{"id":84993,"date":"2024-10-02T19:35:13","date_gmt":"2024-10-02T12:35:13","guid":{"rendered":"https:\/\/infoaceh.net\/?p=84993"},"modified":"2024-10-02T19:35:13","modified_gmt":"2024-10-02T12:35:13","slug":"sarina-aini-perempuan-penyandang-dua-gelar-doktor-istri-cawagub-aceh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2024\/10\/02\/sarina-aini-perempuan-penyandang-dua-gelar-doktor-istri-cawagub-aceh\/","title":{"rendered":"Sarina Aini, Perempuan Penyandang Dua Gelar Doktor Istri Cawagub Aceh"},"content":{"rendered":"<p>WANITA muslimah murah senyum ini bernama lengkap Dr Sarina Aini Lc MA PhD CWC atau akrab disapa Buk Aini.<\/p>\n<p>Ia terlihat sibuk saat sejumlah wartawan bertandang ke kediamannya, Desa Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, akhir pekan lalu.<\/p>\n<p>Usai membuka pintu, ia menyapa para wartawan dalam bahasa Gayo. Beberapa wartawan yang tak mengerti bahasa Gayo hanya terdiam di depan pintu. Namun hal ini hanya berlangsung beberapa menit.<\/p>\n<p>&#8220;Tamong pak, masuk-masuk,&#8221; ujarnya kemudian dalam dua bahasa sekaligus. Bahasa Indonesia dan bahasa Aceh.<\/p>\n<p>&#8220;Bang Fadhil ada di belakang,&#8221; kata Buk Aini lagi. Ia menyapa satu persatu wartawan yang masuk dengan senyum yang ramah.<\/p>\n<p>Sosok Fadhil yang dimaksud adalah Cawagub Aceh nomor urut 1 yang berpasangan dengan Bustami Hamzah. Fadhil Rahmi Lc MAg akrab disapa Syech Fadhil.<\/p>\n<p>Di dalam rumah, suasana ramai dan riuh. Para wartawan juga menyapa satu persatu keluarga. Ada mertua Syech Fadhil dan beberapa orang rumah lainnya yang sedang bercengkrama dalam bahasa Gayo.<\/p>\n<p>&#8220;Berizin, berizin,&#8221; ujar seorang wartawan mencoba akrab dengan bahasa Gayo &#8216;alakadar.&#8217;<\/p>\n<p>Hal ini tentu mengundang senyum dari seisi rumah. &#8220;Tenang pak. Semua orang rumah bisa bahasa Aceh juga,&#8221; ujar Buk Aini lagi.<\/p>\n<p>Menurut Buk Aini, suasana ramai di kediamannya itu, sudah berlangsung sejak lama.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau ada keluarga besar dari Aceh Tengah, Bener Meriah serta Gayo Lues yang turun ke Banda Aceh, nginapnya di sini. Makanya mamak terbiasa bahasa Gayo,&#8221; ujar Sarina Aini lagi.<\/p>\n<p>Sarina Aini sendiri bukanlah wanita berdarah Gayo dan ibu rumah tangga biasa.<\/p>\n<p>Ia juga terlibat dalam berbagai majelis ilmu dan dosen di UIN Ar-Raniry dan STAI-PTIA Teungku Chik Pante Kulu.<\/p>\n<p>Meski lahir dari keluarga sederhana dari pelosok terpencil di pedalaman Aceh dan berusia tergolong muda, ia kini sukses menambalkan dua titel doktoral menemani namanya.<\/p>\n<p>&#8220;Saya lahir di Peunaron, Aceh Timur, dari keluarga berdarah Gayo. Keluarga besar kami itu ada di Blangkejeren Gayo Lues serta Aceh Tenggara. Ada di Aceh Tengah dan Bener Meriah,&#8221; ujar Aini.<\/p>\n<p>&#8220;Alhamdulillah ketika Bang Fadhil diminta mendampingi Pak Bustami (Cagub-red), respon mereka positif. Banyak yang telepon dan menyatakan dukungan. Banyak yang berkunjung ke Banda Aceh untuk menanyakan langsung,&#8221; ujar Aini.<\/p>\n<p>Kembali ke soal dua titel doctoral, Bu Aini mengatakan dua gelar tersebut diperolehnya dari dua universitas berbeda.<\/p>\n<p>Pertama, ia menyelesaikan S3 Fiqih Muqarran di Omdurman Islamic Universitas \u2013 Sudan pada 2017. Kemudian setelah hampir 5 tahun berselang, ibu 4 anak ini kembali menyelesaikan program doktor fiqih modern di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Sidang promosi berlangsung 17 Januari 2022.<\/p>\n<p>Disertasinya berjudul \u201dKonsep Perwalian Nikah dalam Alquran\u201d dengan tim promotor Prof Dr Alyasa\u2019 Abubakar MA dan Prof Eka Srimulyani MA PhD.<\/p>\n<p>Bu Aini, demikian ia biasa disapa, merupakan doktor ke 202 Pascasarjana UIN Ar Raniry dan doktor ke 93 untuk bidang fiqih modern.<\/p>\n<p>\u201dSemua bisa, asal mau berusaha dan bersungguh-sungguh,\u201d kata 4 anak tersebut.<\/p>\n<p>\u201dLahir dari pedalaman Aceh, bukan berarti harus menjadi petani atau hanya pergi ke ladang\/kebun dan ibu rumah tangga. Kalau kita terus berusaha dan tak menyerah dengan nasib, suatu saat pasti bisa meraih mimpi dan mengenggam dunia,\u201d kata putri dari Alm. H. Bidinsyah dan Hj. Jaiyah.<\/p>\n<p>Bu Doktor muda ini juga mematahkan sejumlah asumsi keliru yang berkembang di kalangan masyarakat Aceh.