{"id":6701,"date":"2020-08-07T09:30:54","date_gmt":"2020-08-07T02:30:54","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=6701"},"modified":"2020-08-07T09:30:59","modified_gmt":"2020-08-07T02:30:59","slug":"al-fatihah-ayat-7-bagian-pertama-jalan-mereka-bukan-jalan-ku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2020\/08\/07\/al-fatihah-ayat-7-bagian-pertama-jalan-mereka-bukan-jalan-ku\/","title":{"rendered":"Al-Fatihah Ayat 7 (Bagian Pertama), Jalan Mereka Bukan Jalan-Ku"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\">Oleh: Ustadz Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LLM<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ayat ketujuh Surat al-F\u0101ti\u1e25ah Allah memberikan definisi jalan lurus (\u1e63ir\u0101\u1e6dal mustaq\u012bm) yang telah disebut pada ayat sebelumnya. Dalam ayat ini, Allah memberikan pengertian bahwa jalan lurus adalah jalan mereka yang diberikan nikmat oleh Allah (\u1e63ir\u0101t al-ladz\u012bna an\u2018amta \u2018alaihim).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi jalan lurus di sini bukannya \u201cjalan Allah\u201d seperti yang terfirmankan dalam Surat al-An\u2018\u0101m ayat 153 \u201cwa anna hadz\u0101 \u1e63ir\u0101\u1e6d\u012b mustaq\u012bm\u0101n f\u0101ttabi\u2018\u016bhu\u201d (dan ini jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sultan Ulama, \u2018Izzudd\u012bn bin \u2018Abd al-Sal\u0101m dalam kitabnya Syajaratul Ma\u2018\u0101rif menerangkan mengapa manusia tidak bisa sepenuhnya mengikuti \u201cjalan Allah\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, dalam diri Allah (baca: zat Allah) terdapat dua kategori sifat. Pertama, sifat yang secara khusus hanya dimiliki Allah (mukhta\u1e63\u1e63un bihi) dan tidak mungkin dimiliki oleh manusia, seperti sifat qid\u0101m (tak berawal), baq\u0101\u2019 (tak berakhir) dan independen (qiy\u0101muhu bil nafsihi).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, sifat yang memungkinkan bagi manusia bersifat sebagaimana sifatnya Allah. Sifat kedua ini terbagi lagi ke dalam dua jenis. (1) sifat yang bisa ditiru, tapi dilarang untuk ditiru, seperti sifat keagungan (\u2018u\u1e93\u1e93mah) dan keangkuhan (kibriy\u0101\u2019). (2) sifat yang mungkin ditiru dan diperintah untuk ditiru, seperti sifat dermawan (al-juwd), pemaaf (al-ghaf\u016br) dan bijaksana (al-\u1e25al\u012bm).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, jika jalan lurus yang dimaksudkan adalah \u201cjalan Allah\u201d banyak manusia yang akan mengalami kesulitan, karena tidak semua sifat Allah bisa atau boleh dicontoh oleh manusia. Oleh karena itu, Allah mengutus nabi dari kalangan manusia sendiri supaya dapat dijadikan model yang mudah diikuti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam Surat al-Furq\u0101n ayat 7, Allah menceritakan cemoohan orang kafir terhadap kenabian Muhammad, \u201cwa q\u0101l\u016b m\u0101li hadz\u0101 al-ras\u016bl ya\u2019kulu al-\u1e6da\u2018\u0101ma wa yamsy\u012b f\u012b al-asw\u0101q, law l\u0101 unzila ilaihi malakun fayak\u016bna ma\u2018ahu nadz\u012br\u0101\u201d (Mereka berkata, \u201cRasul macam apa ini, kerjaannya hanya makan makanan dan berjalan-jalan di pasar, mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat, agar malaikat itu memberikan peringatan bersama dia).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cemoohan orang kafir ini dijawab Allah dalam Surat al-Isr\u0101\u2019 ayat 5, \u201cqul law k\u0101na f\u012b al-ar\u1e0dhi mal\u0101\u2019ikatun yamsy\u016bna mu\u1e6dma\u2019inn\u012bna lanazzaln\u0101 \u2018alaihim min al-sam\u0101\u2019 malak\u0101n ras\u016bl\u0101n\u201d (Katakanlah: \u201ckalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa telah menjadi kebiasaan Allah (sunnatull\u0101h) untuk menjadikan panutan, model dan teladan berasal dari jenis makhluk tersebut. Maka demikian, menjadi berlebihan bagi Allah (takl\u012bf m\u0101 l\u0101 yu\u1e6daq) jika memerintahkan manusia mengikuti \u201cjalannya Allah\u201d yang jangan untuk diikuti, membayangkan bagaimana bentuknya saja manusia tidak mampu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks