{"id":48702,"date":"2022-11-01T22:16:25","date_gmt":"2022-11-01T15:16:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=48702"},"modified":"2022-11-01T22:16:25","modified_gmt":"2022-11-01T15:16:25","slug":"rekam-jejak-11-kali-tsunami-menerjang-aceh-dipamerkan-di-museum-tsunami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2022\/11\/01\/rekam-jejak-11-kali-tsunami-menerjang-aceh-dipamerkan-di-museum-tsunami\/","title":{"rendered":"Rekam Jejak 11 Kali Tsunami Menerjang Aceh Dipamerkan Di Museum Tsunami"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH<\/strong>&#8212; UPTD Museum Tsunami Aceh menggelar pameran temporer bertajuk \u201cJendela Masa Lalu\u201d untuk mengenang tsunami yang pernah terjadi di Tanah Rencong.<\/p>\n<p>Pameran itu dibuka Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal di Museum Tsunami, Selasa, 1 November 2022.<\/p>\n<p>Almuniza menyampaikan, pameran temporer ini bertujuan sebagai penyadaran bagi masyarakat, bahwa Aceh adalah daerah rawan bencana. Pameran ini juga merepresentasikan dari gua yang ada di wilayah Aceh Besar yaitu Gua Ek Leuntie.<\/p>\n<p>Dari hasil penelitian, kata Almuniza, Aceh merupakan salah satu daerah yang memasuki Sunda Megathrust yang rawan akan bencana alam. Berdasarkan informasi tersebut, selama ini ada 11 kali bencana tsunami menerjang Aceh.<\/p>\n<p>\u201cSaya mengajak seluruh masyarakat apabila ingin mengetahui tentang 11 kali tsunami Aceh, maka datanglah ke pameran temporer ini. Insya Allah teman-teman akan mendapatkan informasi yang utuh dan lengkap. Dan bisa langsung melihat lapisan-lapisan 11 kejadian tsunami di museum ini,\u201d kata Almuniza.<\/p>\n<p>Menurutnya dari penelitian, Gua Ek Leuntie menjadi salah satu yang memiliki jejak bagaimana tsunami pernah melanda Aceh di masa lalu. Pihaknya saat ini tengah berupaya agar gua tersebut bisa dijadikan sebagai lokasi wisata dan tempat riset untuk ilmu pengetahuan.<\/p>\n<p>\u201cDisbudpar pasti sudah memikirkan untuk menjadikan Gua Ek Leuntie sebagai destinasi wisata dan akan menjadi sebagai tempat riset untuk diuji kelayakan lebih dalam. Namun bagi masyarakat yang ingin berkunjung tentu silakan, tetapi memiliki izin tertentu agar bisa datang ke sana,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Jika hasil kajian yang mendalam dijadikan destinasi wisata, kata dia, tentu ini akan menjadi peluang untuk bisa mendatangkan wisatawan ke sana dan juga peneliti-peniliti dari luar negeri.<\/p>\n<p>\u201cKita harus lebih mendalami karena apa yang ditinggalkan masa lalu bisa menjadi bukti di masa yang mendatang,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Sebagai informasi, gua tsunami purba atau Gua Ek Leuntie yang terletak di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar ini menjadi bukti bahwa tsunami hebat pernah melanda Aceh, jauh sebelum tahun 2004 lalu.<\/p>\n<p>Gua ini disebut gua tsunami karena adanya gelombang tsunami yang menghantam pesisir wilayah Barat Aceh sejak kurun waktu 7.400 Tahun silam. Hal itu diketahui bahwa terdapat endapan-endapan tanah yang berasal dari gelombang tsunami dan kotoran kelelawar yang hidup di gua tersebut.<\/p>\n<p>Pembukaan pameran kontemporer tsunami Aceh itu juga dihadiri perwakilan dari kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Camat Baiturrahman, TDMRC USK, Museum Aceh, dan Pelestarian Cagar Budaya (PCB). (IA)<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/48702?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH&#8212; UPTD Museum Tsunami Aceh menggelar pameran temporer bertajuk \u201cJendela Masa Lalu\u201d untuk mengenang tsunami yang pernah terjadi di Tanah Rencong. Pameran itu dibuka Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal di Museum Tsunami, Selasa, 1 November 2022. Almuniza menyampaikan, pameran temporer ini bertujuan sebagai penyadaran bagi masyarakat, bahwa Aceh adalah daerah rawan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48703,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-48702","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2022\/11\/WhatsApp-Image-2022-11-01-at-22.14.04.jpeg?fit=739%2C415&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/48702","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=48702"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/48702\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/48703"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=48702"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=48702"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=48702"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}