{"id":5444,"date":"2020-07-03T08:59:53","date_gmt":"2020-07-03T01:59:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=5444"},"modified":"2020-07-03T08:59:58","modified_gmt":"2020-07-03T01:59:58","slug":"surat-al-fatihah-ayat-3-dominasi-rahmat-allah-di-atas-ketentuan-dan-amarah-nya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2020\/07\/03\/surat-al-fatihah-ayat-3-dominasi-rahmat-allah-di-atas-ketentuan-dan-amarah-nya\/","title":{"rendered":"Surat Al-Fatihah Ayat 3: Dominasi Rahmat Allah Di Atas Ketentuan dan Amarah-Nya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\">Oleh: Ustadz Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LL.M*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dalam<\/strong> literatur tasawuf sifat dan nama Allah selalu dibagi ke dalam dua kategori. Sifat jam\u0101l dan sifat jal\u0101l. Sifat jam\u0101l merupakan representasi dari sifat-sifat feminimitas yang melekat pada Allah, seperti ra\u1e25man (pengasih), ra\u1e25\u012bm (penyayang), la\u1e6d\u012bf (lembut), ghaf\u0101r (pengampun) dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya sifat jal\u0101l merupakan pengejawantahan dari karakter maskulinitas Allah, seperti sifat m\u0101lik (penguasa), jabb\u0101r (diktator), day\u0101n (pembalas), muntaqim (pendendam) dan seterusnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlu dicatat, Allah bukanlah zat yang mengenal gender seperti manusia. Allah bukanlah seorang laki-laki dan juga bukan perempuan. Ayat-ayat seperti laisa kamitslihi syai\u2019un (tiada serupa dengan-Nya) dan lam yakun lahu kufuwan a\u1e25ad (tiada sebanding dengan-Nya) cukup tegas melarang kita punya pikiran mujassimah (Anthropomorphism).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun kategori ini dibutuhkan dalam rangka memudahkan penjelasan karakter dari masing-masing sifat Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mulai ayat pertama hingga ayat ketiga surat al-F\u0101ti\u1e25ah, Allah memperkenalkan sifat jam\u0101l yang sangat dominan dalam diri-Nya. Pada ayat pertama, dalam basmalah terdapat dua penyebutan sifat jam\u0101l, yaitu al-ra\u1e25man dan al-ra\u1e25\u012bm yang diulang kembali pada ayat ketiga. Pada awal ayat kedua, Allah memperkenalkan dirinya sebagai zat yang senang dipuji, tercermin dari penggunaan kata ta\u1e25m\u012bd.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sehari-hari, perempuan (feminim) tentu lebih senang dipuji dari pada laki-laki (maskulin). Sedangkan pada akhir ayat kedua, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai rabbul \u2018\u0101lam\u012bn, pencipta, pelindung, pengayom semesta alam. Sifat-sifat yang identik dengan feminimitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ab\u016b \u1e6c\u0101lib al-Makk\u012b dalam kitab Q\u016btul Qul\u016bb menjelaskan bahwa ekspresi feminimitas pada awal surat al-F\u0101ti\u1e25ah menyiratkan hubungan persuasif antara Allah dengan manusia dalam kehidupan dunia. Apa pun kesalahan dan dosa yang diperbuat manusia, selama hayat masih dikandung badan, pasti diampuni jika manusia itu bertaubat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya ekspresi maskulinitas Allah pada ayat keempat dan seterusnya menunjukkan hubungan rigid antara Allah dengan manusia dalam kehidupan akhirat. Sebesar apapun penyesalan manusia tiada gunanya. Saat itu Allah memposisikan dirinya sebagai zat yang didominasi dengan sifat jal\u0101l seperti muntaqim, day\u0101n dan seterusnya. Ini seperti yang digambarkan sendiri oleh Allah dalam Surat al-Mu\u2019min\u016bn ayat 99-100.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengulangan penyebutan sifat ra\u1e25man dan ra\u1e25\u012bm pada ayat ketiga merupakan penegasan dari Allah betapa luasnya kedua sifat Allah ini dibandingkan sifat-sifatnya yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam Surat al-A\u2018r\u0101f ayat 156 Allah menyebut wa ra\u1e25mat\u012b wasi\u2018at kulla syai\u2019in (rahmt-Ku mendominasi segalanya). Saking dominannya sifat ini, Allah menegur Ibrahim yang mengkhususkan rahmat Allah bagi orang beriman saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peristiwa ini dikisahkan Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 126. Dalam ayat tersebut diceritakan, Ibrahim berdoa kepada Allah agar Mekkah dijadikan negeri yang aman sentosa. Ia juga meminta Allah senantiasa mencurahkan rezeki bagi penduduk Mekkah yang beriman kepada Allah dan hari akhir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagian terakhir doa Ibrahim ini mendapatkan koreksian dari Allah. Allah berkata q\u0101la waman kafara faumatti\u2018uhu qal\u012bl\u0101n tsumma a\u1e0d\u1e93arruhu il\u0101 \u2018adz\u0101binn\u0101r (Allah berfirman: bahkan orang kafir pun akan Aku limpahkan karunia-Ku kepada mereka selama di dunia, namun di akhirat mereka akan mendapat azab neraka).