{"id":4223,"date":"2020-06-01T01:49:47","date_gmt":"2020-05-31T18:49:47","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=4223"},"modified":"2020-06-01T01:49:47","modified_gmt":"2020-05-31T18:49:47","slug":"pemuka-katolik-aplikasi-kitab-suci-aceh-tidak-sesuai-kearifan-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2020\/06\/01\/pemuka-katolik-aplikasi-kitab-suci-aceh-tidak-sesuai-kearifan-lokal\/","title":{"rendered":"Pemuka Katolik: Aplikasi &#8216;Kitab Suci Aceh&#8217; Tidak Sesuai Kearifan Lokal"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Aceh, Baron F Pandiangan.<\/strong><\/h6>\n<p><strong>Banda Aceh<\/strong> &#8212; Pemuka Katolik di Aceh, Baron F Pandiangan menyayangkan munculnya aplikasi &#8216;Kitab Suci Aceh&#8217; di Google Playstore. Aplikasi tersebut berisi terjemahan Injil, Taurat dan Zabur dalam bahasa Aceh.<\/p>\n<p>Baron mengatakan, jika merujuk pada nama aplikasi dan isinya sangat rancu dan tidak sesuai.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, meskipun aplikasi tersebut berisi terjemahan kitab Injil, namun isinya tidak bisa dijadikan rujukan untuk umat Katolik.<\/p>\n<p>&#8220;Bahkan untuk Katolik sendiri, isi kitab yang ditampilkan tidak bisa menjadi rujukan Alkitab resmi, karena pada dasarnya Alkitab yang diterbitkan oleh lembaga Alkitab Indonesia maupun terbitan lembaga Biblika Indonesia,&#8221; ujar Baron, Minggu (31\/5).<\/p>\n<p>Pria yang juga menjabat Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Aceh itu menduga, aplikasi tersebut diunggah oleh oknum yang tidak paham kearifan lokal Aceh.<\/p>\n<p>&#8220;Dugaaan kami sementara bahwa aplikasi Kitab Suci Aceh dibuat oleh oknum yang tidak memahami local wisdom Aceh yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi yang membangun kerukunan antar maupun intern umat beragama,&#8221; kata Baron F Pandiangan.<\/p>\n<p>Baron menyampaikan apresiasi terhadap Pemerintah Aceh yang telah menyatakan keberatannya terhadap keberadaan aplikasi tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Kami juga mendukung bila Pemerintah Aceh mengambil langkah-langkah sesuai prosedur hukum berlaku untuk menyampaikan nota keberatan bahwa aplikasi itu berpotensi membuka peluang ketidak rukunan, sekaligus meminta kepada pihak Google untuk menghapus aplikasi tersebut,&#8221; sebut Baron.<\/p>\n<p>Sebelumnya, Kanwil Kemenag Aceh melalui Kasubbag Kerukunan Umat Beragama dan Ortala, M Nasril Lc MA menyatakan keberatan atas pencatutan nama Aceh pada aplikasi terjemahan tersebut. Kemenag Aceh menyatakan, mencatut nama Aceh dalam aplikasi ini hanya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>Ia mengatakan, pihaknya meminta pihak pengembang aplikasi tersebut untuk segera mengubah nama dan mencopot aplikasi tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Aceh sangat rukun saat ini, jangan usik kerukunan tersebut hanya dengan aplikasi, kami mohon kepada pembuat untuk untuk segera mencopotnya,&#8221; kata Nasril. (IA)<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/4223?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Aceh, Baron F Pandiangan. Banda Aceh &#8212; Pemuka Katolik di Aceh, Baron F Pandiangan menyayangkan munculnya aplikasi &#8216;Kitab Suci Aceh&#8217; di Google Playstore. Aplikasi tersebut berisi terjemahan Injil, Taurat dan Zabur dalam bahasa Aceh. Baron mengatakan, jika merujuk pada nama aplikasi dan isinya sangat rancu dan tidak sesuai. Ia menjelaskan, meskipun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4224,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4223","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2020\/06\/IMG-20200601-WA0003.jpg?fit=700%2C580&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/4223","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=4223"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/4223\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/4224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=4223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=4223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=4223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}