ACEH TENGAH, Infoaceh.net — Empat puluh hari pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah pada 26 November 2025, sebanyak 30 desa masih terisolasi hingga 4 Januari 2026.
Warga di sejumlah wilayah terpaksa berjalan kaki menembus medan berat untuk mengakses desa tetangga dan pusat pelayanan dasar.
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga mengungkapkan dari puluhan desa tersebut, tiga desa masih sangat sulit dijangkau kendaraan, yakni Desa Serule, Atu Payung, dan Jamur Konyel di Kecamatan Bintang.
Menurut Haili, keterisolasian puluhan desa tersebut disebabkan kerusakan parah akses jalan darat dan jembatan akibat bencana banjir bandang dan longsor.
Sejumlah jembatan putus dan hanya digantikan dengan sling manual swadaya masyarakat, yang dinilai sangat berbahaya.
“Jembatan putus ini hanya diganti sling menggunakan kabel seadanya. Itu jelas belum profesional dan sangat berisiko. Tapi bagi masyarakat, yang penting mereka bisa hidup dan beraktivitas,” katanya.
Sling-sling darurat tersebut kini menjadi satu-satunya akses warga untuk mengangkut hasil pertanian.
Komoditas unggulan seperti cabai, durian, kopi, hingga beras harus dipanggul dan diseberangkan menggunakan sling di atas sungai berarus deras dan berbatu.
“Setiap hari mereka mengangkut hasil panen dengan cara itu. Ini kondisi yang sangat memprihatinkan,” tambahnya.
Nyawa Ekonomi Bertumpu pada Sling Sungai
Kondisi darurat tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Aceh Tengah saat meninjau pengungsian warga Kampung Bintang Pepara di SMP Negeri 32 Ketol, Sabtu (3/1/2026).
Dalam kunjungan itu, Haili Yoga bahkan menyeberangi sungai menggunakan sling untuk merasakan langsung kesulitan masyarakat.
“Ada enam titik sling yang digunakan masyarakat saat ini. Semuanya tidak layak dan masih manual. Ini butuh perlakuan khusus dan harus segera ditangani,” tegasnya.
Sling tersebut menjadi urat nadi kehidupan bagi warga dari sejumlah desa seperti Kekuyang, Burlah, Bintang Pepara, dan Buge Ara, setelah badan jalan dan jembatan utama longsor diterjang banjir bandang.
“Semua hasil bumi lewat sini. Bahkan bantuan logistik juga harus diseberangkan dengan sling. Memang ada bantuan helikopter, tapi kalau akses darat bisa diperkuat, tentu jauh lebih baik,” ujarnya.
Gunawan, warga Desa Kekuyang yang sehari-hari bertugas menarik sling, mengaku kondisi alat yang digunakan sangat rawan.
“Kabelnya kecil dan cepat rusak. Kadang seminggu sudah putus. Tadi juga sempat ada yang jatuh,” ungkapnya.
Minta Perlakuan Khusus dari Pemerintah Pusat
Bupati Aceh Tengah menegaskan bahwa persoalan keterisolasian desa dan kondisi sling darurat telah disampaikan langsung kepada Presiden dan para menteri terkait.
Ia meminta adanya perlakuan khusus bagi Aceh Tengah mengingat pembangunan jembatan permanen membutuhkan waktu lama.
“Kami mohon solusi cepat, minimal jembatan gantung standar keselamatan tinggi. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi keselamatan dan kemanusiaan,” tegas Haili Yoga.
Ia juga mengungkapkan Kecamatan Rusip menjadi wilayah paling ekstrem untuk diakses, sehingga sebagian besar warganya meminta direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah berharap dukungan penuh pemerintah pusat agar akses penyeberangan sementara yang aman segera direalisasikan, sehingga roda ekonomi masyarakat tetap berjalan dan risiko kecelakaan dapat diminimalkan sembari menunggu pemulihan infrastruktur permanen.



