Oleh: TA Sakti*
Tradisi sering kali menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia menyimpan kenangan kolektif, nilai kebersamaan dan identitas suatu masyarakat.
Salah satu tradisi yang sarat makna di Aceh adalah Toet Leumang, budaya memanggang lemang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Beberapa malam lalu, saat berada di sumur, kenangan tentang tradisi ini kembali mengemuka.
Pada era 1960-an, khususnya di wilayah Pidie, Toet Leumang merupakan pemandangan yang amat lumrah. Hampir setiap rumah tangga terlibat dalam proses persiapannya.
Anak-anak lelaki berkeliling kebun kelapa mengumpulkan bahan bakar: buah kelapa kering, pelepah, seludang, hingga batok kelapa. Semua ditumpuk dan dikeringkan, lalu diangkut bersama-sama menjelang hari pelaksanaan.
Keceriaan anak-anak yang memanggul kayu bakar seolah menjadi pembuka aroma lemang yang segera dipanggang.
Lemang dimasak di halaman Rumoh Aceh, menggunakan bambu yang diisi beras ketan bercampur santan dan bumbu sederhana. Ujung bambu ditutup daun pisang muda, kemudian disandarkan pada pelepah aren di atas bara api.
Seusai salat Asar, suasana dapur lemang dipenuhi gelak tawa. Anak-anak berkumpul, menunggu dengan penuh antusias saat lemang matang.
Kini, di Pidie, tradisi berlemang di rumah tangga kian jarang terdengar. Lemang lebih banyak hadir sebagai komoditas pasar pada Hari Meugang.
Dari sejumlah percakapan dengan kenalan yang berasal dari berbagai kabupaten di Aceh, tampak bahwa praktik Toet Leumang tidak merata di seluruh wilayah. Di Aceh Utara dan Aceh Timur, misalnya, tradisi ini tidak dikenal luas.
Sebaliknya, kawasan Barsela—Aceh Barat dan Aceh Selatan—justru dikenal sebagai benteng pelestarian budaya Toet Leumang.
Di Bakongan, Aceh Selatan, persiapan Makmeugang bahkan dapat dimulai jauh hari sebelumnya. Sementara di Blangpidie, Aceh Barat Daya, lemang pernah menjadi pusat kenduri kampung.
Kaum lelaki naik ke gunung mencari kayu bakar, lalu seluruh keluarga terlibat mengangkut dan menyiapkannya. Proses memasak lemang menjadi perayaan sosial yang menghapus lelah dengan kegembiraan bersama.
Meski skala pelaksanaannya kini menyusut, tradisi itu belum sepenuhnya hilang.
Di beberapa daerah seperti Nagan Raya, Toet Leumang masih bertahan berdampingan dengan tradisi kenduri Meugang.
Kehadiran tokoh agama kampung yang memenuhi undangan warga menambah dimensi spiritual dan sosial pada perayaan tersebut.
Menariknya, perubahan zaman turut menggeser posisi lemang. Di sejumlah tempat, hidangan ini mulai tergantikan oleh ketupat.
Namun, esensi Toet Leumang bukan semata pada makanan yang dihasilkan. Ia adalah simbol gotong royong, kegembiraan kolektif, dan kesiapan spiritual menyambut Ramadan.
Di tengah arus modernisasi, pelestarian tradisi seperti Toet Leumang menjadi penting. Bukan untuk menolak perubahan, melainkan untuk menjaga akar budaya yang membentuk jati diri masyarakat Aceh.
Tradisi ini mengajarkan bahwa menyambut bulan suci bukan hanya urusan ritual pribadi, tetapi juga momentum mempererat ikatan sosial.
Toet Leumang adalah cerita tentang api yang dinyalakan bersama, tentang bambu yang disandarkan dengan sabar, dan tentang anak-anak yang menunggu dengan mata berbinar.
Selama kenangan itu masih hidup dan terus diceritakan, tradisi ini sesungguhnya belum pernah benar-benar padam.
*Penulis adalah peminat budaya Aceh.





















