{"id":4845,"date":"2020-06-19T08:21:45","date_gmt":"2020-06-19T01:21:45","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=4845"},"modified":"2020-06-19T08:21:45","modified_gmt":"2020-06-19T01:21:45","slug":"tahmid-kalimat-peunutoh-ahli-surga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2020\/06\/19\/tahmid-kalimat-peunutoh-ahli-surga\/","title":{"rendered":"Tahmid: Kalimat Peunutoh Ahli Surga"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LL.M*<\/strong><\/p>\n<p><strong>Saat<\/strong> masa jahiliyah, manusia mengaitkan nikmat karena berhala yang disembah. Di era modern ini, manusia mengaitkan nikmat dengan harta, fasilitas hidup, jabatan, pengaruh dan lain sebagainya. Sehingga saat manusia bisa memusnahkan itu semua dan menyakini bahwa nikmat itu semua karena Allah, membuat begitu senangnya Allah kepada manusia.<\/p>\n<p>Dalam hadits qudsi diceritakan ketika manusia mengucapkan \u201cAlhamdulillahirabbil \u2018\u0101lam\u012bn\u201d sebagai tanda syukur atas curahan nikmat yang diberikan Allah. Segera Allah membalas \u201cHamidan\u012b \u2018abd\u012b\u201d (Hamba-Ku telah memuji-Ku). Ekspresi kebahagian Allah saat dipuji.<br \/>\nSemua kalimat pujian dalam Al-Qur\u2019an dan hadits hadir dalam bentuk kal\u0101m khabar\u012b (kalimat berita) tanpa dikaitkan kepada pembicara (bid\u016bnil isn\u0101d il\u0101 mutakallim).<\/p>\n<p>Misalnya Al\u1e25amdulill\u0101h (segala puji bagi Allah), Sub\u1e25\u0101nall\u0101h (Maha Suci Allah) dan bukannya \u1e25amidtull\u0101h (saya memuji Allah) dan sabba\u1e25tull\u0101h (saya menyucikan Allah). Dalam ilmu bal\u0101gh\u0101h (sastra Arab) terdapat perbedaan kesan makna yang ditinggalkan pada ucapan \u201csaya menghormati presiden\u201d dengan \u201cpresiden orang terhormat\u201d.<\/p>\n<p>Dalam ucapan pertama meninggalkan kesan sanjungan kita kepada presiden sepihak, atau karena ada kepentingan. Tetapi pada ucapan kedua tersirat kesan siapa saja yang menghina presiden salah. Karena kehormatan presiden telah dipakemkan dalam ucapan \u201cpresiden orang terhormat\u201d. Begitu juga dalam Al-Qur\u2019an dan hadits, Allah mengajarkan manusia kalimat pujian dalam bentuk pakem seperti Al\u1e25amdulill\u0101h (ta\u1e25m\u012bd), Sub\u1e25\u0101nall\u0101h (tasb\u012b\u1e25), L\u0101 ilaha ill\u0101llah (tahl\u012bl), dan L\u0101 \u1e25awla wa l\u0101 quwwata ill\u0101 bill\u0101h (hawqalah). Sehingga jika manusia tidak memuji Allah, muncul kesan salah terhadap sikap itu.<\/p>\n<p>Dalam tasawuf Allah bukan hanya senang dipuji, tapi memang patut dipuji. Meskipun dalam bacaan banyak orang (baca: awam) tidak semua peristiwa di dunia ini menyenangkan. Ada penderitaan, kesedihan, bencana, musibah dan lain sebagainya. Apakah kejadian-kejadian itu patut disyukuri?<\/p>\n<p>Dalam ajaran tasawuf ditanamkan suatu kesadaran spiritual mengenai alam semesta sebagai arena tempat seluruh tindakan Tuhan dipertunjukkan (the unfloding of divine attributes). Dunia adalah panggung penyingkapan diri Allah kepada manusia.<\/p>\n<p>Peristiwa ini dalam tasawuf disebut sebagai proses tajall\u012b. Sebagaimana zat dan sifat Allah Yang Maha Sempurna, perbuatan dan tindakan-Nya juga sempurna jauh dari kata kurang apalagi cacat.<\/p>\n<p>Dalam Ihy\u0101\u2019 \u2018Ul\u016bmidd\u012bn, Al-Ghaz\u0101l\u012b (w. 1111 M) menulis satu bab khusus yang berjudul \u201cKit\u0101bul Taw\u1e25\u012bd wa Tawakkul\u201d (pembahasan mengenai tauhid dan tawakkal). Menurut al-Ghaz\u0101l\u012b \u201claisa f\u012b al-imk\u0101n abda\u2019u mimm\u0101 k\u0101na\u201d (tak ada dunia yang lebih sempurna ketimbang dunia yang sudah ada sekarang).<\/p>\n<p>Bagi sebagian orang pernyataan ini menjadi problematis: Jika dunia yang ada sekarang ini sudah paling baik, artinya Allah \u201ctak mampu\u201d mencipta dunia yang lebih baik lagi. Dengan kata lain, Allah tidak sempurna kekuasaannya.<\/p>\n<p>Untuk membela dirinya, al-Ghaz\u0101l\u012b mengutip Ab\u016b \u1e6c\u0101lib al-Makk\u012b (w. 998 M) dalam Q\u016btul Qul\u016bb yang mengatakan \u201cAndai saja Allah menciptakan seluruh manusia di bumi ini dalam keadaan yang paling sempurna, menjadikan mereka sebagai manusia dengan kecerdasan super. Kemudian diberitahu kepada mereka semua rahasia segala ilmu pengetahuan. Lalu diminta kepada mereka untuk mencipta ulang dunia, maka yang akan muncul adalah dunia yang sama dengan dunia sekarang\u201d.<\/p>\n<p>Senada dengan al-Ghaz\u0101l\u012b, seorang ulama polymath (mutaba\u1e25\u1e25ir) dari Mesir, Al-Suy\u016b\u1e6d\u012b (w. 1505 M) menulis kitab Tasyy\u012bd al-Ark\u0101n untuk membela al-Ghaz\u0101l\u012b.<\/p>\n<p>Menurutnya \u201cmemang ada kejahatan, penderitaan, penyakit di dunia ini dari dulu sampai sekarang. Tetapi yang sudah ada saat ini adalah bentuk dunia yang paling mungkin dan sempurna\u201d. Jadi apa yang dalam skala kecil kita menganggapnya sebagai penderitaan. Dalam the grand scheme of things (skema besar) bisa merupakan keberkahan.<\/p>\n<p>Inilah yang dimaksud dengan \u201cwa \u2018as\u0101 an takrah\u016b syai\u2019an wa huwa khair\u0101n lakum, wa \u2018as\u0101 an tu\u1e25ibb\u016b syai\u2019\u0101n wa huwa khair\u0101n lakum\u201d, boleh jadi apa yang dipandang buruk baik bagi kalian, dan apa yang dipandang baik belum tentu baik bagi kalian.<\/p>\n<p>Menariknya lagi, Allah menutup surat Al-Baqarah, 216 dengan \u201cwall\u0101hu ya\u2018lamu wa antum l\u0101 ta\u2018lam\u016bn, Allah mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.<\/p>\n<p>Jika dicermati dalam sejarah. Apa yang dikatakan al-Ghaz\u0101l\u012b benar adanya. Setelah terbunuhnya Ali, dan berkuasanya Mu\u2018awiyyah. Keturunan Ali dikejar-kejar dan dibunuh. Hasan mati diracun di Madinah, Husen tewas dipenggal di Karbala.<\/p>\n<p>Keturuan Ali yang lain (\u2018alawiy\u016bn) dikejar-kejar dan dihabisi. Peristiwa ini membuat \u2018alawiy\u016bn banyak hijrah ke negeri yang jauh dari pusat kekuasaan Islam. Tidak sedikit dari mereka bereksodus ke negeri Timur Jauh (far east) seperti Aceh dan lain sebagianya. Dalam kacamata mikrokosmik, kejadian ini merupakan peristiwa kelam bagi \u2018alawiy\u016bn.<\/p>\n<p>Namun dalam skema makrokosmik peristiwa itu membuat proses islamisasi di negeri-negeri Nusantara menjadi mungkin terjadi. Tanpa tragedi genosida kaum, sulit dipahami kaum \u2018alawiyy\u016bn berkenan hijrah ke negeri yang sangat jauh dari tanah kelahiran mereka.<\/p>\n<p>Jika hal ini dipahami, mengucapkan ta\u1e25mid tidak sekedar ketika mendapatkan nikmat. Saat terkena musibah pun sepatutnya kalimat ta\u1e25mid yang meluncur deras dari mulut seorang beriman.<\/p>\n<p>Inilah yang menjelaskan mengapa dalam Surat Y\u016bnus, 10 diterangkan kalimat peunutoh (closing statement) ahli surga adalah \u201cal\u1e25amdulill\u0101hirabbil \u2018\u0101lam\u012bn\u201d. Karena penghuni surgalah yang mengetahui segala yang terjadi di alam semesta ini adalah yang terbaik, persembahan Khaliq kepada makhluk-Nya. Maka pujilah Dia.<\/p>\n<p>*Penulis Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/4845?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LL.M* Saat masa jahiliyah, manusia mengaitkan nikmat karena berhala yang disembah. Di era modern ini, manusia mengaitkan nikmat dengan harta, fasilitas hidup, jabatan, pengaruh dan lain sebagainya. Sehingga saat manusia bisa memusnahkan itu semua dan menyakini bahwa nikmat itu semua karena Allah, membuat begitu senangnya Allah kepada manusia. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4846,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-4845","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-syariah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2020\/06\/IMG-20200619-WA0008.jpg?fit=262%2C280&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/4845","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=4845"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/4845\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/4846"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=4845"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=4845"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=4845"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}