Opini

Membangun Generasi Penulis Aceh: Renungan Menyambut Hari Pers Nasional ke-41

Oleh: TA Sakti*

Pembinaan generasi muda merupakan pekerjaan besar yang mencakup banyak bidang, mulai dari pendidikan formal hingga pengembangan kreativitas.

ADVERTISEMENT
Lapor SPT Coretax 2026 Iklan Online

Salah satu bidang yang sering luput dari perhatian adalah pembinaan bakat karang-mengarang. Padahal, kemampuan menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan fondasi penting bagi perkembangan intelektual masyarakat.

Di Aceh, perhatian terhadap pembinaan penulis muda sejak lama terasa belum memadai. Kenyataan ini telah merugikan banyak generasi muda yang sesungguhnya memiliki tunas bakat di dunia tulis-menulis.

ADVERTISEMENT
Iklan Bank Aceh Syariah Menyambut Hari Pers Nasional

Banyak di antara mereka yang berpotensi menjadi penulis, jurnalis atau intelektual publik, tetapi bakat itu tidak mendapat ruang tumbuh yang cukup.

Situasi ini sesungguhnya merupakan pemborosan sumber daya manusia yang bernilai tinggi. Tanpa pembinaan yang berkelanjutan, tanpa simpati, sugesti, dan pengkaderan, kebanyakan tunas muda itu “mati” di tengah jalan—layu sebelum berkembang.

Hanya segelintir yang mampu bertahan melewati rintangan sosial, ekonomi, dan tantangan kehidupan. Mereka yang berhasil itulah yang kemudian muncul sebagai pribadi kreatif Aceh dan melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sungguh disayangkan bahwa dari ribuan calon penulis, hanya sedikit yang sempat muncul ke permukaan.

Dalam konteks menyambut Hari Pers Nasional (HPN) ke-41, refleksi ini menjadi penting: bagaimana kita memastikan agar bakat generasi muda Aceh tidak lagi tercecer dan hilang tanpa sempat berkembang?

Alhamdulillah, dalam beberapa tahun terakhir muncul inisiatif yang memberi harapan. Forum Aceh Menulis (FAMe) di bawah pembinaan Yarmen Dinamika menjadi salah satu ruang penting bagi pembinaan bakat menulis generasi muda.

Forum ini tidak hanya diikuti kaum muda, tetapi juga generasi yang lebih matang, sehingga tercipta dialog lintas usia yang memperkaya pengalaman.

Saya sendiri baru mengikuti FAMe pada pertemuan-pertemuan terakhir. Pengalaman hadir di berbagai pertemuan FAMe menunjukkan bahwa minat menulis di Aceh sebenarnya cukup besar.

Kini cabang FAMe telah tumbuh di berbagai kabupaten/kota. Ini pertanda bahwa kebutuhan akan ruang literasi semakin dirasakan.

Keberadaan forum seperti FAMe membuktikan bahwa pembinaan menulis tidak harus selalu bergantung pada institusi formal.

Komunitas literasi dapat menjadi motor penggerak yang efektif. Namun, agar dampaknya lebih luas, diperlukan dukungan dari berbagai pihak—pemerintah, lembaga pendidikan, media massa, dan masyarakat sipil.

Perjalanan saya di dunia menulis dimulai pada akhir 1970-an melalui rubrik “Bagi Penulis Pemula” di Harian WASPADA, Medan.

Saat itu, mencari buku panduan menulis di Banda Aceh merupakan pekerjaan sulit. Saya belajar dari buku pinjaman dan sedikit sumber yang tersedia. Keterbatasan fasilitas tidak menghalangi semangat untuk terus menulis.

Pelatihan menulis yang saya ikuti pada 1981 di Universitas Syiah Kuala menjadi titik penting dalam perjalanan tersebut. Dari sanalah terbuka kesempatan untuk melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada dengan beasiswa.

Di Yogyakarta, saya seperti menemukan “oase intelektual”. Buku-buku tentang kepenulisan mudah diperoleh, diskusi terbuka luas, dan iklim akademik sangat mendukung.

Saya mengumpulkan puluhan buku dan ratusan kliping tentang teknik menulis. Semua seminar dan diskusi tentang kepenulisan saya hadiri. Aktivitas ini memperluas wawasan sekaligus memperkuat disiplin menulis.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Musibah kecelakaan pada 1985 sempat memadamkan semangat. Banyak koleksi kliping yang terpaksa dimusnahkan.

Meski demikian, minat menulis akhirnya tumbuh kembali. Selama puluhan tahun kemudian, saya terus mengumpulkan buku dan bahan bacaan.

Setelah memasuki masa pensiun, sebagian besar koleksi itu saya hadiahkan kepada berbagai perpustakaan di Aceh.

Harapan saya sederhana: agar generasi berikutnya memiliki akses yang lebih baik terhadap sumber belajar menulis.

Pengalaman pribadi tersebut mengajarkan bahwa kemampuan menulis tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui latihan panjang, lingkungan yang mendukung, dan akses terhadap sumber pengetahuan.

Karena itu, pembinaan literasi tidak bisa diserahkan kepada individu semata. Ia merupakan tanggung jawab bersama.

Media massa memiliki peran strategis dalam hal ini. Rubrik untuk penulis pemula, seperti yang pernah saya alami, dapat menjadi pintu masuk bagi banyak bakat baru.

Sekolah dan perguruan tinggi perlu memperkuat budaya menulis, bukan hanya sebagai tugas akademik, tetapi sebagai sarana ekspresi dan berpikir kritis.

Pemerintah daerah juga dapat berperan melalui program literasi, dukungan terhadap komunitas menulis, serta pengembangan perpustakaan yang hidup.

Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan pusat kegiatan intelektual yang dinamis.

Menyambut Masa Depan Pers dan Penulis Muda

Hari Pers Nasional seharusnya tidak hanya menjadi ajang perayaan seremonial, tetapi juga momentum refleksi. Masa depan pers sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia di bidang literasi.

Tanpa regenerasi penulis yang kuat, pers akan kehilangan daya kritis dan kreativitasnya.

Harapan saya sederhana namun mendasar: semoga di masa mendatang bakat generasi muda Aceh tidak lagi mati berceceran.

Diperlukan sentuhan tangan pihak-pihak yang berkemampuan untuk membina, membimbing, dan membuka jalan bagi mereka.

Keinginan saya untuk mendirikan kursus menulis pada awal 1990-an memang tidak sempat terwujud karena keterbatasan fisik. Namun gagasan itu tetap hidup dalam bentuk renungan dan harapan.

Kini, ketika berbagai komunitas literasi mulai tumbuh, harapan tersebut terasa semakin dekat dengan kenyataan.

Menulis adalah cara manusia meninggalkan jejak pemikiran bagi zamannya. Dengan memperkuat pembinaan penulis muda, kita bukan hanya membangun individu, tetapi juga membangun peradaban.

Dalam semangat Hari Pers Nasional ke-41, mari kita jadikan literasi sebagai gerakan bersama demi masa depan Aceh yang lebih cerdas dan berbudaya.

*Penulis adalah pakar budaya dan sastra Aceh yang aktif menulis

Beri Komentar

Artikel Terkait