Ekonomi

Uang MBG Aceh Rp7 Triliun Diminta Gunakan Bahan Baku Lokal, Jangan Biarkan Mengalir ke Luar Daerah

BANDA ACEH, Infoaceh.net – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun, menegaskan agar pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh memprioritaskan penggunaan bahan baku lokal.
Ia mengingatkan agar anggaran triliunan rupiah yang digelontorkan pemerintah melalui program tersebut tidak justru mengalir ke luar daerah.
Penegasan itu disampaikan Nasir saat rapat koordinasi penyelenggaraan MBG bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Aceh, Koordinator Wilayah MBG, serta Kepala Satuan Tugas (Satgas) MBG kabupaten/kota, yang berlangsung di Kantor Gubernur Aceh, Kamis (22/1).
Nasir menyebutkan, hingga saat ini ratusan dapur MBG telah terbentuk di berbagai kabupaten/kota di Aceh dan jumlahnya terus bertambah.
Jika seluruh target lebih dari 900 dapur MBG terealisasi, maka diperkirakan sekitar Rp7 triliun anggaran akan beredar melalui program tersebut.
Menurutnya, besarnya anggaran tersebut merupakan peluang strategis untuk menggerakkan perekonomian daerah, khususnya bagi petani, peternak, dan pelaku usaha lokal.
Karena itu, ia meminta agar kebutuhan bahan baku dapur MBG tidak bergantung pada pasokan dari luar Aceh.
“Distribusi memang harus lancar, tetapi yang lebih penting stok bahan baku tersedia di daerah. Jangan sampai uang MBG justru dibelanjakan ke luar Aceh,” tegas Nasir.
Ia menjelaskan, apabila minimal 70 persen kebutuhan bahan baku dapur MBG dibelanjakan di dalam Aceh, maka sekitar Rp5 triliun dana akan berputar di daerah.
Perputaran uang tersebut diyakini akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat hingga penciptaan lapangan kerja.
Untuk mendukung hal tersebut, Nasir meminta pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab memastikan ketersediaan bahan baku di wilayah masing-masing.
Ia juga menginstruksikan dinas teknis terkait, seperti dinas pertanian, perkebunan, dan peternakan, agar aktif mendorong masyarakat meningkatkan produksi.
“Ini bukan cerita kosong. Uangnya sudah ada di MBG. Tinggal bagaimana kita menyiapkan produksinya di daerah,” ujarnya.
Nasir optimistis, dengan pengelolaan yang tepat dan optimalisasi belanja bahan baku lokal, program MBG tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menggerakkan ekonomi daerah serta menekan angka kemiskinan di Aceh.

Beri Komentar

Artikel Terkait