Oleh: Muhammad Yasir Yusuf
Ramadhan adalah madrasah ruhani. Ia bukan hanya mendidik individu menjadi muttaqin, tetapi juga membentuk keluarga menjadi sakinah. Namun di tengah kesibukan dunia modern, figur ayah seringkali mengalami “dislokasi peran”.
Ia hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional dan spiritual.
Sebagian ayah tenggelam dalam rutinitas mencari nafkah. Waktu habis di kantor, di perjalanan, atau duduk rapat berjam-jam bersama kolega.
Dalihnya mulia “demi keluarga”. Namun tanpa disadari, anak kehilangan sosok teladan. Ia tumbuh dengan fasilitas, tetapi miskin sentuhan kepemimpinan.
Padahal Allah telah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini bukan hanya perintah menjaga diri, tetapi mandat kepemimpinan ayah dalam keluarga.
Di sisi lain, ada pula ayah yang sangat khusyuk dalam ibadah personal. Masjid menjadi rumah kedua. Qiyam, tilawah dan zikir dijalani dengan penuh kesungguhan.
Namun, ia lupa bahwa pendidikan anak juga bagian dari ibadah. Anak shalat sendiri, ke masjid sendiri, belajar agama sendiri.
Spiritualitas yang individualistik tanpa sentuhan pedagogis berpotensi melahirkan jarak batin antara ayah dengan anak.
Rasulullah SAW bersabda “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kepemimpinan ayah bukan sekadar finansial atau ritual, tetapi edukatif dan keteladanan.
Sungguh miris lagi jika semua peran itu digantikan dengan gadget. “Jangan ganggu ayah sedang baca quran”, ungkapan terlihat benar tapi memendam rasa yang salah dalam keteladanan ayah terhadap anak.
Anak pada hakikatnya merindukan figur ayah yang memimpin dengan cinta. Ia ingin melihat ayah berdiri di depan saat shalat berjamaah di rumah, membimbing doa berbuka, mendengar kisah-kisah dan ibrah dalam kehidupan yang telah dijalani ayah.
Anak ingin tumbuh dalam dekapan yang memberi arah, bukan sekadar aturan.
Pendidikan terbaik bukanlah ceramah panjang, melainkan contoh yang hidup. Setiap nilai kebaikan ditransmisikan melalui praktik, bukan sekadar nasihat.
Ya….Ramadhan menghadirkan momentum rekonsiliasi peran itu. Bulan ini menyediakan ruang kebersamaan yang jarang tersedia di bulan lain.
Waktu berbuka, sahur, tarawih, dan tadarus adalah momen emas membangun kedekatan. Ayah dapat menjadi imam, guru, sekaligus sahabat. Kebersamaan dalam taat melahirkan memori spiritual yang membekas sepanjang hayat.
Saudaraku, ketika anak melihat ayahnya memimpin shalat Maghrib di rumah, lalu duduk bersama anak membaca Al-Qur’an, kita sedang membangun legacy yang jauh lebih berharga daripada harta.
Ketika ayah menggenggam tangan anak menuju masjid, ia sedang menanamkan makna istiqamah. Inilah investasi akhirat yang tak ternilai.
Ramadhan seharusnya mempertemukan kembali ayah dan anak dalam orbit ketakwaan. Bukan hanya ayah yang beribadah, tetapi keluarga yang beribadah bersama. Bukan hanya anak yang disuruh shalat, tetapi ayah yang menjadi teladan shalat.
Menjadi “ayah” di bulan Ramadhan berarti menghadirkan kepemimpinan yang lembut namun tegas, dekat namun mendidik, religius namun penuh cinta.
Sebab pada akhirnya, anak tidak hanya mengingat nasihat ayahnya—ia mengingat bagaimana ayahnya menjalani Ramadhan bersamanya.
Oh…anak-anak yang mulia….maafkan kami sebagai ayah yang belum menjadi yang “terbaik” bagi kalian yang telah lahir dari rahim ibunda yang mulia.



















