Ekonomi

Harga Barang-Jasa Naik, Aceh Inflasi 6,69 Persen Januari 2026

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Kenaikan harga barang dan jasa memicu inflasi Provinsi Aceh pada Januari 2026 mencapai 6,69 persen secara year on year (y-on-y).
Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat, lonjakan inflasi tersebut dipicu oleh sejumlah komoditas strategis, mulai dari tarif listrik, beras, hingga emas perhiasan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamuddin, Senin (2/2/2026), menjelaskan berdasarkan pemantauan di lima kabupaten/kota, Indeks Harga Konsumen (IHK) Aceh meningkat dari 107,07 pada Januari 2025 menjadi 114,23 pada Januari 2026.
Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 8,60 persen dengan IHK 117,80, sementara inflasi terendah tercatat di Meulaboh sebesar 5,55 persen dengan IHK 114,15.
BPS Aceh mencatat 10 komoditas utama yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y Januari 2026, yakni: tarif listrik, emas perhiasan, beras, nasi dengan lauk, sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, ikan bandeng/ikan bolu, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, sigaret kretek tangan (SKT), serta bahan bakar rumah tangga.
Sementara itu, 10 komoditas yang menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi y-on-y, antara lain: cabai merah, kentang, cabai hijau, biaya sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah pertama (SMP), bawang putih, baju muslim wanita, tomat, wortel, dan mainan anak.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), Aceh justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026. Deflasi m-to-m ini terutama disumbang oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan.
Adapun 10 komoditas penyumbang deflasi m-to-m, yaitu: telur ayam ras, cabai merah, beras, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, kentang, tomat, wortel, ikan dencis dan cabai hijau.
Sedangkan komoditas yang justru mendorong inflasi m-to-m, antara lain: nasi dengan lauk, emas perhiasan, daging ayam ras, cabai rawit, mie, udang basah, bakso siap santap, sigaret kretek tangan (SKT), jasa tukang bukan mandor, serta ikan bandeng/ikan bolu.
Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi y-on-y Januari 2026 terutama disumbang oleh: makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,46 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,88 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,06 persen,
penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,92 persen, transportasi sebesar 0,16 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 0,10 persen, kesehatan sebesar 0,06 persen, perlengkapan rumah tangga sebesar 0,03 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,01 persen, sementara pendidikan tercatat 0,00 persen.
Khusus kelompok makanan, minuman dan tembakau, pada Januari 2026 tercatat mengalami inflasi y-on-y sebesar 6,42 persen, dengan indeks meningkat dari 113,99 menjadi 121,31.
Inflasi tertinggi di kelompok ini terjadi pada subkelompok rokok dan tembakau sebesar 7,81 persen, sementara inflasi terendah pada minuman non-alkohol sebesar 1,10 persen.
Kelompok ini memberikan andil inflasi y-on-y terbesar, yakni 2,46 persen, dengan komoditas penyumbang utama antara lain: beras (0,85 persen), sigaret kretek mesin/SKM (0,25 persen), daging ayam ras (0,23 persen), ikan bandeng/ikan bolu (0,21 persen), ikan tongkol/ambu-ambu (0,18 persen), sigaret kretek tangan/SKT (0,14 persen), ikan dencis (0,11 persen), minyak goreng (0,10 persen), cabai rawit (0,08 persen).
Sebaliknya, komoditas yang menahan inflasi di kelompok ini adalah cabai merah dengan andil deflasi sebesar 0,35 persen, diikuti kentang (0,05 persen) dan cabai hijau (0,03 persen).
BPS Aceh menilai, dominasi komoditas pangan, energi, dan rokok sebagai penyumbang inflasi menunjukkan pentingnya langkah pengendalian harga dan penguatan pasokan untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat Aceh ke depan.

Beri Komentar

Artikel Terkait