Banda Aceh, Infoaceh.net – Umat Islam diingatkan untuk mengedepankan kesabaran, memperbanyak taubat, istighfar serta terus memanjatkan doa kepada Allah SWT dalam menghadapi berbagai ujian keimanan, termasuk ketika berhadapan dengan kebijakan pemimpin zalim yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan umat.
Pesan tersebut disampaikan Imum Chik Masjid Jamik Baitul Jannah, Tgk Saifuddin A. Rasyid, dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hasyimiyah, Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Jum’at (27/2/2026) bertepatan dengan 9 Ramadhan 1447 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Tgk Saifuddin menegaskan Islam tidak menganjurkan umat untuk melawan, mencaci, atau mengejek pemimpin yang sah, meskipun pemimpin tersebut dinilai kurang takut kepada Allah, kurang menyayangi rakyat, atau tidak berpihak kepada kepentingan umat Islam.
Menurutnya, kondisi tersebut harus dipahami sebagai ujian keimanan sekaligus momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.
“Setiap pemimpin yang naik ke tampuk kekuasaan tidak serta merta melenggang begitu saja, tetapi atas kehendak Allah dan juga hasil dari ikhtiar sadar dan sungguh-sungguh manusia,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menambahkan, apabila pemimpin yang dipilih ternyata terjebak pada jalan yang menyimpang dari tuntunan Allah dan berlaku zalim terhadap rakyat, maka umat hendaknya segera beristighfar atas dosa dan kekeliruan masing-masing.
“Allah mengirimkan pemimpin kepada kita sesuai dengan kadar keimanan kita,” katanya.
Tgk Saifuddin juga mengingatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar umat terhindar dari pemimpin yang tidak takut kepada Allah dan tidak menyayangi rakyatnya.
Selain berdoa, ia menekankan pentingnya memilih pemimpin berdasarkan iman dan petunjuk Rasulullah, bukan karena hawa nafsu, kepentingan sesaat, atau pertimbangan duniawi semata.
Mengutip intisari Surah Al-Maidah ayat 51–57, ia menyampaikan umat Islam berkewajiban memilih pemimpin yang beriman, berakhlak mulia, serta tidak berpihak kepada pihak-pihak yang memusuhi Islam.
Dalam konteks kekinian, Tgk Saifuddin turut menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah Indonesia yang dinilainya kontroversial.
Ia menyoroti keputusan pemerintah Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace (BOP) yang dipimpin Presiden Amerika Serikat saat ini, serta penandatanganan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat dalam KTT BOP pada 19 Februari lalu, bertepatan dengan 1 Ramadhan.
Menurutnya, sejumlah kebijakan tersebut dikhawatirkan dapat menekan kepentingan rakyat dan merugikan umat Islam.
Ia menyebut potensi melemahnya dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina serta dampak perjanjian dagang yang dianggap berpotensi memengaruhi kedaulatan ekonomi dan sistem syariah yang telah berlaku.
Ia juga menyoroti kekhawatiran terkait kewajiban membuka pasar lebih luas terhadap produk luar negeri, termasuk produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika tanpa sertifikasi halal, serta kemudahan impor kebutuhan pokok yang dinilai dapat menekan kemandirian ekonomi rakyat.
Dalam khutbahnya, Tgk Saifuddin turut menyinggung sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memberikan tausiyah agar umat bersikap sesuai keyakinan agama dalam menjalankan ajaran Islam.
Namun demikian, ia menekankan bahwa pada akhirnya setiap individu tetap harus mengambil sikap pribadi untuk menjaga diri, keluarga, dan masyarakat dari kemungkaran.
“Ketika negara tidak lagi dapat sepenuhnya diandalkan memberi perlindungan kepada rakyat, maka kita harus lebih cerdas mengelola kehidupan kita, keluarga kita, dan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Di bagian akhir khutbah, Tgk Saifuddin mengajak umat Islam untuk tidak berputus asa. Ia menegaskan bahwa situasi yang dihadapi saat ini merupakan ujian keimanan dan pertolongan Allah senantiasa dekat bagi hamba-Nya yang berharap dan bertawakal kepada-Nya.
“Jangan takut kepada persekongkolan jahat yang direkayasa manusia untuk merusak tatanan agama. Rekayasa Allah pasti lebih sempurna. Wamakaru wamakarallahu wallahu khairul makirin,” tutupnya.
Ia pun mengingatkan jamaah tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak mengikuti kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai syariat dan berpotensi menimbulkan kerusakan di muka bumi. (Sayed M. Husen)



















