Banda Aceh, Infoaceh.net — Aksi saling lempar yang mewarnai rapat resmi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) pada Senin siang (17/11) kembali mencoreng wajah Aceh.
Pemerhati komunikasi publik Aceh, Drs M Isa Alima mengecam keras insiden tersebut sebagai tindakan memalukan yang mencederai marwah Serambi Mekkah.
Menurut Isa Alima, keributan itu bukan sekadar luapan emosi, melainkan cerminan buruk dan rapuhnya tata komunikasi politik di lembaga perwakilan.
“Keributan itu memalukan. Ketika wakil rakyat saling lempar, yang tercoreng bukan hanya lembaga, tapi marwah Serambi Mekkah” tegasnya, Selasa (18/11).
Ia menilai, tindakan tersebut menggerus kepercayaan rakyat dan menodai amanah publik yang diemban setiap anggota dewan.
Isa Alima juga menyoroti pentingnya sinergi antara Parlok dan Parnas demi mewujudkan aspirasi rakyat Aceh.
“Aceh tidak butuh panggung pertengkaran, tapi kedewasaan politik. Marwah Serambi Mekkah harus dijaga dengan adab dan akal sehat,” ucap Isa Alima yang juga mantan Anggota DPRK Pidie dua periode ini.
Untuk mencegah terulangnya insiden serupa, Isa Alima menawarkan solusi konkret:
Penegakan Tegas Etika Persidangan: Forum resmi tidak boleh menjadi arena konflik terbuka.
Mekanisme Mediasi Internal: Wajib dilakukan saat terjadi gesekan antar-fraksi.
Peningkatan Keterampilan Komunikasi dan Manajemen Emosi: Sebagai bagian dari pendidikan politik berkelanjutan.
Penguatan Koordinasi Parlok-Parnas: menciptakan dialog sehat demi keputusan yang berpihak pada rakyat.
Isa Alima menekankan bahwa insiden ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar perbincangan sesaat.
“Serambi Mekkah tidak boleh dipermalukan oleh perilaku yang jauh dari nilai-nilai yang kita junjung. Rakyat menunggu kedewasaan, bukan adu emosi” pungkasnya.
Pernyataan Isa Alima menjadi pengingat bahwa martabat Aceh hanya dapat dijaga bila para pemimpinnya menjaga dirinya sendiri. Revolusi etika harus dimulai dari sekarang demi menyelamatkan marwah Aceh.



