Komunitas

Meriahkan HUT Kemerdekaan RI dengan Tradisi Aceh, MTsN 1 Banda Aceh Gelar Lomba To’et Apam

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Semangat melestarikan budaya dan kearifan lokal Aceh turut mewarnai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 di MTsN 1 Model Banda Aceh.

Salah satu kegiatan yang digelar yakni lomba tradisional To’et Apam, yang berlangsung di lingkungan MTsN 1 Model Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan antarguru, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenalkan sekaligus menjaga keberadaan tradisi kuliner Aceh di tengah perkembangan zaman.

Lomba To’et Apam diikuti para guru MTsN 1 Model Banda Aceh yang terbagi dalam 13 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang peserta, sehingga seluruhnya mencapai sekitar 130 peserta.

Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh semangat dan kekeluargaan. Para peserta tidak hanya dituntut menghasilkan Apam dengan cita rasa yang baik, tetapi juga harus memperhatikan proses pembuatan secara tradisional, kebersihan, penyajian, kekompakan kelompok, serta ketepatan waktu.

Kepala MTsN 1 Model Banda Aceh, Dr Hj Ummiyani SAg MPd mengatakan lomba To’et Apam sengaja dimasukkan dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya Aceh.

Menurutnya, semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan yang bersifat seremonial, tetapi juga dapat diisi dengan menjaga identitas budaya dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan kearifan lokal Aceh. Tradisi seperti To’et Apam merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus terus dikenalkan dan dilestarikan,” ujar Ummiyani didampingi Wakil Kepala Bidang Humas Zahri S.IAN MAP.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan membangun kekompakan di antara para guru dan tenaga kependidikan di lingkungan MTsN 1 Model Banda Aceh.

Menurutnya, keterlibatan guru dalam kegiatan tradisional seperti ini diharapkan dapat memberikan contoh kepada para siswa bahwa menjaga budaya daerah merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.

Dinilai dari Cita Rasa hingga Kekompakan Tim

Untuk menjaga objektivitas perlombaan, panitia melibatkan dewan juri dari eksternal. Salah satu juri yang dipercaya menilai lomba tersebut adalah Ustazah Rahmatillah, Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banda Aceh yang juga merupakan Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Baca Juga:  Raih 6 Trofi, MTsN 1 Banda Aceh Juara Umum Samurai Fest II

Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator yang telah ditetapkan panitia.
Berdasarkan kriteria penilaian dewan juri, total bobot penilaian mencapai 100 persen yang terbagi dalam lima kategori utama.

Kategori pertama adalah cita rasa dan aroma dengan bobot paling besar, yakni 35 persen.

Pada aspek ini, juri menilai kelayakan rasa Apam yang dihasilkan, termasuk rasa gurih dan tingkat keasinan yang pas. Selain itu, kuah tuhe juga harus memiliki cita rasa manis, legit dan santan yang sesuai.

Aroma menjadi bagian penting dalam penilaian. Apam dan kuah tuhe diharapkan memiliki aroma khas pembakaran kuali tanah serta daun pandan sehingga karakter tradisional makanan tersebut tetap terasa.

Kategori kedua adalah tekstur dan keotentikan bentuk dengan bobot 25 persen.
Juri menilai Apam yang dihasilkan harus memiliki karakter berserat atau berpori halus, dengan bagian tepi sedikit renyah sementara bagian tengah tetap lembut atau berspons. Tingkat kematangan juga harus merata dan Apam tidak boleh gosong.

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak sekadar dituntut menghasilkan makanan yang enak, tetapi juga harus mampu mempertahankan karakter Apam tradisional.

Kategori ketiga adalah prosedur dan teknik tradisional dengan bobot 20 persen.

Pada aspek ini, kemampuan peserta dalam menggunakan kuali tanah liat menjadi salah satu perhatian utama.

Peserta juga dinilai dari kemampuan mengatur besaran api serta meracik adonan menggunakan cara-cara tradisional.

Hal tersebut menjadi bagian penting karena lomba To’et Apam tidak hanya menguji hasil akhir, tetapi juga proses dan keterampilan tradisional yang digunakan dalam pembuatannya.

Sementara itu, penyajian dan kebersihan memiliki bobot 10 persen. Penilaian meliputi estetika kebersihan wadah, kerapian area memasak, hingga kreativitas penyajian tanpa menghilangkan unsur tradisional.

Adapun kategori terakhir adalah ketepatan waktu dan kerja sama, juga dengan bobot 10 persen.

Peserta dituntut menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan tepat waktu serta menunjukkan pembagian tugas yang harmonis antaranggota kelompok.
Dengan demikian, lomba tersebut sekaligus menguji kekompakan dan kemampuan bekerja dalam tim.

Ketua Panitia Lomba Reza Fahlevi SPd mengatakan, lomba To’et Apam merupakan salah satu kegiatan yang dirancang untuk memberikan warna berbeda dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di MTsN 1 Model Banda Aceh.

Baca Juga:  FPMI Aceh Perkuat Madrasah Inklusif, 1.060 Peserta dari 23 Kabupaten/Kota Ikuti Bimtek

Menurutnya, kegiatan tradisional tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat masyarakat untuk mengenal makanan dan tradisi lokal Aceh.

To’et Apam, kata dia, memiliki nilai budaya yang tidak hanya terletak pada makanan yang dihasilkan, tetapi juga pada proses pembuatan yang dilakukan secara bersama-sama.

“Ini bukan hanya lomba memasak. Ada nilai kebersamaan, kerja sama, keterampilan, sekaligus upaya melestarikan budaya Aceh,” kata Reza.

Ia menjelaskan, seluruh peserta diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik kelompok masing-masing.

Persaingan berlangsung secara sportif dengan tetap mengedepankan semangat kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar MTsN 1 Model Banda Aceh.

Panitia juga telah menyiapkan hadiah menarik bagi para pemenang sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas, keterampilan, kekompakan dan keberhasilan peserta dalam mengikuti perlombaan.

Wakil Kepala Bidang Humas MTsN 1 Banda Aceh Zahri S.IAN MAP menambahkan, pelaksanaan lomba To’et Apam di tengah rangkaian peringatan kemerdekaan memiliki pesan tersendiri.

Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai momentum mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun generasi yang memiliki rasa bangga terhadap identitas dan budaya daerah.

Di tengah perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi, berbagai tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap dikenal oleh generasi muda.

Karena itu, lingkungan pendidikan dinilai memiliki posisi strategis untuk memperkenalkan kembali budaya lokal kepada peserta didik.

“MTsN 1 Model Banda Aceh melalui Lomba To’et Apam tersebut berupaya menghadirkan budaya Aceh dalam suasana yang lebih dekat dengan warga madrasah,” ujar Zahri.

Keterlibatan para guru juga menjadi bagian penting karena guru bukan hanya berperan sebagai pendidik di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi teladan dalam menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Lomba To’et Apam menjadi perpaduan antara semangat kemerdekaan, kebersamaan dan pelestarian budaya Aceh.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai perlombaan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi salah satu langkah kecil untuk menjaga agar tradisi kuliner dan kearifan lokal Aceh tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Dengan semangat kemerdekaan dan pelestarian budaya, MTsN 1 Model Banda Aceh menunjukkan bahwa memperingati kemerdekaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk merawat warisan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait