Banda Aceh, Infoaceh.net – Kabar menggembirakan datang untuk ibu kota Provinsi Aceh. Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan komitmennya membangun masjid agung dan Islamic Center di Banda Aceh.
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dengan delegasi UEA dan jajaran UIN Ar-Raniry di pendopo wali kota, Ahad (22/2/2026) malam.
Delegasi UEA yang hadir di antaranya Dr Sultan selaku Ketua Yayasan Masjid Raya Syeikh Zayed Solo, Mohamed Alnaqbi perwakilan Mohamed Bin Zayed University for Humanities, serta Abdullehh Blla, imam tarawih asal Maroko.
Sementara dari UIN Ar-Raniry hadir Rektor Prof Dr Mujiburrahman, Koordinator Pusat Kerohanian dan Moderasi Beragama Dr Muqni Affan Abdullah, dan Kepala UPT Pusat Pengembangan Bahasa T Murdani.
Dalam kesempatan itu, Dr Sultan menyampaikan rasa bahagianya dapat berkunjung ke Banda Aceh dengan membawa sejumlah program Ramadan, seperti pembagian sembako dan daging bagi masyarakat.
“Kami juga bahagia mendapat dukungan dari Pemko dan UIN Ar-Raniry,” ujarnya.
Ia turut mengungkapkan keputusan pembangunan masjid dan Islamic Center di Banda Aceh telah mendapat persetujuan dari pemerintah UEA sejak empat bulan lalu.
Inisiasi proyek tersebut, katanya, sudah digagas sejak dua tahun terakhir.
“Setelah penentuan anggaran, kami juga mengharapkan dukungan Pemko Banda Aceh jika ada usulan lokasi selain di UIN Ar-Raniry,” kata Sultan.
Menurutnya, pihak UEA menginginkan tiga alternatif lokasi sebagai cikal bakal pembangunan. Salah satu opsi yang telah ada berada di kawasan UIN Ar-Raniry.
“Kami berharap Pemko Banda Aceh segera melayangkan surat terkait ketersediaan lahan, kategori masjid, dan kapasitas tampung jemaah,” tambahnya.
Wali Kota Illiza menyambut hangat rencana tersebut dan menyatakan rasa syukurnya atas kepercayaan pemerintah UEA kepada Banda Aceh.
“Semoga membawa keberkahan bagi kota kami. Apalagi Banda Aceh saat ini belum memiliki masjid agung yang bisa dikelola oleh pemerintah kota,” ujarnya.
Ia memastikan pemerintah kota siap mendukung penuh, termasuk dalam penyediaan lahan. Salah satu lokasi yang ditawarkan adalah tanah seluas tiga hektare di Kecamatan Meuraxa, kawasan strategis yang juga menjadi destinasi wisata.
Alternatif lain berada di kawasan Lambaro Skep, di atas lahan milik masyarakat yang telah memiliki pertapakan.
“Untuk kepastian dan detailnya akan kami rapatkan lebih lanjut, kemudian segera kami kirimkan suratnya,” kata Illiza.
Menurutnya, kehadiran masjid agung baru nantinya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan penguatan syiar Islam di Banda Aceh.
“Masjid agung yang kami idamkan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi pusat pendidikan bagi umat, menuju kota yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” demikian Illiza Sa’aduddin Djamal.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Sekdako Jalaluddin, Asisten Pemerintahan Keistimewaan dan Kesra Bachtiar, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Faisal, Asisten Administrasi Umum M Nurdin, serta sejumlah kepala bagian di lingkungan Setdako Banda Aceh.



















