Lhokseumawe, Infoaceh.net — Upaya melestarikan bahasa dan budaya Aceh melalui dunia pendidikan terus dilakukan. Salah satunya diwujudkan oleh Hamdani SPd, guru SMAN 1 Lhokseumawe, yang menerbitkan buku berjudul Bahasa dan Sastra Aceh.
Buku tersebut menjadi referensi penting dalam pembelajaran bahasa daerah sekaligus penguatan identitas budaya generasi muda Aceh.
Terbit melalui Penerbit PeNA Banda Aceh dan telah mengantongi ISBN, buku ini secara resmi tercatat sebagai bagian dari literatur nasional.
Kehadirannya memperkaya koleksi bacaan bertema Aceh yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar, pendidik, maupun masyarakat umum.
Hamdani mengungkapkan, penulisan buku ini berangkat dari keprihatinannya melihat semakin jarangnya bahasa Aceh digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda.
Melalui buku ini, ia berharap bahasa Aceh tetap hidup dan diwariskan secara berkelanjutan melalui pendidikan formal.
“Bahasa adalah jati diri suatu bangsa. Jika bahasa hilang, maka identitas juga akan memudar. Sastra menjadi saksi dan cermin peradaban masyarakat,” tutur Hamdani, Sabtu (10/1).
Secara substansi, buku Bahasa dan Sastra Aceh memuat pembahasan tata bahasa Aceh, sastra Aceh klasik dan modern seperti pantun dan hikayat, kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, serta adat dan budaya Aceh yang masih dipraktikkan hingga saat ini, termasuk tradisi dan kuliner khas.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Kota Lhokseumawe Supriariadi SPd MPd menyampaikan apresiasinya atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya Hamdani sebagai bentuk nyata kontribusi guru dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah tantangan globalisasi.
“Buku Bahasa dan Sastra Aceh sangat relevan sebagai bahan ajar kearifan lokal. Selain melestarikan bahasa daerah, buku ini juga menanamkan nilai-nilai budaya Aceh seperti religiusitas, adat istiadat, kebersamaan, serta kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Supriariadi.
Menurut Supriariadi, materi yang disajikan dalam buku ini bersifat kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik, sehingga memudahkan proses pembelajaran dan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah.
Pihak Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Lhokseumawe bersama Bidang Kurikulum SMAN 1 Lhokseumawe menyatakan dukungan penuh terhadap pemanfaatan buku ini sebagai bahan ajar di sekolah.
Hal tersebut sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran berbasis potensi dan kearifan lokal.
Dengan terbitnya buku ini, Hamdani diharapkan dapat menginspirasi guru-guru lainnya untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam pelestarian budaya Aceh melalui jalur pendidikan.



