ACEH UTARA, Infoaceh.net — Empat puluh enam hari setelah banjir bandang dan longsor melanda Aceh sejak 26 November 2025, kondisi ratusan sekolah di Kabupaten Aceh Utara masih memprihatinkan.
Hingga Senin (12/1/2026), sebanyak 747 sekolah berbagai jenjang pendidikan dilaporkan masih dipenuhi lumpur, menghambat pemulihan aktivitas belajar mengajar.
Dari jumlah tersebut, 132 sekolah merupakan SMA sederajat dan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh serta Kementerian Agama.
Sementara 615 sekolah lainnya berada dalam kewenangan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan tersebar di 27 kecamatan.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh Utara, Jamaluddin, mengatakan ruang-ruang kelas pada umumnya telah dibersihkan agar proses pembelajaran dapat kembali berjalan.
Namun, kondisi lingkungan sekolah dan akses jalan menuju sekolah masih tertutup lumpur tebal.
“Kami fokus membuka kembali ruang kelas supaya anak-anak bisa belajar. Tetapi halaman sekolah, parit, dan jalan menuju sekolah masih belum tertangani sepenuhnya,” ujar Jamaluddin, dikutip dari Kompas.com, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, proses belajar mengajar saat ini dilakukan dengan sistem jam fleksibel, termasuk di lima sekolah yang mengalami kerusakan total.
Untuk sekolah-sekolah tersebut, guru mendatangi siswa di lokasi pengungsian agar kegiatan belajar tidak terhenti.
Menurut Jamaluddin yang juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, data seluruh sekolah terdampak telah disampaikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk ditindaklanjuti dalam proses pembersihan.
“Pembersihan dilakukan bersama TNI, Polri, relawan, dan pemerintah daerah. Namun karena jumlah sekolah sangat banyak dan lokasinya menyebar, tentu butuh waktu,” katanya.
Selain persoalan lumpur, kebutuhan perlengkapan sekolah menjadi masalah serius.
Jamaluddin menyebutkan sekitar 7.000 siswa terdampak banjir kehilangan seragam, sepatu, tas, alat tulis, hingga buku pelajaran.
“Banyak siswa datang ke sekolah tanpa perlengkapan lengkap. Buku pelajaran dan alat peraga juga rusak akibat banjir,” ungkapnya.
Ia mengakui bantuan perlengkapan sekolah sebanyak 900 unit dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI telah diterima.
Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan riil di lapangan.
“Kami terus berkoordinasi dengan Kemendikdasmen dan mengajak semua pihak, baik lembaga pemerintah, swasta, maupun organisasi kemanusiaan dari dalam dan luar negeri, untuk membantu pemulihan pendidikan di Aceh Utara,” pungkas Jamaluddin.



