{"id":6047,"date":"2020-07-17T09:32:19","date_gmt":"2020-07-17T02:32:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=6047"},"modified":"2020-07-17T09:32:22","modified_gmt":"2020-07-17T02:32:22","slug":"al-fatihah-ayat-5-allah-selalu-melihat-jangan-merasa-tidak-diawasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2020\/07\/17\/al-fatihah-ayat-5-allah-selalu-melihat-jangan-merasa-tidak-diawasi\/","title":{"rendered":"Al-Fatihah Ayat 5: Allah Selalu Melihat, Jangan Merasa Tidak Diawasi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\">Oleh: Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LLM*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Seperti<\/strong> halnya bahasa Indonesia yang memiliki struktur kalimat SPOK (Subjek, Prediket, Objek dan Keterangan). Bahasa Arab juga memiliki struktur kalimat yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Misalnya dalam kalimat \u1e0daraba zaidun kalban wa\u1e25dahu (Zaid sendiri yang telah memukul anjing).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam struktur kalimat ini kata \u201c\u1e0daraba\u201d merupakan kata kerja bentuk lampau (fi\u2018il m\u0101\u1e0d\u012b). Kata zaidun berkedudukan sebagai subjek (f\u0101\u2018il). Kata \u201ckalb\u0101n\u201d berkedudukan sebagai objek (maf\u2018\u016bl), sedangkan kata \u201cwa\u1e25dahu\u201d berkedudukan sebagai kata keterangan (\u1e25\u0101l).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam Surat Al-F\u0101ti\u1e25a\u1e25 ayat 5 pola umum dalam bahasa Arab itu tidak digunakan Allah dalam menyampaikan maksudnya. Dalam ayat tersebut Allah berfirman \u201cIyy\u0101ka na\u2018budu wa iyy\u0101ka nasta\u2018\u012bn\u201d (kepada-Mu lah kami menyembah dan kepada-Mu lah kami memohon pertolongan). Ayat ini memiliki struktur objek-prediket dan bukan prediket-objek. Pada penggalan pertama ayat 5, kata \u201ciyy\u0101ka\u201d berkedudukan sebagai objek dan kata \u201cna\u2018budu\u201d berkedudukan sebagai prediket.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitu juga pada penggalan kedua, kata \u201ciyy\u0101ka\u201d berkedudukan sebagai objek sedangkan kata \u201cnasta\u2018\u012bn\u201d berkedudukan sebagai prediket.<br>Menurut Ibn Katsir dalam Tafs\u012br al-Qur\u2019\u0101n al-\u2018A\u1e93\u012bm struktur objek-prediket dalam ayat ke-5 dari surat Al-F\u0101ti\u1e25ah menunjukkan penekanan ayat ini sebenarnya pada objek (iyy\u0101ka) dan bukan pada prediket (na\u2018budu dan nasta\u2018\u012bn).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ilmu na\u1e25wu (Arabic gramatical), kata \u201ciyy\u0101ka\u201d berkedudukan sebagai \u1e0dam\u012br mutta\u1e63il (object of preposition), yaitu objek yang bersambung penulisannya dengan kata ganti. Kata \u201c\u0625\u064a\u0627\u201d merupakan objek, sedangkan huruf \u201c\u0643\u201d merupakan \u1e0dam\u012br (kata ganti) untuk orang kedua tunggal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penggunaan kata ganti untuk orang kedua tunggal seperti kamu dan engkau, digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk lawan bicara yang bertatap muka langsung dengan pembicara pertama (mutakallim).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal saat kita membaca ayat ini \u2013 baik dalam shalat maupun di luar shalat \u2013 Allah sebagai lawan dialog kita tidak berada di hadapan kita. Dalam konteks ini, semestinya penggunaan kata ganti yang lebih tepat adalah kata ganti untuk orang ketiga tunggal seperti kata huwa (dia, nya). Sehingga ayat kelima ini tepatnya berbunyi iyy\u0101hu na\u2018budu wa iyyahu nasta\u2018\u012bn (kepada-Nya lah kami menyembah dan kepada-Nya lah kami memohon pertolongan). Tetapi tidak ada satu pun qir\u0101\u2019\u0101t yang membaca seperti itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ilmu tasawuf, penggunaan kata ganti yang berlawan konteks ini dipahami sebagai keinginan Allah agar manusia menyembah Allah seolah-olah merasa melihat langsung kepada Allah (an ta\u2018budall\u0101ha kaannaka tar\u0101hu).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika level ini terlalu sulit, maka yakinlah Allah melihat kita (fainlam takun tar\u0101hu huwa yar\u0101ka). Kedua kalimat ini dalam hadits dikenal dengan konsep ihsan sebagaimana diriwayatkan dalam \u1e62a\u1e25\u012bh Muslim.<br>Ihsan memiliki kedudukan tinggi dalam ajaran Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan Islam dan Iman didudukkan di bawah ajaran Ihsan sebagaimana yang muncul dalam dialog antara Jibril dengan Nabi. Inilah sebabnya konsep ihsan mendapatkan perhatian penuh dalam ilmu tasawuf. Manusia yang dalam kesehariannya merasa jauh dari pengawasan Allah, tidak ada kebaikan sejati pada orang itu. Ia masih berpotensi besar untuk mendurhakai Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menumbuhkan \u201cpengawasan Allah\u201d dalam diri manusia, para ulama tasawuf mengembangkan satu konsep lagi yang dikenal dengan \u201cmur\u0101qabah ba\u2018da musy\u0101hadah\u201d. Suatu konsep di mana pengawasan Allah pada diri manusia akan tumbuh bersemi seiring kemampuan manusia yang selalu merasa melihat Allah dalam menjalani aktifitas sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada kisah menarik yang diceritakan oleh Ibn \u2018All\u0101n dalam kitabnya al-Fut\u016b\u1e25\u0101t al-Rabb\u0101niyyah mengenai perjalanan spiritual seorang sufi besar bernama Sahl bin \u2018Abdullah al-Tustar\u012b. Dalam usia tiga tahun, Sahl sudah terbiasa mengerjakan shalat malam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada suatu malam, ia menyaksikan pamannya, Mu\u1e25ammad bin Siw\u0101r mengerjakan shalat malam dengan sangat khusyuk. Selesai shalat, Pamanya bertanya kepada Sahl, \u201cApakah shalat malam mu membuat dirimu mengingat Allah?,\u201d Sahl kecil tentu menjawab \u201ctidak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejurus kemudian, pamannya menawarkan suatu amalan yang dapat membuat Sahl selalu mengingat Allah. \u201cucapkanlah dalam hatimu kalimat All\u0101hu ma\u2018\u012b, All\u0101hu n\u0101\u1e93irun ilayya, Allahu sy\u0101hidun \u2018alaiyya (Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku) sebanyak tiga kali setiap malam. Setelah tiga malam berlalu, Sahl kembali menemui pamannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pamannya pun meminta Sahl untuk meningkatkan kuantitas bacaannya sampai tujuh kali sehari. Sebulan kemudian, Sahl kembali menjumpai pamannya. Pamannya kembali meminta Sahl untuk meningkatkan bacaan \u201cmantranya\u201d sampai sebelas kali. Setelah setahun mengamalkan kalimat tersebut, Sahl mengalami semacam perasaan the joy in solitude (\u1e25al\u0101watun f\u012b sirr\u012b).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melihat pengaruh luar biasa dari amalan tersebut, suatu hari Muhammad kembali memanggil keponakannya itu dan berwasiat \u201ci\u1e25fa\u1e93 m\u0101 \u2018alamtuka wa dumma \u2018alaihi il\u0101 an tadkhula al-qabra fa innahu yanfa\u2018aka f\u012b al-duny\u0101 wa al-\u0101khirah (jagalah dengan teguh apa yang telah aku ajarkan kepada mu, karena ia sangat bermanfaat bagimu dunia dan akhirat).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wejangan pamannya itu terbukti dalam kehidupan Sahl. Sahl menjadi begitu mudah memahami ilmu pengetahuan. Bahkan ia mampu menghafal keseluruhan al-Qur\u2019an dalam usia enam tahun. Usia yang sangat belia bahkan untuk ukuran sekarang di saat menghafal al-Qur\u2019an telah menjadi trending.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di akhir hayatnya, Muhammad kembali berwasiat kepada keponakannya itu, \u201cJika Allah selalu melihat, menyaksikan dan bahkan bersama seseorang, apakah mungkin orang tersebut berani mendurhakai Allah?\u201d Pertanyaan yang semua kita bisa menjawabnya meskipun sulit untuk diamalkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi, semoga dengan memahami penjelasan di atas, Allah akan hadir bersama kita saat kita mengucapkan \u201ciyy\u0101ka na\u2018budu wa iyy\u0101ka nasta\u2018\u012bn\u201d. Semoga!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>*Penulis Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Ar-Raniry<\/em><\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/6047?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LLM* Seperti halnya bahasa Indonesia yang memiliki struktur kalimat SPOK (Subjek, Prediket, Objek dan Keterangan). Bahasa Arab juga memiliki struktur kalimat yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Misalnya dalam kalimat \u1e0daraba zaidun kalban wa\u1e25dahu (Zaid sendiri yang telah memukul anjing). Dalam struktur kalimat ini kata \u201c\u1e0daraba\u201d merupakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5778,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-6047","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-syariah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2020\/07\/17-3.jpg?fit=418%2C336&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/6047","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=6047"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/6047\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/5778"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=6047"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=6047"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=6047"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}