ini kemudian Allah memberikan tuntunan kongkrit kepada manusia bahwa jalan lurus yang Ia maksudkan itu adalah \u201cjalan mereka\u201d yang telah Allah curahkan nikmat, anugerah dan karunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Tgk. Abdurrahman atau yang lebih dikenal dengan Tgk. Chik Di Lampaloh dalam kitab tafsirnya Tafsir al-Qur\u2019\u0101n bil \u1e24ad\u012bts al-Nabaw\u012b yang dimaksud dengan \u201corang-orang yang telah diberikan nikmat\u201d (an\u2018amta \u2018alaihim) adalah para nabi, siddiqin, para syuhada dan orang-orang saleh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tafsiran seperti ini diperkuat oleh firman Allah dalam surat Al-Nis\u0101\u2019 ayat 69, \u201cwa man yu\u1e6di\u2018i al-all\u0101ha wa al-ras\u016bla fa ul\u0101\u2019ika ma\u2018a al-ladz\u012bna an\u2018ama al-all\u0101hu \u2018alaihim minna al-nab\u012b\u012bna wa al-\u1e63idd\u012bq\u012bna wa al-syuhad\u0101\u2019i wa al-\u1e63\u0101li\u1e25\u012bna wa \u1e25asuna ul\u0101\u2019ika raf\u012bq\u0101\u201d (Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, siddiqin, para syuhada dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika tafsiran di atas diterima, menjadi sangat memungkin bagi kebanyakan orang (baca: awam) untuk meneladani manusia teladan seperti para nabi, siddiqin, para syuhada dan orang-orang saleh. Manusia-manusia teladan itu masih melakukan aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh kebanyakan orang, seperti makan, minum, tidur, beribadah, menikah dan seterusnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sehingga manusia awam menemukan model makan, minum, tidur, beribadah dan menikah dari mereka. Semua itu merupakan hal yang sulit terjadi pada \u201cjalannya Allah\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berangkat dari penjelasan ini, tokoh sufi falsafi terkenal, Ibn \u2018Arab\u012b menjelaskan dalam kitabnya al-Futu\u1e25\u0101t al-Makkiyyah bahwa meninggalkan istiqamah terkadang juga suatu keharusan dalam istiqamah. Pasalnya, dalam istiqamah juga ada bengkoknya. Tanpa kemungkinan bengkok sama sekali tidak ada makna istiqamah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya konflik rumah tangga merupakan salah satu bentuk penyimpangan dari istiqamah dalam berumah tangga. Tapi, tanpa terjadinya konflik rumah tangga dalam kehidupan nabi dengan para istrinya, manusia tidak memiliki panduan dalam mengelola konflik rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sehingga manusia sekaliber Nabi Muhammad pun pernah merasakan konflik rumah tangga. Salah satunya peristiwa \u1e25ad\u012bts al-ifk (berita fitnah) yang diabadikan dalam Surat al-N\u016br.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\"><em>*Penulis Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry<\/em><\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/6701?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ustadz Dr. H. Mizaj Iskandar Usman, Lc LLM Dalam ayat ketujuh Surat al-F\u0101ti\u1e25ah Allah memberikan definisi jalan lurus (\u1e63ir\u0101\u1e6dal mustaq\u012bm) yang telah disebut pada ayat sebelumnya. Dalam ayat ini, Allah memberikan pengertian bahwa jalan lurus adalah jalan mereka yang diberikan nikmat oleh Allah (\u1e63ir\u0101t al-ladz\u012bna an\u2018amta \u2018alaihim). Jadi jalan lurus di sini bukannya \u201cjalan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5778,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-6701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-syariah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2020\/07\/17-3.jpg?fit=418%2C336&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/6701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=6701"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/6701\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/5778"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=6701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=6701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=6701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}