Aceh Tengah, Infoaceh.net – Lubang besar yang terus melebar di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, membuat warga resah. Lokasinya yang berada di area perkebunan dan tak jauh dari jalur lintas desa memunculkan kekhawatiran, apalagi sebagian masyarakat menyebut fenomena itu sebagai “sinkhole”.
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan peristiwa tersebut bukan sinkhole. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa secara geologi kawasan itu tidak tersusun atas batu gamping atau karst yang lazim menjadi pemicu sinkhole.
Menurutnya, wilayah tersebut didominasi endapan piroklastik berupa tufa, material hasil aktivitas vulkanik Gunung Geurendong yang kini tidak aktif. Lapisan tufa ini tergolong muda dan belum mengalami pemadatan sempurna, sehingga strukturnya rapuh dan mudah tererosi.
“Fenomena yang terjadi merupakan longsoran. Lapisan tufanya lemah dan gampang tergerus, sehingga membentuk cekungan yang makin lama makin melebar,” jelas Adrin dalam keterangan tertulis.
Berdasarkan analisis citra satelit sejak 2010, area itu sebelumnya sudah menunjukkan bentuk lembah kecil. Proses erosi yang berlangsung bertahun-tahun membuat lembah tersebut berkembang menjadi lubang besar. Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo pada 2013 diduga turut mempercepat ketidakstabilan lereng akibat getaran yang melemahkan struktur tanah.
Curah hujan tinggi juga memperparah kondisi. Tufa yang menyerap air hingga jenuh akan kehilangan daya ikat dan runtuh. Ditambah lagi, aliran air dari saluran irigasi perkebunan warga mempercepat peresapan ke dalam tanah.
BRIN menyarankan langkah mitigasi segera, seperti pengendalian air permukaan, penetapan zona rawan, dan pemasangan sistem peringatan dini longsor. Warga juga diminta waspada terhadap retakan tanah, amblesan kecil, serta perubahan aliran air di sekitar lokasi.
Penelitian lapangan lanjutan dengan metode geofisika diperlukan guna memastikan struktur bawah permukaan secara detail dan mencegah risiko yang lebih besar.


















