Banda Aceh, Infoaceh.net – Di tengah situasi darurat bencana yang melanda berbagai wilayah Aceh, warga kota Banda Aceh menyampaikan keluhan terkait pemadaman listrik yang dinilai tidak adil dan merata.
Dalam komentar di media sosial, masyarakat mempertanyakan mengapa ada lokasi tertentu yang listriknya masih menyala terus menerus, sementara sebagian wilayah lain mengalami pemadaman terus-menerus tanpa jeda.
Warga menilai kondisi ini sangat menyulitkan, terutama karena listrik menjadi kebutuhan penting untuk mencari informasi mengenai anggota keluarga yang terdampak banjir, serta untuk menggerakkan pompa air guna keperluan mandi dan wudhu serta cas HP.
“Kita tahu listrik tidak cukup untuk Banda Aceh, tapi kenapa ada lokasi yang masih hidup, dan ada lokasi yang terus mati? Minimal dibagikan jadwal dan diumumkan pembagian jadwal mati listriknya, sehingga warga bisa menggunakan listrik dengan lebih efektif,” demikian salah satu keluhan warga dalam unggahan tersebut, Ahad (30/10).
Masyarakat meminta PLN Banda Aceh untuk memberikan jadwal pemadaman yang jelas dan berlaku merata. Menurut mereka, meskipun pasokan listrik terbatas, pembagian yang adil setidaknya akan memberi kesempatan minimal 2–3 jam listrik kepada setiap kawasan secara bergiliran.
“Dengan adanya listrik meski hanya 2–3 jam saja secara bergiliran, itu sangat membantu warga Banda Aceh untuk mencari informasi terkait keberadaan keluarganya yang terkena banjir. Selain itu, warga membutuhkan listrik untuk menghidupkan pompa air agar bisa mandi dan berwudhu untuk shalat,” tulis warga dalam unggahan tersebut.
Warga berharap para pihak tersebut dapat memberikan perhatian dan solusi atas kondisi kelistrikan yang terus memburuk sejak banjir melanda wilayah Aceh.
Pemadaman listrik masih terjadi secara sporadis akibat kerusakan jaringan setelah tumbangnya tower transmisi di Bireuen karena diterjang banjir bandang yang berdampak rusaknya pada infrastruktur kelistrikan.
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab, meminta PT PLN (Persero) untuk bertindak adil dalam menerapkan pemadaman listrik bergilir di wilayah Banda Aceh.
Ia menegaskan masyarakat membutuhkan kejelasan mengenai jadwal pemadaman dan pembagian beban listrik yang merata di seluruh kecamatan.
Daniel mengatakan, dalam beberapa hari terakhir keluhan masyarakat meningkat tajam akibat pemadaman yang terjadi mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kondisi ini membuat warga kesulitan menyesuaikan aktivitas, baik di rumah, tempat usaha, maupun fasilitas pelayanan publik.
“PLN harus berlaku adil dalam distribusi listrik. Kalau memang harus dilakukan pemadaman bergilir, maka pastikan merata dan tidak berat sebelah. Yang terpenting, warga harus diberi jadwal yang jelas,” ujar Daniel dalam keterangannya, Ahad (30/11/2025).
Menurutnya, PLN memiliki kewajiban memberikan informasi secara transparan kepada masyarakat, terutama di tengah situasi darurat kelistrikan akibat cuaca ekstrem dan banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh.
Tanpa adanya jadwal resmi, aktivitas warga menjadi terganggu karena mereka tidak dapat mempersiapkan kebutuhan dasar seperti air bersih, peralatan elektronik, maupun kegiatan keagamaan.
Daniel menambahkan sejumlah kawasan di Banda Aceh dilaporkan mengalami pemadaman lebih sering dibandingkan wilayah lain.
“Ini menimbulkan ketidakadilan. Ada daerah yang padam 3–4 kali sehari, sementara kawasan lain hanya sesekali. Ini harus diluruskan,” tegasnya.
Ia mendesak PLN Banda Aceh segera mengumumkan jadwal pemadaman bergilir secara terbuka melalui berbagai kanal resmi, seperti media sosial, situs web, dan melalui koordinasi dengan Pemko Banda Aceh.
“Warga hanya ingin kepastian. Dengan jadwal yang jelas, masyarakat bisa menyiapkan kebutuhan mereka dan tidak lagi cemas kapan listrik mati mendadak,” tutup Daniel.



