Jakarta, Infoaceh.net — Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak angkat bicara terkait polemik hilangnya baut jembatan bailey di Kabupaten Bireuen dan biaya pembangunan sumur bor di Aceh Rp150 juta.
Polemik tersebut bahkan melahirkan julukan sinis “Jenderal Baut” oleh netizen yang diarahkan kepadanya.
Maruli menegaskan, biaya pembangunan sumur tersebut tidak bisa disamakan dengan sumur rumah tangga biasa.
Menurutnya, sumur yang dibangun TNI AD memiliki kedalaman tertentu, menggunakan material khusus, serta dikerjakan di medan bencana dengan tingkat kesulitan tinggi.
“Kalau yang berpikir sumur itu tinggal gali lalu jadi, ya itu otaknya memang sebaut,” kata Maruli dengan nada tegas saat memberikan keterangan pada Rabu, 7 Januari 2026.
KSAD menilai kritik yang disampaikan sebagian pihak tidak dilandasi pemahaman terhadap kondisi lapangan dan kompleksitas pekerjaan infrastruktur darurat.
Ia secara khusus menolak julukan “Jenderal Baut” yang belakangan ramai di media sosial.
Menurut Maruli, kritik adalah hal wajar dan diperlukan dalam demokrasi. Namun, ia menekankan bahwa kritik seharusnya disampaikan secara konstruktif dan berdasarkan fakta, bukan asumsi dangkal.
“Saya tidak anti kritik. Tapi jangan seolah-olah yang tidak turun ke lapangan merasa paling tahu, sementara yang bekerja dianggap selalu salah,” ujarnya.
Maruli, yang juga dikenal terlibat langsung dalam berbagai penanganan bencana, menjelaskan bahwa dirinya mengawasi langsung proses perencanaan dan pelaksanaan bantuan.
Mulai dari pemindahan satuan, pengiriman alat berat dan material melalui jalur laut, hingga pemasangan jembatan darurat di wilayah terdampak.
Ia menyebut, prajurit TNI Angkatan Darat harus bekerja di medan sulit, dengan akses terbatas dan waktu yang mendesak demi memastikan bantuan cepat dirasakan masyarakat.
“Saya ikut mengatur pembelian material khusus, memastikan pemasangan jembatan darurat, dan memastikan fasilitas sementara bisa langsung dipakai warga,” ungkapnya.
Maruli menegaskan dirinya tidak merasa terganggu dengan berbagai cibiran dan komentar negatif yang beredar. Baginya, yang terpenting adalah hasil kerja nyata dan dampak positif yang langsung dirasakan oleh masyarakat korban bencana.
“Biar saja orang bicara apa. Yang penting rakyat terbantu,” tegasnya.
Ia kembali menyindir pihak-pihak yang gemar mengoreksi tanpa pernah merasakan langsung beratnya kondisi lapangan.
Menurutnya, pemahaman sempit justru terlihat dari mereka yang hanya menilai dari balik meja dan layar gawai.
KSAD memastikan seluruh upaya TNI Angkatan Darat tetap difokuskan pada kepentingan rakyat, terutama mereka yang sedang berada dalam kondisi paling sulit akibat bencana.



