Syariah

Ramadhan Puncak Etos Kerja Muslim, Jangan Bermalas-malasan Saat Puasa

Banda Aceh, Infoaceh.net — Ramadan seharusnya menjadi momentum puncak etos kerja umat Islam, bukan malah dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Pesan itu disampaikan akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Saifuddin A. Rasyid, dalam khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib kampus setempat, Jumat (20/2/2026) bertepatan 2 Ramadhan 1447 Hijriah.

Dalam khutbahnya, Tgk Saifuddin menegaskan bahwa bulan suci adalah waktu paling tepat untuk mengerahkan seluruh potensi diri. Ia mendorong umat agar bekerja dengan semangat penuh, menghasilkan karya monumental, serta mempersembahkan amal terbaik kepada Allah SWT sekaligus memberi manfaat luas bagi sesama.

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

“Ramadhan bukan bulan menurunkan produktivitas. Justru saatnya kita memaksimalkan energi dan amal,” ujarnya.

Baca Juga:  Rektor UIN Ar-Raniry: Masjid Harus Menyatukan, Bukan Memisahkan

Imam Besar Masjid Fathun Qarib itu mengingatkan mahasiswa, dosen, karyawan, pedagang, hingga nelayan agar tidak menjadikan puasa sebagai dalih untuk mengurangi aktivitas. Menurutnya, puasa memang memengaruhi pola metabolisme tubuh, tetapi tidak sampai menghilangkan energi untuk berkarya.

Ia menekankan bahwa energi tidak hanya bersumber dari makanan dan minuman, melainkan juga dari semangat, niat yang lurus, serta pola pikir positif. Dengan niat mempersembahkan hasil terbaik dan mengikuti standar kerja yang baik, kekurangan manusiawi akan disempurnakan oleh Allah SWT.

Mengutip Surat At-Taubah ayat 105, Tgk Saifuddin mengingatkan bahwa setiap amal berada dalam pengawasan Allah dan Rasul-Nya serta akan dimintai pertanggungjawaban.

Baca Juga:  Tiga Golongan Tak Bertemu Rasulullah di Akhirat, Termasuk yang Menghujat Ulama

Ia juga mengimbau umat Islam mengatur waktu dengan bijak. Hindari begadang tanpa manfaat yang berujung pada rasa kantuk di siang hari. “Puasa bukan penyebab malas. Kurang tidur dan lemahnya spirit yang membuat orang tidak produktif,” tegasnya.

Menurutnya, tidur di bulan puasa bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk menjaga kebugaran dalam beribadah dan bekerja. Namun, jika berlebihan hingga melalaikan kewajiban, justru menjadi kerugian.

Ramadan, katanya, harus dijalani dengan semangat, perencanaan waktu yang baik, serta komitmen untuk tetap aktif, kreatif, dan produktif hingga meraih kemenangan di hari fitri.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait