{"id":85929,"date":"2024-10-16T23:02:31","date_gmt":"2024-10-16T16:02:31","guid":{"rendered":"https:\/\/infoaceh.net\/?p=85929"},"modified":"2024-10-16T23:02:31","modified_gmt":"2024-10-16T16:02:31","slug":"aby-kandar-dari-guru-honorer-jadi-petani-melon-andalan-di-bireuen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2024\/10\/16\/aby-kandar-dari-guru-honorer-jadi-petani-melon-andalan-di-bireuen\/","title":{"rendered":"Aby Kandar, dari Guru Honorer Jadi Petani Melon Andalan di Bireuen"},"content":{"rendered":"<p><strong>INFOACEH.NET, BANDA ACEH<\/strong> &#8212; Di usia 41 tahun, Iskandar\u2014akrab disapa Aby Kandar\u2014membuktikan bahwa profesi guru honorer dan petani sukses bisa berjalan beriringan.<\/p>\n<p>Lahir pada 16 April 1983, Aby Kandar adalah lulusan S-1 Pendidikan Agama Islam dan mengajar sebagai guru P3K di UPTD SD Negeri 2 Jeumpa, Bireuen.<\/p>\n<p>Namun, selain mengajar, ia juga memiliki ketertarikan besar pada pertanian yang mulai ia tekuni sejak tahun 2014, dan sejak 2019 ia fokus membudidayakan melon.<\/p>\n<p>\u201cBudidaya melon sangat keren dengan potensi penghasilan yang luar biasa. Bayangkan, dari lahan seluas 1.000 meter persegi, kita bisa menghasilkan rata-rata 3,5 ton melon. Putarannya cepat, hanya 70 hari sudah bisa panen,\u201d kata Aby Kandar, Rabu (16\/10).<\/p>\n<p>Saat ini, Aby Kandar mengelola dua lahan melon dengan total luas 4000 meter persegi, yang melibatkan dua pekerja tetap dan sejumlah tenaga harian lepas sesuai kebutuhan.<\/p>\n<p>Ia mengembangkan tiga jenis melon, yaitu golden melon, rock melon, dan melon untuk jus, dengan segmen pasar yang berbeda. Produksi melonnya telah memperoleh sertifikasi Prima 3 dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten dan Provinsi Aceh, memastikan kualitasnya terjamin untuk pasar yang lebih luas.<\/p>\n<p>Melon-melon ini didistribusikan ke berbagai daerah di Aceh, seperti Lhokseumawe dan Banda Aceh, serta ke Medan.<\/p>\n<p>Untuk memperkuat jaringan petani melon di Bireuen, Aby Kandar membentuk komunitas petani melon agar dapat saling mendukung dan mengatur waktu tanam agar pasokan melon terus tersedia.<\/p>\n<p>\u201cDi Bireuen banyak pemuda yang tertarik bertani. Komunitas ini membantu mereka belajar dan mengembangkan potensi mereka. Kami ingin melon dari Bireuen bisa selalu ada di pasaran,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Tak hanya fokus pada budidaya, Aby Kandar juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai pelatihan pertanian yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Bireuen, BPSDMP Provinsi Aceh, BAPELTAN Jambi, serta Dirjen Hortikultura.<\/p>\n<p>\u201cSaya sangat senang bisa berbagi pengalaman dan menginspirasi petani muda. Melalui Facebook dan TikTok, saya terus memberikan motivasi dan membuktikan bahwa bertani itu menjanjikan jika dikelola dengan tepat,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Sebagai Duta Petani Milenial dari Kementerian Pertanian RI, Aby Kandar berharap dapat terus membangun generasi muda yang mencintai pertanian di tanah subur Aceh.<\/p>\n<p>\u201cTanah kita sangat subur. Para penjajah dulu datang bukan untuk menjajah SDM kita, tapi untuk memanfaatkan kesuburan tanah kita. Saya ingin pemuda-pemudi Aceh melihat potensi ini dan mencintai pertanian,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/85929?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>INFOACEH.NET, BANDA ACEH &#8212; Di usia 41 tahun, Iskandar\u2014akrab disapa Aby Kandar\u2014membuktikan bahwa profesi guru honorer dan petani sukses bisa berjalan beriringan. Lahir pada 16 April 1983, Aby Kandar adalah lulusan S-1 Pendidikan Agama Islam dan mengajar sebagai guru P3K di UPTD SD Negeri 2 Jeumpa, Bireuen. Namun, selain mengajar, ia juga memiliki ketertarikan besar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":85930,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[27],"tags":[],"class_list":["post-85929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2024\/10\/IMG-20241016-WA0076.jpg?fit=1080%2C1439&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/85929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=85929"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/85929\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/85930"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=85929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=85929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=85929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}