Banda Aceh, Infoaceh.net — Bencana banjir besar yang melanda Pulau Sumatra pada penghujung November 2025 tak hanya meninggalkan duka kemanusiaan, tetapi juga menghantam keras sendi ekonomi daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Aceh sebagai wilayah dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi di Indonesia pada Desember 2025, mencapai 3,60 persen.
Angka tersebut jauh di atas rata-rata nasional. Secara nasional, inflasi bulanan Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 109,92.
Namun bagi wilayah terdampak bencana, terutama Aceh, beban hidup masyarakat meningkat tajam akibat terganggunya distribusi barang dan rusaknya lahan pertanian.
Terputusnya rantai pasok, rusaknya infrastruktur, serta lumpuhnya sentra produksi pangan pascabanjir membuat harga kebutuhan pokok sulit dikendalikan. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat yang tengah berjuang memulihkan kehidupan setelah bencana.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan terjadi pembalikan kondisi ekonomi yang cukup drastis di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Ketiga provinsi tersebut sebelumnya sempat mencatat deflasi pada November 2025, namun kembali mengalami lonjakan harga pada Desember pascabencana.
“Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kembali mengalami inflasi pada Desember setelah sempat deflasi di bulan sebelumnya. Sumatra Utara mencatat inflasi bulanan sebesar 1,66 persen, disusul Sumatra Barat 1,48 persen,” ujar Pudji dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).
Kelompok bahan pangan menjadi pemicu utama lonjakan inflasi di wilayah terdampak. Di Aceh, harga beras menjadi penyumbang terbesar inflasi, menambah tekanan bagi masyarakat di tengah proses pemulihan pascabanjir.
Sementara di Sumatra Utara, lonjakan harga cabai rawit mendorong inflasi, sedangkan di Sumatra Barat, bawang merah menjadi komoditas yang paling membebani daya beli warga.
Di saat masyarakat Sumatra bergulat dengan kenaikan harga pangan yang mencekik, kondisi kontras justru terjadi di kawasan timur Indonesia.
Maluku Utara tercatat sebagai provinsi dengan inflasi terendah secara nasional, hanya sebesar 0,05 persen, mencerminkan stabilitas harga yang jauh lebih baik dibanding wilayah barat Indonesia yang dilanda bencana.



