Aceh

USK Ingatkan Ancaman Besar Pascabanjir Aceh: Kesehatan, Pangan dan Lingkungan

Banda Aceh, Infoaceh.net — Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh mengingatkan adanya risiko besar yang mengancam kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan lingkungan hidup pascabencana banjir bandang di Aceh apabila proses pemulihan dilakukan secara sektoral, tidak terintegrasi dan setengah-setengah.
Peringatan ini disampaikan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat berbasis pendekatan One Health yang digelar di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Selasa (3/2/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rektor USK Prof Dr Ir Marwan dan diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai instansi, antara lain Dinas Peternakan Aceh, Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan, dan Perikanan (DP2KP) Kota Banda Aceh, Kementerian Pertanian, sejumlah perguruan tinggi di Aceh, serta para praktisi.
Adapun narasumber dalam FGD ini adalah pakar nasional di bidang kesehatan dan lingkungan, yakni Prof Dr drh Srihadi Agungpriyono PhD PAVet(K) dari IPB University serta Prof Dr dr M Yani MKes PKK SpKKLP dari USK.
Dalam sambutannya, Rektor USK menegaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pemulihan pascabencana, termasuk bencana banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Menurutnya, pemulihan tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik dan infrastruktur, melainkan harus menyentuh dimensi sosial, kesehatan, pangan dan lingkungan secara bersamaan.
“Ukuran keberhasilan pemulihan harus berdampak nyata dan selaras dengan target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs),” ujar Prof Marwan.
Ia menjelaskan, pendekatan One Health menjadi sangat relevan dalam konteks pemulihan pascabencana.
One Health merupakan konsep kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan lingkungan, dan kesehatan masyarakat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Pengalaman pandemi COVID-19, lanjutnya, menjadi pelajaran penting tentang bagaimana penyakit dapat berpindah dari hewan ke manusia, dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, dan berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi.
“Kompleksitas persoalan tersebut menegaskan bahwa solusi tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi,” tegas Rektor.
Rektor mengungkapkan, USK telah menginisiasi One Health Collaboration Center (OHCC) sejak 2018. Inisiatif ini berawal dari Fakultas Kedokteran Hewan dan kemudian berkembang menjadi model pembelajaran kolaboratif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran, biologi, keperawatan, dan bidang terkait lainnya.
“Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman lintas sektor dan mampu berkolaborasi dalam kerangka One Health ketika terjun ke masyarakat setelah lulus,” tambahnya.
Sementara Ketua Tim Equity USK Prof Muslim Akmal menjelaskan FGD dan diseminasi ini secara khusus menyoroti tiga target utama SDGs, yakni tanpa kemiskinan (SDG 1), tanpa kelaparan (SDG 2), serta kehidupan sehat dan sejahtera (SDG 3).
Menurutnya, pascabencana banjir, keterkaitan antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kondisi lingkungan menjadi semakin nyata.
Lingkungan yang tercemar berpotensi memicu munculnya berbagai penyakit, ternak yang terdampak banjir dapat mengganggu ketahanan pangan, dan pada akhirnya kesehatan masyarakat pun ikut terancam.
“Karena itu, pemulihan pascabencana tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing sektor. Harus ada pendekatan terintegrasi agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Prof. Muslim berharap, FGD ini tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi mampu melahirkan aksi nyata dari para pemangku kepentingan sesuai dengan peran dan kapasitas masing-masing dalam membantu pemulihan sosial, pangan dan kesehatan masyarakat pascabencana banjir di Aceh.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Equity USK Tahun 2025–2026 yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek).
USK menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan LPDP dan Kemdiktisaintek sehingga program pengabdian kepada masyarakat berbasis pendekatan One Health ini dapat terlaksana dengan baik.

Beri Komentar

Artikel Terkait