{"id":5776,"date":"2020-07-10T07:25:13","date_gmt":"2020-07-10T00:25:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=5776"},"modified":"2020-07-10T07:25:18","modified_gmt":"2020-07-10T00:25:18","slug":"tafsir-al-fatihah-ayat-4-raja-dunia-akhirat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2020\/07\/10\/tafsir-al-fatihah-ayat-4-raja-dunia-akhirat\/","title":{"rendered":"Tafsir Al-Fatihah Ayat 4; Raja Dunia Akhirat"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\">Oleh: Ustadz Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LLM*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam suatu percakapan di meja warung kopi, seorang sejawat dengan emosi meletup-letup memaki, mengutuk dan melaknat seorang non muslim penista agama. Mendengar sumpah serapah itu, teman-teman yang lain menyanggah, \u201cHei, jangan lah sekasar itu. Bukannya mengutuk dan memvonis seseorang itu haknya Allah\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teman yang murka itu sejurus kemudian menjawab, \u201cAllah saja di dalam al-Qur\u2019an mengutuk mereka yang merendahkan diri-Nya, bukannya kita diperintahkan untuk bersikap seperti sikapnya Tuhan\u201d, sembari mengutip firman Allah pada Surat Al-Maidah ayat 64.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dialog imajiner di atas sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari dalam ruang publik. Sebagai orang awam kita sering dibuat pusing dengan perdebatan semacam ini. Namun jika kita merujuk pada surat Al-F\u0101ti\u1e25ah ayat 4, tersirat Allah memang satu-satunya yang memiliki otoritas untuk menghakimi manusia. Itu pun di hari kiamat bukan di dunia. Kesimpulan semacam ini terlihat jelas jika kita mencermati penggalan kata demi kata pada ayat keempat surat Al-F\u0101ti\u1e25ah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara harfiah, kata \u201cm\u0101lik\u201d bermakna penguasa atau pemilik. Sedangkan kata \u201cyaum\u201d berarti hari dan kata \u201cal-d\u012bn\u201d bisa bermakna agama, hisab atau pembalasan. Penggunaan kata \u201cal-d\u012bn\u201d seperti makna terakhir juga dapat dilihat pada hadits, \u201ckam\u0101 tad\u012bnu tud\u0101nu (sebagaimana perbuatanmu, seperti itu lah balasan yang kamu peroleh).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bertitik tolak dari pemahaman semantik ini, lahir semacam pemahaman bahwa sejatinya pengadilan terhadap keyakinan seseorang hanya berlaku di akhirat dan bukan di dunia. Meskipun di dunia manusia telah mengembangkan seperangkat ilmu pengetahuan seperti ilmu kalam untuk mengukur \u201ckadar\u201d keyakinan seseorang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun ilmu tersebut hanya mengantar manusia pada taraf \u2018ilmul yaq\u012bn (keyakinan berbasis pengetahuan) dan bukan pada level haqqul yaq\u012bn (keyakinan sejati).<br>Oleh karena itu, pengadilan terhadap keyakinan seseorang tidak dilangsungkan di dunia dan tidak dilakukan oleh sesama manusia. Tetapi dilakukan di akhirat oleh Allah Penguasa hari pembalasan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks ini, Tafsir Jal\u0101lain menjelaskan kenapa kuasa Allah secara spesifik disebutkan di hari kiamat, \u201cwa khu\u1e63\u1e63a bil dzikri li\u2019annahu l\u0101 mulka \u1e93\u0101hir\u0101n f\u012bhi li a\u1e25adin ill\u0101 al-All\u0101h ta\u2018\u0101l\u0101 bidal\u012blin, limanil mulkul yaum?, q\u0101la, lillah\u201d (dan kekuasaan Allah secara khusus disebut di akhirat dikarenakan pada hari itu tiada yang berkuasa melainkan Allah sebagiamana yang dijelaskan dalam dialog antara Allah dengan manusia dalam surat Al-Gh\u0101fir ayat 16, \u201csiapakah yang berkuasa hari ini? Manusia menjawab, Allah).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibnu Katsir dalam Tafs\u012br al-Qur\u2019\u0101nil \u2018A\u1e93\u012bm juga menjelaskan hal yang sama. Menurutnya frasa \u201cm\u0101liki yaumidd\u012bn\u201d tidak menafikan kekuasaan Allah di dunia. Karena Allah telah mengawalinya dengan frasa \u201crabbil \u2018\u0101lam\u012bn\u201d pada ayat kedua surat Al-F\u0101ti\u1e25ah. Frasa ini menegaskan Allah sebagai Penguasa alam semesta di dunia dan akhirat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penjelasan di atas dipertegas lagi dengan firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 58 \u201cwa rabbuka al-ghaf\u016br dz\u016b al-ra\u1e25mah, law yu\u2019akhidzuhum bim\u0101 kasab\u016b la\u2018ajjala lahumul \u2018az\u0101b, bal lahum maw\u2018idun lan yajid\u016b mindunihi maw\u2018il\u0101 (Dan Tuhanmulah Maha Pengampun dan Pemangku Rahmat, jika Allah hendak mengazab seseorang karena perbuatannya, tentu Allah akan menyegerakan azab untuk orang tersebut di dunia. Tetapi Allah menanguhkan azab bagi mereka sampai tibanya hari kiamat).