Ekonomi

Produksi Padi Aceh 2025 Turun 44,77 Ribu Ton, Luas Panen Menyusut 18 Ribu Hektare  

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat produksi padi Aceh sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. 
Berdasarkan Angka Tetap (AT) yang dirilis BPS Aceh, produksi padi pada 2025 tercatat sebesar 1,62 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamuddin, dalam rilis resmi statistik, Senin (2/2/2026).
“Produksi padi Aceh tahun 2025 mengalami penurunan sebesar 44,77 ribu ton GKG atau 2,70 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1,66 juta ton GKG,” ujar Tasdik Ilhamuddin.
Selain produksi, luas panen padi Aceh juga tercatat mengalami penyusutan signifikan. Pada 2025, luas panen padi mencapai 283,18 ribu hektare, turun 18,01 ribu hektare atau 5,98 persen dibandingkan luas panen padi tahun 2024 yang sebesar 301,20 ribu hektare.
Tasdik menjelaskan, penurunan luas panen menjadi faktor utama yang memengaruhi turunnya produksi padi di Aceh.
Berkurangnya areal panen berdampak langsung terhadap volume gabah yang dihasilkan sepanjang tahun.
Lebih lanjut, BPS Aceh mencatat bahwa jika produksi padi tahun 2025 tersebut dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi beras Aceh mencapai 0,93 juta ton. Angka ini juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2025 turun 25,79 ribu ton atau 2,70 persen dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang mencapai 0,96 juta ton,” jelas Tasdik.
Secara bulanan, produksi padi Aceh pada 2025 menunjukkan pola fluktuatif. Puncak produksi terjadi pada Maret dan April, seiring dengan tingginya luas panen pada periode tersebut.
Sebaliknya, produksi terendah tercatat pada Juli, yang juga beriringan dengan minimnya luas panen.
BPS Aceh menegaskan, data luas panen dan produksi padi ini dihimpun melalui Survei Kerangka Sampel Area (KSA) serta Survei Ubinan, yang menjadi metode resmi BPS dalam menghitung produksi padi nasional dan daerah.
“Data ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan strategis sektor pertanian, terutama untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas padi di Aceh,” pungkas Tasdik.

Beri Komentar

Artikel Terkait