JAKARTA, Infoaceh.net — Memasuki akhir tahun 2025, usia pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang telah menginjak 15 bulan meninggalkan catatan krusial bagi dinamika demokrasi Indonesia.
Salah satu fenomena yang paling mencolok adalah absennya konflik internal di DPR RI, sebuah kondisi yang dinilai sebagai hasil “orkestrasi” apik dari jajaran pimpinan legislatif.
Di tengah zona nyaman para legislator tersebut, muncul satu nama yang dinilai paling dominan mengendalikan ritme politik di Senayan: Sufmi Dasco Ahmad.
Wakil Ketua DPR RI dari Partai Gerindra ini kerap disebut-sebut sebagai “sutradara” di balik padunya suara para anggota dewan dalam menggolkan berbagai kebijakan strategis.
Mengenal Istilah ‘Kabinda’ dan ‘Adidas’ Berdasarkan laporan mendalam Majalah Tempo bertajuk “Tangan Sufmi Dasco Mengendalikan Badan Legislasi DPR”, muncul istilah unik yang merujuk pada jaringan pengaruh Dasco di parlemen, yakni “Kabinda” dan “Adidas”.
Kabinda merupakan akronim dari Kader Binaan Dasco, yang mayoritas diisi oleh politikus Partai Gerindra yang menduduki posisi strategis di Alat Kelengkapan Dewan (AKD).
Sementara Adidas atau Anak Didik Dasco merujuk pada jaringan politik lintas partai politik (parpol) yang loyal mendukung arah strategi politik Ketua Harian DPP Partai Gerindra tersebut.
Baleg Sebagai ‘Pabrik’ Undang-Undang Peran besar Dasco juga diulas dalam siniar Bocor Alus Politik milik Tempodotco.
Jaringan Kabinda dan Adidas ditengarai mendominasi setiap lini parlemen, mulai dari Komisi, Panitia Kerja (Panja), hingga Badan Legislasi (Baleg). Dominasi ini membuat pembahasan berbagai Rancangan Undang-Undang (RUU) di sepanjang tahun 2025 berlangsung sangat cepat dan efektif.
Analisis tersebut mengungkap bahwa seleksi RUU mana yang harus dipercepat, diloloskan, atau dihentikan sering kali harus melewati filter jaringan ini sebelum diputuskan oleh Dasco.
Hal ini membuat Baleg kini dijuluki sebagai “pabrik” undang-undang karena produktivitasnya yang meningkat drastis melalui revisi maupun pembuatan aturan baru.
Warna Baru Demokrasi: Tanpa Interupsi dan ‘Mic Mati’ Keberadaan jaringan Dasco di Senayan dinilai membawa warna baru dalam proses legislasi.
Jika sebelumnya sidang-sidang di DPR kerap diwarnai hujan interupsi atau drama mematikan mikrofon saat terjadi tarik ulur kepentingan, kini suasana cenderung tenang dan terkendali.
Semua proses dikelola secara clear and clean oleh Dasco, yang kini memegang kendali penuh di legislatif setelah sosok vokal lainnya, Fadli Zon, ditarik menjadi Menteri Kebudayaan di Kabinet Prabowo.
Namun, efektivitas ini juga memancing kritik dari kacamata demokrasi. Publik mempertanyakan apakah gaya “cepat dan tepat” ini benar-benar mencerminkan aspirasi rakyat atau sekadar memperlancar pesanan undang-undang dari koalisi besar yang tidak populis.
Memasuki tahun 2026, publik tetap akan mengawasi apakah sentralisasi pengaruh pada satu sosok ini akan dipertahankan atau justru melahirkan perubahan sistematis demi keseimbangan kekuasaan (check and balances).



