Aceh

Ramadhan Tiba, Puluhan Ribu Korban Banjir Aceh Jalani Puasa di Tenda Pengungsian

Pidie Jaya, Infoaceh.net — Tiga bulan sudah sejak banjir bandang dan longsor menghantam Aceh pada akhir November 2025.

Namun bagi puluhan ribu warga korban banjir di sejumlah kabupaten luka itu belum juga kering seperti di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen, Bener Meriah dan Aceh Tengah.

ADVERTISEMENT
Lapor SPT Coretax 2026 Iklan Online

Ramadan sudah tiba, namun bagi korban banjir di Aceh, bulan suci ini harus dilalui dalam kondisi prihatin. Tak kunjung menerima hunian sementara (Huntara), para penyintas menjalani ibadah Ramadan di balik tenda pengungsian.

Ramadan tahun ini bukan disambut dengan suka cita, melainkan dalam tenda pengungsian dan rumah-rumah yang masih terkubur lumpur.

ADVERTISEMENT
Iklan Bank Aceh Syariah Menyambut Hari Pers Nasional

Di Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Kepala Desa Abdul Halim Ishak tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kondisi warganya.

“Hampir tiga bulan, masih lumpuh total. Rumah tertimbun lumpur, sawah hancur. Saya saja kalau pulang ke rumah menangis,” ujarnya dengan suara bergetar, Kamis (19/2/2026).

Sekitar 500 jiwa atau 150 kepala keluarga masih bertahan di lokasi pengungsian yang berada di kawasan meunasah desa. Tidak satu pun warga berani kembali ke rumah karena material lumpur tebal masih memenuhi bangunan.

Sebagian warga mencoba membersihkan secara mandiri, namun hanya sebatas halaman. Bagian dalam rumah masih tertutup lumpur yang mengeras.

Akses jalan utama memang sempat dibuka menggunakan alat berat, tetapi kini berubah menyerupai aliran sungai kecil.

Galian sedalam dua hingga tiga meter membuat air menggenang setiap kali hujan turun.

“Kami bosan di pengungsian. Lebih enak di rumah sendiri. Tapi huntara belum siap,” kata Abdul.

Memasuki Ramadan 1447 Hijriah, warga berusaha tetap tegar. Mereka masih bisa melaksanakan salat tarawih di meunasah yang tak jauh dari tenda pengungsian. Namun suasananya jelas berbeda.

Kebutuhan logistik dasar masih relatif mencukupi. Yang paling mendesak saat ini adalah penanak nasi. Dari kebutuhan sekitar 300 unit, baru tersedia 45 unit.

“Kalau ada yang bisa membantu rice cooker untuk warga kami, kami sangat berharap,” ujarnya.

Abdul juga berharap perhatian dari pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto, untuk membantu biaya hidup warga yang kehilangan mata pencaharian. Mayoritas penduduk adalah petani, dan seluruh lahan pertanian kini tertimbun lumpur.

Selain bantuan ekonomi, warga mendesak normalisasi Sungai Krueng Meureudu yang dangkal dan kerap meluap saat hujan deras.

Di Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya, Arini Amalia mengaku tradisi meugang menjelang Ramadan tahun ini terasa hambar.

“Biasanya seminggu sebelum puasa, pasar ramai beli daging. Sekarang sepi,” katanya.

Jika dulu keluarganya mampu membeli dua kilogram daging, kini satu kilogram pun terasa berat. Bantuan pangan disebut sudah berkurang, sementara janji bantuan jaminan hidup Rp15.000 per orang belum juga diterima.

Rumah Arini dan neneknya yang berusia 80 tahun masih tertimbun lumpur setinggi pinggang. Untuk membersihkan, mereka membutuhkan ekskavator dengan biaya sekitar Rp3 juta per hari—angka yang mustahil dijangkau.

Air bersih pun menjadi persoalan. PDAM belum beroperasi, air sumur keruh, dan warga harus mengangkut air dari mobil tangki sejauh dua kilometer. Banyak yang akhirnya mengandalkan air hujan.

“Kalau hujan, antara senang dan takut. Senang karena ada air bersih, takut karena trauma banjir lagi,” ucapnya.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi tak jauh berbeda. Desrina Akmalia menggambarkan lingkungannya seperti wilayah yang baru saja dibombardir.

“Debu dari lumpur kering naik kalau panas. Kami pakai masker dua lapis. Rindu lihat hijau dan langit biru,” katanya.

Rumahnya rusak berat—dinding retak, pintu jebol, plafon hancur. Ia dan keluarga memilih tinggal di rumah meski nyaris tak layak huni karena kondisi tenda pengungsian yang panas dan becek.

Rizqi Shafriyaldi, warga lainnya, mengaku belum menerima bantuan perbaikan rumah meski sudah didata. Ia memilih bangkit sendiri dengan bekerja membersihkan rumah orang lain dan memulai kembali usaha kecilnya.

“Kalau menunggu bantuan, takutnya kami tidak bangkit-bangkit,” katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan pemulihan pascabencana di Sumatera berjalan cepat, dengan ribuan rumah dan infrastruktur telah diperbaiki.

Sementara Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut dana bantuan Rp4,7 triliun telah dicairkan untuk korban di Aceh, Sumut dan Sumbar. Bantuan itu disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana kepada penerima yang telah diverifikasi oleh BPS.

BNPB mencatat jumlah pengungsi di Sumatera per 7 Februari 2026 sebanyak 47.000 orang, turun drastis dari lebih dari satu juta pada Desember 2025.  Dari jumlah tersebut, 38.276 orang berasal dari Aceh.

Meski demikian, bagi warga korban banjir di Aceh, realitas di lapangan masih jauh dari klaim pemulihan cepat.

Lumpur setinggi pinggang, rumah rusak, debu tebal, dan ekonomi yang terhenti menjadi pemandangan sehari-hari.

Ramadan kali ini mereka jalani dengan doa sederhana: bisa kembali ke rumah, hidup normal, dan melihat kampung mereka pulih seperti sediakala.

image_print

Imsakiyah Ramadhan 1447 H

Kota Banda Aceh & Sekitarnya

Harian Aceh Indonesia
Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh
Tanggal Imsak Subuh Dzuhur Ashar Maghrib Isya
Memuat data resmi...

Beri Komentar

Artikel Terkait