Banda Aceh, Infoaceh.net – Al-Qur’an, khususnya Surat Lukman ayat 20, memberikan landasan teologis sekaligus ilmiah tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Di tengah momentum Ramadhan 1447 Hijriah dan refleksi atas banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025, pesan tersebut terasa kian relevan.
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk H Rahmadon Tosari Fauzi MEd PhD, menyebut bahwa ayat tersebut mengandung integrasi iman, ilmu, dan aksi nyata dalam menjaga lingkungan.
“Ketika kita mengejar Proyek Ramadhan dalam bentuk tadarus ayat Qur’aniyah, kita mendapati pelajaran berharga tentang bagaimana iman harus terhubung dengan ilmu dan diwujudkan dalam aksi lingkungan,” ujar Rahmadon, Kamis (26/2).
Dalam Surat Lukman ayat 20, Allah Swt berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu, dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, lahir dan batin?” (QS. Lukman: 20).
Fine-Tuning dan Keseimbangan Alam
Menurut Rahmadon, frasa “menundukkan langit dan bumi” dapat dipahami secara ilmiah sebagai bentuk fine-tuning kosmologis yang memungkinkan kehidupan di bumi.
Ia menjelaskan, atmosfer bumi menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet berbahaya, medan magnet melindungi dari paparan angin matahari, dan konstanta gravitasi berada dalam presisi tertentu sehingga orbit tetap stabil.
“Semua ini menunjukkan keseimbangan fisika, kimia, dan biologi sebagai prasyarat ontologis kehidupan,” jelasnya.
Nikmat lahir, lanjutnya, bukan hanya udara dan air, tetapi juga sistem kompleks seperti siklus hidrologi global yang menjaga distribusi air di bumi.
Sementara nikmat batin tercermin dalam kapasitas akal manusia, termasuk neuroplastisitas otak, yang memungkinkan kesadaran etis dan refleksi rasional.
Artinya, manusia bukan sekadar penerima nikmat, tetapi subjek moral yang memikul tanggung jawab.
Banjir Aceh 2025 sebagai Alarm
Rahmadon kemudian mengaitkan ayat tersebut dengan banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera pada 26 November 2025. Daerah seperti Aceh Tamiang, Tapanuli Utara, dan Agam mengalami curah hujan ekstrem yang diperparah oleh kerusakan daerah aliran sungai (DAS) akibat deforestasi.
Ia menegaskan, hilangnya tutupan hutan secara signifikan meningkatkan limpasan permukaan (surface runoff) dan memperparah erosi tanah.
“Ketika hutan di hulu rusak, hujan yang semula nikmat berubah menjadi bencana hidrometeorologi. Ini bukan sekadar faktor cuaca, tetapi gangguan antropogenik terhadap keseimbangan alam yang telah Allah tundukkan untuk kemaslahatan manusia,” tegasnya.
Dalam pandangannya, bencana tersebut bukan “hukuman ilahi”, melainkan alarm ekologis atas kelalaian manusia dalam menjaga sistem penyangga kehidupan.
Kritik Mentalitas Saling Menyalahkan
Rahmadon juga mengkritik kecenderungan menyalahkan cuaca atau pemerintah semata tanpa basis data dan solusi ilmiah. Dalam ayat yang sama, terdapat peringatan terhadap orang yang membantah tanpa pengetahuan.
“Sikap blame-shifting tanpa solusi berbasis data, seperti restorasi ekosistem DAS dan rehabilitasi hutan, adalah bentuk pengabaian terhadap amanah ilmiah,” ujarnya.
Ia menekankan pendekatan spiritual harus berjalan seiring dengan pendekatan sains dan kebijakan publik. Tanpa integrasi keduanya, respons terhadap krisis ekologis akan selalu parsial dan reaktif.
Ramadhan sebagai Momentum Eco-Theology
Dalam momentum Ramadhan, Rahmadon mengajak umat Islam mengoperasionalkan pesan Al-Qur’an melalui integrasi ibadah dan aksi nyata yang ia sebut sebagai praktik eco-theology.
Ia mendorong gerakan sedekah untuk reboisasi, penguatan literasi sains berbasis masjid, serta perencanaan program lingkungan berkelanjutan.
“Ramadhan bukan hanya ritual lapar dan haus. Ini momentum tafakkur yang melahirkan perilaku prolingkungan,” katanya.
Sejumlah langkah konkret yang ia tawarkan antara lain menjadikan waktu sahur sebagai momen refleksi atas nikmat air sekaligus merencanakan sedekah untuk program reboisasi, memanfaatkan tarawih sebagai ruang doa dan penggalangan bantuan bagi korban banjir, serta mengisi i’tikaf dengan penyusunan program kolaboratif penanaman pohon dan rehabilitasi DAS.
Saat berbuka puasa, umat juga diajak berbagi makanan dengan para pengungsi dan keluarga terdampak bencana sebagai bentuk solidaritas sosial.
Rahmadon menegaskan, nikmat lahir dan batin menuntut stewardship ilmiah, bukan ritual kosong.
“Allah Swt telah memudahkan langit dan bumi untuk kita, maka kita pun wajib memudahkan kehidupan saudara-saudara kita. Dari masjid harus lahir gerakan nyata: satu pohon ditanam, satu kehidupan diselamatkan,” tutup Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Aceh tersebut.
Ia berharap, pesan Surat Lukman tidak berhenti sebagai bacaan, melainkan menjadi gerakan kolektif—iman yang berbuah aksi, dan ilmu yang melahirkan solusi.



