<\/p>\n<p>Pertama, seperti masyarakat pedalaman Aceh yang jarang menempuh pendidikan tinggi. Kedua, nikah muda bisa menghambat pendidikan akademik.<\/p>\n<p>\u201dSaya lahir dari keluarga biasa. Lahir di Peunaron serta nikah di usia muda. Saya menikah dengan Bang Fadhil itu saat umur 20 tahun dan masih menempuh pendidikan S-1 di Al-Azhar Kairo. Namun alhamdulillah S-3 nya selesai di dua tempat,\u201d ujar Aini lagi memotivasi.<\/p>\n<p>Doktor Aini kini aktif sebagai Wakil Ketua I di STAI Tgk. Chik Pante Kulu. Di STAI tersebut, ia mengajar sejak 2013. Sebelumnya juga sempat mengajar di IAIN Cot Kala Langsa pada 2008 &#8211; 2018 serta di STAI Nusantara dari 2012 &#8211; 2014.<\/p>\n<p>Selain itu, ia juga mengajar di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dari 2013 hingga sekarang.<\/p>\n<p>Salah satu kunci sukses doktor Aini adalah doa restu orangtua dan suami yang selalu mendukungnya hingga saat ini.<\/p>\n<p>\u201cDoa orangtua dan suami yg terus memberi semangat. Dua hal ini yang paling penting,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Untuk anak-anak Aceh yang tinggal di pedalaman dan berasal dari keluarga biasa, Doktor Aini memiliki motivasi penting.<\/p>\n<p>\u201cJangan pernah menyerah dalam menuntut ilmu dan mengejar cita-cita. Karena kesuksesan dan kegagalan itu hanya dibatasi oleh garis kecil. Garis itu bernama menyerah. Kalau Anda berputus asa, maka semua akan berakhir. Demikian juga sebaliknya. Jangan pernah putus asal,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>\u201cLahir dari keluarga sederhana mungkin adalah takdir. Maka orang yang lahir dari keluarga biasa harus memiliki tekad seribu kali lebih keras dari mereka yang beruntung dan ditakdirkan lahir dari keluarga yang lebih beruntung. Kuncinya jangan pernah menyerah untuk berusaha menjadi lebih baik,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Setelah hampir 45 menit para wartawan menwawancarai Doktor Aini, Syech Fadhil bergabung bersama.<\/p>\n<p>&#8220;Ini istri saya, kelahiran Peunaron Aceh Timur dan berdarah Gayo. Jadi di rumah ini, selain Asam Keueng, saya juga terbiasa dengan Masam Jing (masakan khas Gayo-red),&#8221; ujar Syech Fadhil menimpali.<\/p>\n<p>Nama : Sarina Aini<br \/>\nTempat\/tanggal lahir : Peunaron, 17 September 1983<br \/>\nAlamat rumah : Rukoh, Syiah Kuala Banda Aceh<\/p>\n<p>Pendidikan:<\/p>\n<p>2001-2007 S1 \/ Syari\u2019ah Islamiyyah\/ Universitas al-Azhar- Mesir<\/p>\n<p>2007-2008 S2 \/ Ushul Fiqh \/ American Open University-Mesir (tidak selesai)<\/p>\n<p>2010-2012 S2 \/ Fiqh Modern \/ UIN Ar-raniry- Banda Aceh<\/p>\n<p>2015-2017 S3 \/Fiqh Muqarran \/ Omdurman Islamic Universitas \u2013 Sudan<\/p>\n<p>2014-2022 S3\/Fiqh Modern\/ UIN Ar-raniry, Banda Aceh<\/p>\n<p>Jabatan\/Pekerjaan:<\/p>\n<p>2008-2010 Staf Pengajar IAIN Cot Kala Langsa<\/p>\n<p>2012-2014 Staff Pengajar di STAI Nusantara<\/p>\n<p>2013- sekarang Staff Pengajar di UIN Ar-Raniry<\/p>\n<p>2013-sekarang Staf Pengajar di STAI PTIA Tgk. Chik Pante Kulu<\/p>\n<p>2018-2019 Staf pengajar di Pesantren Modern Insan Qur\u2019ani<\/p>\n<p>2017-2020 Wakil Ketua III di STAI-PTIA Tgk. Chik Pante Kulu<\/p>\n<p>2020-2023 Wakil Ketua II di STAI Tgk. Chik Pante Kulu<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/84993?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WANITA muslimah murah senyum ini bernama lengkap Dr Sarina Aini Lc MA PhD CWC atau akrab disapa Buk Aini. Ia terlihat sibuk saat sejumlah wartawan bertandang ke kediamannya, Desa Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, akhir pekan lalu. Usai membuka pintu, ia menyapa para wartawan dalam bahasa Gayo. Beberapa wartawan yang tak mengerti bahasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":84994,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-84993","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2024\/10\/05c80401-9a22-44ba-bae9-4f9ae7be19f4.jpeg?fit=1080%2C915&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/84993","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=84993"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/84993\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/84994"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=84993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=84993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=84993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}