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sultanya para ulama, Syaikh \u2018Izzudd\u012bn bin \u2018Abdussal\u0101m menjelaskan dalam kitabnya Syajaratul Ma\u2018\u0101rif bahwa meskipun terdapat anjuran dalam hadis untuk berkarakter yang sama dengan karakternya Allah (takhalaq\u016b bi akhl\u0101qill\u0101h), namun terdapat sifat-sifat Allah tertentu yang mustahil atau bahkan terlarang disandang oleh manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti sifat qid\u0101m (tak berawal), baq\u0101\u2019 (kekal), kibr (angkuh) dan lain sebagainya. Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa Nabi ditegur Allah saat mengutuk orang-orang yang memeranginya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diceritakan dalam Sunan al-Tirmidz\u012b, saat berakhirnya perang Uhud. Keadaan Nabi sangat mengenaskan. Anas bin M\u0101lik, sahabat yang ikut serta dalam barisan perang Uhud, mengilustrasikan bagaimana keadaan Nabi saat itu dengan berkata \u201crahang mukanya retak (syujja f\u012b wajhihi), pelipisnya terluka (kusirat rab\u0101\u2018iyyatuhu) dan bahunya terkena panah (wa rumiya ramyatan \u2018al\u0101 katifi). Sembari mengusap wajahnya yang berlumur darah Nabi berkata, \u201ckaifa tuflihu ummatun fa\u2018al\u016b hadz\u0101 bi nabiyyihim wa huwa yad\u2018\u016bhum il\u0101 All\u0101h (Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung sedang mereka memperlakukan Nabi mereka seperti ini, padahal ia menyeru mereka ke jalan Allah).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ternyata keluhan bernada kutukan Nabi itu membuat Allah kurang senang. Sehingga Allah menegur Nabi dengan menurunkan surat \u0100li \u2018Imr\u0101n ayat 128 yang berbunyi \u201claisa laka minal amri syai\u2019un aw yatuba \u2018alaihim aw yu\u2018adzibuhum fainnahum \u1e93\u0101lim\u016bn (Sama sekali bukan urusanmu Muhammad mengutuk atau melaknat mereka, hak Allah lah untuk menerima taubat atau mengazab mereka dikarenakan kedzaliman yang mereka perbuat). Teguran Allah itu sangat membekas dalam diri Nabi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada suatu waktu Nabi diminta para sahabat untuk melaknat seseorang yang telah merendahkan diri Nabi. Nabi menjawab permintaan itu dengan berkata \u201cinn\u012b lam ub\u2018atsu la\u2018\u0101nan wa l\u0101 sabb\u0101b\u0101n, wa innam\u0101 bu\u2018itstu ra\u1e25matan (Saya tidak diutus untuk mengutuk atau memaki manusia, sesungguhnya saya diutus untuk menjadi rahmat).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">*<em>Penulis adalah Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry<\/em><\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/5776?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ustadz Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LLM* Dalam suatu percakapan di meja warung kopi, seorang sejawat dengan emosi meletup-letup memaki, mengutuk dan melaknat seorang non muslim penista agama. Mendengar sumpah serapah itu, teman-teman yang lain menyanggah, \u201cHei, jangan lah sekasar itu. Bukannya mengutuk dan memvonis seseorang itu haknya Allah\u201d. Teman yang murka itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5778,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-5776","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-syariah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2020\/07\/17-3.jpg?fit=418%2C336&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/5776","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=5776"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/5776\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/5778"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=5776"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=5776"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=5776"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}