Aceh

Negara Lambat, Sudah Lebih Dua Bulan 91.663 Korban Banjir Aceh Masih Tidur di Tenda Darurat

Banda Aceh, Infoaceh.net — Lebih dari dua bulan pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh pada 26 November 2025, sebanyak 91.663 warga masih mengungsi dan tidur di tenda-tenda darurat.
Mereka belum dapat kembali ke rumah karena tempat tinggalnya hanyut atau rusak berat diterjang banjir bandang, serta dipenuhi lumpur.
Data tersebut disampaikan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera yang mencatat total 111.788 warga terdampak bencana masih berada di pengungsian di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Aceh menjadi provinsi dengan jumlah pengungsi terbanyak.
“Total keseluruhan pengungsi sampai dengan kemarin berjumlah 111.788 orang,” ujar Juru Bicara Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra, Amran, dalam jumpa pers di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).
Amran merinci, jumlah pengungsi di Sumatera Barat mencapai 9.040 orang, di Sumatera Utara sebanyak 11.085 orang, sementara Aceh mencatat angka tertinggi dengan 91.663 pengungsi.
Meski demikian, Amran menyebut jumlah pengungsi di wilayah Sumatera menunjukkan tren penurunan dari waktu ke waktu seiring dengan upaya pemulihan yang terus berjalan.
“Saat ini pengungsi terus berkurang. Harapannya, ke depan seluruh warga terdampak tidak lagi berada di pengungsian,” katanya.
Huntara dan Dana Tunggu Hunian Belum Menjawab Kebutuhan
Dalam kesempatan tersebut, Amran juga memaparkan progres pembangunan Hunian Sementara (Huntara). Dari total rencana 17.231 unit, baru 4.281 unit yang telah rampung dibangun.
Sementara Dana Tunggu Hunian (DTH) tercatat telah disalurkan kepada 5.932 penerima di tiga provinsi terdampak.
Di Aceh, pembangunan Huntara baru mencapai 3.248 unit. Adapun warga terdampak yang memilih skema DTH berjumlah 9.766 orang, namun hingga kini baru 2.559 rekening DTH yang telah diterima masyarakat.
“Proses penyaluran DTH masih terus berjalan. Kami terus meminta pembaruan dan kelengkapan data dari lapangan,” jelas Amran.
Sementara di Sumatera Utara, Huntara yang telah dibangun berjumlah 557 unit dari target 962 unit, dengan 1.168 DTH yang sudah tersalurkan dari 6.550 warga penerima.
Di Sumatera Barat, sebanyak 476 unit Huntara dari rencana 618 unit telah selesai dibangun, sementara 1.685 DTH telah disalurkan dari total 2.004 penerima yang direncanakan.
Sementara itu, Laporan Pantauan Data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi Posko Terpadu Pemerintah Aceh per 28 Januari 2026 menunjukkan skala dampak bencana di Aceh jauh lebih besar.
Bencana tercatat berdampak di 18 kabupaten/kota, 203 kecamatan, dan 3.046 gampong. Jumlah warga terdampak mencapai 670.826 kepala keluarga (KK) atau 2.584.067 jiwa.
Dari jumlah tersebut, tercatat 4.939 orang luka ringan, 456 orang luka berat, 29 orang dinyatakan hilang, serta 562 orang meninggal dunia.
Kondisi pengungsian hingga kini masih memprihatinkan. Tercatat 988 titik pengungsian yang menampung 24.280 KK atau 91.663 jiwa, sebagian besar masih tinggal di tenda-tenda darurat akibat rumah mereka rusak berat atau hilang.
Kerusakan Infrastruktur dan Lahan Capai Ratusan Ribu Unit
Kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum akibat banjir bandang dan longsor juga terbilang masif.
Data Posko Terpadu mencatat kerusakan pada:
Perkantoran 227 unit, Tempat ibadah: 641 unit, Sekolah: 1.204 unit, Pesantren: 738 unit, RS/Puskesmas: 146 unit, Jalan: 2.507 titik dan Jembatan: 599 titik.
Sektor perumahan menjadi yang paling terdampak dengan 218.019 unit rumah, terdiri dari 124.546 rusak ringan, 52.603 rusak sedang, serta 40.870 rusak berat atau hilang.
Tak hanya itu, sektor pertanian dan perikanan juga mengalami kerusakan besar, meliputi 56.652 hektare sawah, 100.377 hektare kebun dan 36.239 hektare tambak.
Hingga kini, warga masih melakukan pembersihan sisa material kayu dan lumpur di rumahnya yang terdampak pascabencana.
Namun, dengan puluhan ribu warga Aceh yang masih bertahan di tenda darurat lebih dari dua bulan setelah bencana, menunjukkan kehadiran negara yang lambat dan Aceh masih jauh dari kata pulih dua bulan lebih pascabencana.

Beri Komentar

Artikel Terkait