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kitab Tadzkiratul Awliy\u0101\u2019, Syaikh Fariduddin al-\u2018A\u1e6d\u1e6d\u0101r mengisahkan wanita mandul yang mendatangi Nabi Musa AS. Perempuan itu punya hajat yang ingin disampaikan. \u201cWahai Nabi, sampaikan kepada Allah, bahwa aku menginginkan seorang keterunan\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejurus kemudian, Nabi yang bergelar kal\u012bmull\u0101h (teman bicara Allah) ini bermunajat kepada Allah. Munajatnya Musa dijawab Allah, \u201cHei Musa, Aku telah menentukan perempuan yang medatangimu itu sebagai wanita \u2018aq\u012bm (mandul). Maka Musa menyampaikan hal itu kepada si wanita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selang beberapa waktu Musa mendapati wanita itu menggendong seorang bayi. \u201cAnak siapakah itu?\u201d, tanya Musa penasaran. \u201cIni anakku\u201d, jawab perempuan itu. Musa menyergah, \u201cBukankah Allah telah menentukanmu sebagai wanita mandul?\u201d. \u201cBenar\u201d, jawab perempuan tadi, \u201cTapi aku tetap meminta kepada-Nya dan kusebut Dia Ya Ra\u1e25m\u0101n, Y\u0101 Ra\u1e25\u012bm\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu, Musa pun bertanya kepada Allah: \u201cBukankah telah Kau tentukan wanita itu sebagai wanita mandul, tetapi kenapa ia bisa memiliki anak?\u201d. Allah pun menjawab: \u201cBenar yang kau katakan Musa, terlepas dari ketentuan-Ku, perempuan itu selalu memanggil-Ku dengan Y\u0101 Ra\u1e25man, Y\u0101 Ra\u1e25\u012bm. Maka kuberikan apa yang dia minta. Sebab kasih sayang-Ku menguasai ketentuan-Ku\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam \u1e62a\u1e25i\u1e25 al-Bukh\u0101r\u012b juga diceritakan kisah serupa. Saat Allah menerima taubatnya Adam, dan Adam saat itu menyebut-nyebut Y\u0101 Ra\u1e25m\u0101n, Y\u0101 Ra\u1e25\u012bm. Lalu Allah bertanya kepada Adam, \u201cHei Adam, dari mana kamu ketahui kedua nama-Ku itu?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adam pun menjawab, \u201cYa Allah, saat Engkau menciptakanku, dan Engkau perintahkan malaikat beserta iblis sujud padaku, aku melihat ke \u2018arasy-Mu tertulis inna ra\u1e25mat\u012b sabaqat gha\u1e0dab\u012b (Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului amarah-Ku).\u201d Semoga rahmat Allah senantiasa menaungi kita semua. Amien.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>*<\/em>Penulis Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/5444?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ustadz Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LL.M* Dalam literatur tasawuf sifat dan nama Allah selalu dibagi ke dalam dua kategori. Sifat jam\u0101l dan sifat jal\u0101l. Sifat jam\u0101l merupakan representasi dari sifat-sifat feminimitas yang melekat pada Allah, seperti ra\u1e25man (pengasih), ra\u1e25\u012bm (penyayang), la\u1e6d\u012bf (lembut), ghaf\u0101r (pengampun) dan lain sebagainya. Sebaliknya sifat jal\u0101l merupakan pengejawantahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5445,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-5444","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-syariah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2020\/07\/14.jpg?fit=1280%2C853&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/5444","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=5444"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/5444\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/5445"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=5444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=5444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=5444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}