Banda Aceh, Infoaceh.net —Putra Aceh, Brigjen Pol Dedy Tabrani, resmi mendapat kenaikan pangkat dan menyandang jenderal bintang satu di pundaknya.
Ia baru beberapa pekan lalu dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh. Bagi banyak kalangan, ini bukan sekadar kenaikan pangkat, melainkan momentum penting bagi Aceh.
Seperti diketahui, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo memimpin pelaksanaan upacara kenaikan pangkat terhadap anggota Perwira Tinggi (Pati) Polri dan juga pangkat bagi Perwira Menengah, Bintara, dan Tamtama Polri di seluruh wilayah Indonesia.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan upacara kenaikan pangkat yang digelar pada Rabu, 31 Desember 2025, itu merupakan tindaklanjut terkait dengan promosi yang didapat anggota Polri.
“Ini juga menjadi amanah untuk meningkatkan profesionalisme, integritas, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujar Trunoyudo dikutip Kamis, 1 Januari 2026.
Kenaikan pangkat tersebut patut disyukuri bersama. Dari tanah Rencong, sebuah amanah besar kembali pulang ke rumahnya.
Brigjen Pol Dedy Tabrani lahir di Banda Aceh pada 15 Oktober 1976. Selama lebih dari 25 tahun pengabdiannya di Kepolisian Republik Indonesia, ia dikenal sebagai sosok perwira yang memiliki pengalaman lapangan kuat, kepemimpinan mumpuni, serta prestasi akademik menonjol.
Nama Dedy Tabrani mencuat secara nasional saat peristiwa teror bom di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis, 14 Januari 2016. Saat itu, ia menjabat sebagai Kapolsek Metro Menteng, wilayah yang termasuk dalam area serangan teror.
Dalam situasi kritis tersebut, Dedy terlibat langsung dalam baku tembak dengan pelaku teror dan berhasil menembak mati seorang teroris yang terlibat dalam rangkaian ledakan dan penembakan di sekitar kawasan Sarinah.
Atas keberanian dan tindakan cepatnya dalam mengamankan situasi, Dedy Tabrani menerima penghargaan berupa pin emas dari Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti. Penghargaan tersebut diserahkan pada 26 Januari 2016 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta, bersama 16 personel Polri lainnya yang dinilai berjasa dalam penanganan aksi teror tersebut.
Pasca peristiwa itu, karier Dedy Tabrani terus menanjak. Ia dipromosikan sebagai Analis Kebijakan Muda di Polres Metro Jakarta Pusat dan mengikuti pendidikan Sekolah Pimpinan Menengah di Lembang.
Selanjutnya, ia dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis, antara lain Kapolres Dairi pada 2016, Kapolres Purwakarta pada 2017, Pamen Korbrimob Polri pada 2018, serta Pamen Lemdiklat Polri dalam rangka menempuh pendidikan doktoral.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai Wakapolresta Tangerang sejak 2019, sebelum akhirnya dipercaya menjabat sebagai Kepala BNNP Kalimantan Tengah pada 2025.
Pengalaman lintas satuan tersebut membentuk Dedy Tabrani sebagai perwira dengan kapasitas manajerial, operasional, dan kepemimpinan yang komprehensif.
Di luar keberhasilannya di lapangan, Dedy Tabrani juga mencatatkan prestasi gemilang di bidang akademik. Ia menyelesaikan pendidikan doktoral di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) Jakarta pada 14 Oktober 2020.
Dengan nilai akhir 98,66, ia meraih predikat Summa Cum Laude, sebuah capaian yang terbilang langka di lingkungan pendidikan tinggi kepolisian.
Dengan rekam jejak yang lengkap—heroik di lapangan, profesional dalam kepemimpinan, dan unggul secara akademik—Brigjen Pol Dedy Tabrani dipandang sebagai salah satu putra terbaik Aceh yang mengharumkan nama daerah melalui pengabdian di institusi negara.
Kepulangannya ke Aceh sebagai Kepala BNNP Aceh menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.
Brigjen Dedy Tabrani dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari disiplin panjang, hingga akhirnya pecah bintang, perjalanan itu dibaca publik sebagai buah dari konsistensi, integritas, dan ketekunan.
Kini, ia kembali ke Aceh bukan sebagai tamu, tetapi sebagai penjaga amanah.
Aceh, di mata banyak pemerhati sosial, sedang berada di persimpangan penting. Ancaman narkotika tidak lagi berdiri di pinggir, tetapi telah menyentuh ruang-ruang paling rapuh: generasi muda, keluarga, dan masa depan. Karena itu, kepemimpinan di BNNP Aceh bukan jabatan biasa.
Ia adalah medan juang yang menuntut ketegasan sekaligus empati.
Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, Drs M. Isa Alima, menyambut capaian tersebut dengan rasa harap yang jujur dan sikap yang tegas.
Menurutnya, hadirnya putra daerah pada posisi strategis adalah sinyal positif bagi penguatan kolaborasi dan penegakan hukum di Aceh.
“Alhamdulillah, ini memudahkan koordinasi. Anak negeri paham denyut tanahnya sendiri. Tapi yang paling ditunggu masyarakat bukan seremoni, melainkan bukti nyata penegakan hukum yang adil dan berani,” ujar Isa Alima.
Isa Alima menegaskan, bintang di pundak Brigjen Dedy harus dimaknai sebagai tanggung jawab moral. “Ini bukan hanya tentang institusi, tetapi tentang menyelamatkan anak-anak Aceh dari kehancuran yang sunyi. Hukum harus hadir sebagai pelindung, bukan sekadar penonton,” ujarnya.
Lebih jauh, Isa Alima yang juga Ketua Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh ini berharap kepemimpinan Brigjen Dedy mampu membangun sinergi luas: dengan pemerintah daerah, ulama, tokoh adat, akademisi, dan masyarakat akar rumput.
Menurutnya, perang melawan narkotika tidak akan menang jika hanya mengandalkan pendekatan struktural tanpa sentuhan kultural.
“Aceh punya kearifan lokal, punya nilai agama yang kuat. Jika ini dirajut dengan penegakan hukum yang tegas dan bersih, maka harapan itu bukan mimpi,” tambahnya.
Penunjukan Brigjen Dedy Tabrani sebagai Kepala BNNP Aceh juga dipandang sebagai bentuk kepercayaan negara kepada putra Indonesia berdarah Aceh. Sebuah pesan halus namun penting: bahwa anak daerah mampu, layak, dan dipercaya memikul tanggung jawab besar untuk bangsanya.
Hari ini, Aceh tidak menuntut janji berlapis kata. Aceh hanya menunggu kerja yang jujur, langkah yang tegas, dan keberanian menjaga hukum tetap tegak meski angin kepentingan datang dari segala arah.
Dan di pundak Brigjen Dedy Tabrani, harapan itu kini disematkan setenang doa, setajam tanggung jawab, dan setulus pengabdian untuk negeri.



