh untuk membeli daging sebagai tradisi guna memenuhi kebutuhan pada hari meugang (punggahan) ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1441 Hijriah, masih tetap tinggi.\n\nAkibatnya, suasana keramaian pun terlihat jelas di pasar-pasar dadakan seantero Aceh yang menjual daging hari meugang pertama, Rabu (22\/4). Masyarakat pun terutama kaum laki-laki menyesaki pasar sejak pagi hingga siang menjelang sore.\n\nHal ini tentunya sangat mengkhawatirkan di tengah seruan dan anjuran dari Pemerintah agar masyarakat dapat mematuhi protokol kesehatan dalam upaya pencegahan penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang tengah mewabah.\n\nTapi, yang namanya keramaian pada hari meugang bagi warga Aceh saat menyambut datangnya bulan Ramadan seperti saat ini, sulit dihindari karena sudah menjadi tradisi turun temurun.\n\nMakmeugang, sebutan lazim untuk tradisi meugang bahkan telah menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda Nasional 2016 dari Aceh untuk kategori Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan.\n\nTradisi meugang merupakan sebuah tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat Aceh dan dilaksanakan di semua wilayah dalam provinsi Aceh, khususnya pada umat Islam. Tradisi ini berupa pemotongan hewan, umumnya lembu atau kerbau.\n\nMeugang adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh.\n\nKegiatan sakral menyembelih hewan ternak besar ini dilaksanakan setahun tiga kali, yakni saat menyambut bulan Ramadan, Lebaran Idulfitri dan Iduladha. Sapi dan kerbau yang disembelih berjumlah ratusan hingga ribuan ekor yang dijual di pasar.\n\nSelain kerbau dan sapi, masyarakat Aceh di kampung-kampung juga menyembelih kambing, ayam dan bebek. Tradisi Meugang di desa biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadan atau hari raya, sedangkan di kota berlangsung dua hari sebelum Ramadan atau hari raya. Biasanya masyarakat memasak daging di rumah, untuk disantap bersama keluarga atau tetangga sekitar.\n\nUntuk mendapatkan daging meugang, warga Aceh biasanya mendatangi pasar untuk membelinya, sehingga pasar dalam sekejap langsung berubah menjadi pusat keramaian.\n\nHal yang paling mengkhawatirkan adalah, banyak warga termasuk penjual daging tingkat kesadarannya rendah untuk pencegahan Covid-19. Ketika berada di tempat keramaian seperti itu, banyak warga yang tidak patuh atau lupa dalam menjaga jarak fisik (physical distancing) dan banyak yang tidak memakai masker.\n\n&#8220;Ketika tidak bisa menghindari keramaian untuk membeli kebutuhan daging hari meugang ini, ternyata sebagian besar warga pengunjung pasar daging pun banyak yang lalai dalam menjaga jarak, apalagi tanpa masker yang menutupi mulut dan hidungnya,&#8221; kata Ridwan, seorang warga Banda Aceh.\n\nSebelumnya, Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyampaikan Pemerintah Aceh tidak melarang masyarakat menggelar tradisi meugang menyambut Ramadan 1441 Hijriah di tengah pandemi Corona. Namun, masyarakat diminta tetap disiplin menjaga jarak (physical distancing) dan memperhatikan protokol kesehatan.\n\nMasyarakat juga diminta tidak membuat kerumunan atau keramaian seperti meugang tahun-tahun sebelumnya.\n\n\u201cTermasuk ritual kulturalnya meugang, itu protokolnya sama saya pikir tidak dilakukan meugang seperti biasanya,\u201d kata Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah.\n\nMeugang ini berlangsung selama dua hari sebelum Ramadan, yakni pada Rabu dan Kamis (22-23\/4). Sementara puasa Ramadan mulai Jum&#8217;at (24\/4).\n\n\u201cMeugang mungkin ada dalam hati kita, dengan prosesi sesuai protokol jaga jarak (physical distancing), tidak berkerumun, dan selalu menggunakan masker,\u201d terang Nova.\n\nSementara itu, harga daging pada hari meugang pertama di Aceh, Rabu (22\/4) berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 180 ribu per kilogram. Bahkan di beberapa daerah harga daging ada yang mencapai Rp 200 ribu per kilogram.\n\nSementara itu, Sekretaris Daerah Aceh Besar Iskandar, ikut melakukan pengecekan harga daging meugang di Pasar Induk Lambaro sekaligus membagi-bagikan masker untuk para masyarakat dan pedagang di pasar, Rabu (22\/4).\n\nMenurutnya, harga daging meugang di Pasar Induk Lambaro masih normal seperti biasanya. \u201cSampai pagi tadi harga daging masih normal meskipun di masa pandemi Corona seperti ini, harga daging perkilo Rp 150.000 masih seperti tahun lalu,\u201d ucapnya.\n\nIa mengatakan, Pemerintah hanya memastikan roda perekonomian berjalan dengan normal dan ketersediaan stok bagi masyarakat terus ada.\n\n\u201cYang paling penting stok kebutuhan bahan pokok bagi masyarakat tersedia dan jangan sampai terjadi lonjakan harga dan kekosongan stok pada saat jelang Ramadan ini,\u201d tuturnya.\n\nTerkait harga daging, menurut Iskandar, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar tidak bisa mengambil kebijakan tertentu terkait harga daging pada saat meugang.\n\n\u201cIya, untuk saat ini kita tidak bisa intervensi soal harga, karena ini juga musiman, dan Alhamdulillah harganya masih normal meskipun saat ini sedang pandemi Corona,\u201d terangnya.\n\nIa menjelaskan, saat pandemi ini yang paling penting adalah menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran virus Corona, maka menggunakan masker dan menjaga jarak fisik adalah hal yang sangat penting.\n\n\u201cPasar menjadi tempat transaksi dan tempat berkumpul banyak orang, makanya memakai masker itu penting, makanya di hari ini kita juga membagi masker untuk pedagang dan masyarakat,\u201d jelasnya. (m)\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3171?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keramaian masyarakat Aceh di pasar daging meugang menyambut bulan suci Ramadan 1441 Hijriah di tengah kondisi pandemi Covid-19, Rabu (22\/4). Banda Aceh &#8212; Meskipun di tengah kondisi pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) saat ini, namun antusiasme warga Aceh untuk membeli daging sebagai tradisi guna memenuhi kebutuhan pada hari meugang (punggahan) ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3172,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[27],"tags":[],"class_list":["post-3171","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2020\/04\/IMG-20200422-WA0030.jpg?fit=960%2C640&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=3171"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/3171\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/3172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=3171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=3171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=3171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}