BANDA ACEH, Infoaceh.net – SMA Negeri 9 Tunas Bangsa Banda Aceh resmi membuka kegiatan Balee Beut Ramadhan, Selasa (24/2/2026), sebagai bagian dari penguatan literasi Alquran di lingkungan sekolah.
Program ini dilaksanakan untuk mendukung implementasi Peraturan Gubernur Aceh Nomor 7 Tahun 2024 tentang Gerakan Baca Tulis Alquran (GETBA), yang mendorong peningkatan kemampuan baca tulis Alquran bagi peserta didik di Aceh.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK Dinas Pendidikan Aceh, Syarwan Jhoni.
Dalam sambutan dan arahannya, ia menyampaikan apresiasi atas komitmen sekolah dalam memperkuat literasi Alquran di kalangan siswa.
“Dinas Pendidikan Aceh sangat mendukung program literasi Alquran seperti Balee Beut Ramadhan ini. Bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperkuat kecintaan generasi muda terhadap Alquran, sekaligus membangun karakter dan adab siswa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin dan etika selama kegiatan berlangsung. Para siswa diminta fokus mengikuti pembelajaran, tidak membawa handphone atau alat komunikasi ke ruang belajar, serta menerapkan praktik baik “8 Aneuk Aceh Meuadab” dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SMA Negeri 9 Tunas Bangsa Banda Aceh, Zulfikar SE MSi, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah meningkatkan kemampuan baca Alquran siswa selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
“Tahun ini program diikuti 188 siswa dari total 827 siswa dan berlangsung selama 10 hari. Program Balee Beut Ramadhan ini adalah bentuk ikhtiar, usaha dan doa kita bersama untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan berdaya saing, tetapi juga berakhlak mulia serta mampu membaca Alquran dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid,” kata Zulfikar.
Ia menambahkan, peserta program merupakan hasil seleksi tes baca Alquran yang telah dilaksanakan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sebelum Ramadhan.
Para siswa kemudian dikelompokkan berdasarkan tingkat kemahiran, mulai dari Iqra 1 hingga Iqra 6, serta kelompok pembelajaran tajwid.
Secara keseluruhan terdapat 15 kelompok belajar yang terdiri dari 7 kelompok Iqra dan 8 kelompok tajwid.
Untuk menunjang kegiatan, sekolah menghadirkan 15 guru pengajar Iqra dari berbagai unsur dan lembaga pendidikan. Para pengajar telah melalui proses seleksi yang mencakup tes baca Alquran, komitmen, serta praktik mengajar.
“Adapun siswa yang berhasil menamatkan Iqra diberikan kesempatan untuk melanjutkan pembelajaran ke Alquran,” pungkas Zulfikar.


















