Aceh Tamiang, Infoaceh.net — Hari pertama masuk sekolah semester II Tahun Pelajaran 2025/2026 di sejumlah wilayah Aceh yang terdampak bencana banjir bandang dan longsor berlangsung dalam kondisi yang jauh dari kata normal.
Tanpa seragam, tanpa sepatu, tanpa meja dan kursi bahkan tanpa ruang kelas yang layak bahkan tak sedikit yang belajar di bawah tenda-tenda darurat, ribuan siswa tetap kembali ke sekolah dengan semangat yang tak surut.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, hingga beberapa daerah lainnya, aktivitas belajar mengajar dimulai di tengah sisa-sisa bencana.
Lumpur masih menempel di dinding sekolah, halaman belum sepenuhnya bersih, dan sebagian bangunan masih belum bisa digunakan.
Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan tekad para siswa dan guru untuk kembali menata masa depan melalui pendidikan.
Di banyak sekolah terdampak, tenda darurat menjadi ruang kelas sementara. Lantai tanah atau terpal menggantikan bangku sekolah, sementara papan tulis seadanya dipasang untuk menunjang proses belajar.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti yang meninjau pelaksanaan hari pertama sekolah di Aceh Tamiang menyampaikan rasa haru dan optimismenya melihat semangat para siswa.
“Alhamdulillah. Hari ini upacara bendera, Senam Anak Indonesia Hebat (SAIH), dan Pagi Ceria dapat dilaksanakan di SMA Negeri 4 Aceh Tamiang. Kegiatan ini menandai hari pertama pembelajaran semester II Tahun Pelajaran 2025/2026,” ujar Mu’ti, Senin (5/1).
Ia menyebutkan, lebih dari 95 persen sekolah di Aceh telah siap melaksanakan kegiatan pembelajaran, meskipun sebagian di antaranya masih menghadapi keterbatasan sarana, termasuk siswa yang belum mengenakan seragam dan harus belajar sambil duduk di lantai.
“Melihat semangat para murid, saya sangat terharu dan optimistis dengan masa depan pendidikan di Aceh,” kata Mu’ti.
Belajar di Tenda, Sekolah Masih Tertimbun Lumpur
Kondisi memprihatinkan terlihat di SMA Negeri 2 Meureudu, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Sekolah tersebut hingga kini belum dapat digunakan karena tertimbun lumpur banjir bandang yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025.
Pada hari pertama masuk sekolah, para siswa tampak berdatangan tanpa mengenakan seragam putih abu-abu. Sebagian besar juga tidak memakai sepatu dan tidak membawa perlengkapan belajar.
Proses belajar mengajar pun terpaksa dilaksanakan di tenda darurat yang didirikan di sekitar lingkungan sekolah.
Kepala SMA Negeri 2 Meureudu, M. Diah, mengatakan lumpur yang menggenangi sekolah mencapai ketinggian hingga dua meter sehingga bangunan belum bisa difungsikan.
“Mulai hari ini anak-anak sudah kembali bersekolah. Proses belajar mengajar berlangsung di tenda, termasuk aktivitas administrasi sekolah. Semua dilakukan dengan kondisi seadanya,” kata Diah di Pidie Jaya, Senin (5/1), dikutip dari Antara.
Sebelum kegiatan belajar dimulai, para siswa mengikuti upacara bendera yang dipimpin oleh Wakapolres Pidie Jaya Kompol Iswahyudi sebagai pembina upacara. Upacara tersebut juga diikuti para guru dan tenaga kependidikan.
SMA Negeri 2 Meureudu tercatat memiliki 271 siswa dan 55 tenaga pendidik. Hampir seluruh warga sekolah tersebut terdampak langsung banjir bandang, baik rumah maupun perlengkapan pribadi mereka.
Tanpa Paksaan, Seragam Dibebaskan
Diah menegaskan pihak sekolah tidak memaksakan kehadiran siswa mengingat kondisi mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana.
“Kami sudah menyampaikan bahwa proses belajar mengajar dimulai 5 Januari 2026. Namun, kami juga memahami tidak semua anak menerima informasi itu karena alat komunikasi mereka rusak akibat banjir,” ujarnya.
Pihak sekolah juga membebaskan siswa untuk tidak mengenakan seragam sekolah.
“Hampir sebagian besar anak-anak kami sudah tidak memiliki seragam maupun perlengkapan belajar. Banyak yang hilang atau rusak tertimbun lumpur. Karena itu, kami izinkan mereka datang dengan pakaian apa adanya,” kata Diah.
Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus memulihkan kondisi psikologis para siswa yang terdampak bencana.
Harapan dari Tenda Darurat
Salah satu siswa, Nasyila Fonna, siswi kelas X-A SMA Negeri 2 Meureudu, mengaku tetap datang ke sekolah setelah menerima pemberitahuan dari guru.
Ia berangkat dengan pakaian biasa tanpa membawa buku maupun alat tulis.
“Seragam dan alat belajar semuanya tidak bisa digunakan lagi karena banjir. Tapi saya ingin tetap sekolah. Saya berharap kegiatan belajar bisa segera normal seperti biasa supaya tidak tertinggal pelajaran,” ujar Nasyila.
Kisah Nasyila mencerminkan semangat ribuan siswa Aceh yang hari ini memulai kembali langkah mereka di tengah keterbatasan.
Meski belajar di tenda, tanpa seragam dan sepatu, sekolah tetap menjadi ruang harapan—tempat anak-anak Aceh bertahan, bangkit, dan menata masa depan setelah bencana.



