{"id":35765,"date":"2022-02-19T22:52:58","date_gmt":"2022-02-19T15:52:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=35765"},"modified":"2022-02-19T22:52:58","modified_gmt":"2022-02-19T15:52:58","slug":"gelar-pahlawan-nasional-mengecilkan-sultan-malikussaleh-sebagai-tokoh-besar-islam-di-asia-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2022\/02\/19\/gelar-pahlawan-nasional-mengecilkan-sultan-malikussaleh-sebagai-tokoh-besar-islam-di-asia-tenggara\/","title":{"rendered":"Gelar Pahlawan Nasional Mengecilkan Sultan Malikussaleh Sebagai Tokoh Besar Islam di Asia Tenggara"},"content":{"rendered":"<p><strong>LHOKSEUMAWE<\/strong> \u2013 Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) merasa prihatin dengan informasi yang beredar di Aceh bahwa pihak tertentu terkesan berupaya mengecilkan kiprah besar Sultan Al-Malik Ash-Shalih atau Sultan Malikussaleh, pendiri Kerajaan Islam Samudra Pasai.<\/p>\n<p>Berdasarkan informasi yang setidaknya sudah berkembang sejak dua tahun lalu dan kini kembali dimunculkan oleh kalangan tertentu di Aceh, Sultan Malikussaleh akan diusulkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional.<\/p>\n<p>\u201cCisah kecewa dengan isu yang berkembang dua tahun terakhir ini, dimana Sultan pertama Samudra Pasai dikaitkan dengan deretan pahlawan kemerdekaan Indonesia dan diusulkan untuk dicatat sebagai Pahlawan Nasional. Kami menilai ini sebuah upaya pengkerdilan terhadap kiprah besar Sultan Al-Malik Ash-Shalih,\u201d kata Ketua Cisah Abd. Hamid, Jum&#8217;at (18\/2).<\/p>\n<p>Menurut Abd. Hamid, kenapa tidak misalnya diusulkan Pang Nanggroe, Pang Usuh, Pleton Karya, Pang Saleh, dan lain-lain, yang andil mereka sangat jelas di masa-masa pra kemerdekaan Indonesia, jika pihak tertentu ingin mengusulkan atau menambah nama-nama pahlawan nasional dari Aceh.<\/p>\n<p>\u201cHemat kami, sejarah wajib menempatkan tokoh-tokoh secara proporsional,\u201d ujar Abd. Hamid akrab disapa Abel Pasai.<\/p>\n<p>Abd. Hamid menegaskan bahwa Sultan Malik Ash-Shalih merupakan seorang yang bergelar \u201cSulthan\u201d paling awal di seluruh kawasan Asia Tenggara. \u201cBeliau punya hak sejarah untuk dikenal oleh masyarakat dunia sebagai tokoh besar dunia Islam,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Wakil Ketua Cisah, Sukarna Putra, menjelaskan Al-Malik Ash-Shalih adalah pemimpin pertama dalam perpolitikan Islam tertinggi untuk kawasan Asia Tenggara yang bergelar sultan. \u201cGelar Sultan adalah jabatan kepemimpinan Islam tertinggi kedua di bawah khalifah,\u201d ujar Sukarna Putra yang juga peneliti sejarah Islam.<\/p>\n<p>Menurut Sukarna Putra, dalam kitab \u201cHusnul Muhazharah\u201d karya Imam Jalaluddin As Suyuti disebutkan, syarat seseorang menyandang gelar Sultan, harus memiliki beberapa syarat utama.<\/p>\n<p>Pertama, dia harus memiliki 10.000 bala tentara perang. Kedua, setiap setahun sekali harus keluar ke medan jihad. Ketiga, setiap setahun kawasannya harus meluas, barulah ia dianggap Sultan yang agung.<\/p>\n<p>\u201cSultan Al-Malik Ash-Shalih memiliki beberapa keistimewaan dalam masa kepemimpinannya sebagai founding father, peletak fondasi dasar dalam memangku dakwah untuk kawasan Asia Tenggara yang luas, dengan kepribadiaannya tersebut dan terus diikuti oleh penerusnya,\u201d tutur Sukarna Putra yang juga ahli epigrafi.<\/p>\n<p>Oleh karena itulah, kata Sukarna Putra, wajah Asia Tenggara berhasil diubah oleh Samudra Pasai yang terawal dan diikuti oleh beberapa kerajaan lainnya yang menganut konsep yang sama.<\/p>\n<p>\u201cMereka semua mampu mengubah kepercayaan masa klasik (Hindu-Buddhis) ke wajah Rahmatan lil \u2018Alamin, yakni Islam, mengikuti konsep Samudra Pasai,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Sukarna Putra memaparkan beberapa sifat yang melekat pada sosok Sultan Al-Malik Ash-Shalih yang terekam pada batu nisan bagian selatan pusaranya. Yakni, At-Taqiy (yang bertaqwa), An-Nashih (pemberi nasihat), Al-Hasib (yang berasal dari keturunan terhormat), An-Nasib (yang terkenal), Al-\u2018Abid (ahli ibadah), dan Al-Fatih (sang pembebas).<\/p>\n<p>Dalam sejarah Islam, kata Sukarna Putra, kita tidak asing lagi dengan gelar Al-Fatih milik dari Sultan Utsmani, Muhammad Al Fatih pada pertengahan abad ke-15 Masehi yang berhasil membebaskan Konstantinopel.<\/p>\n<p>\u201cTapi sungguh, sekitar 200 tahun sebelum itu, di Asia Tenggara telah hadir sosok Al Fatih yang kiprahnya dalam menerima serta mengembangkan Islam untuk kawasan yang sangat luas,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u201cPembebasan yang dilakukan oleh Al-Malik Ash-Shalih, dan realita dari perjuangan beliau berabad silam dapat disaksikan sekarang adalah, berdirinya negara-negara baru di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya Indonesia hari ini sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, dan mazhab Syafi\u2019i adalah fikih yang menjadi acuan hukumnya,\u201d tegas Sukarna Putra. (IA)<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/35765?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LHOKSEUMAWE \u2013 Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) merasa prihatin dengan informasi yang beredar di Aceh bahwa pihak tertentu terkesan berupaya mengecilkan kiprah besar Sultan Al-Malik Ash-Shalih atau Sultan Malikussaleh, pendiri Kerajaan Islam Samudra Pasai. Berdasarkan informasi yang setidaknya sudah berkembang sejak dua tahun lalu dan kini kembali dimunculkan oleh kalangan tertentu di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":35766,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-35765","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2022\/02\/IMG-20220219-WA0059.jpg?fit=678%2C452&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/35765","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=35765"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/35765\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/35766"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=35765"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=35765"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=35765"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}